Sukses

Apa Saja Isi Museum NFT Pertama di Dunia?

Liputan6.com, Jakarta - Popularitas NFT atau non-fungible token melesat tajam belakangan ini. Bahkan, sebuah museum NFT bernama Seattle NFT Museum (SNFT) menjadi salah satu museum yang begitu dinantikan.

Museum NFT ini didirikan oleh Jennifer Wong dan Peter Hamilton. Museum memiliki luas 3 ribu kaki persegi dan terletak di kawasan Belltown Emerald City. Museum resmi dibuka untuk umum pada 14 Januari 2022 dan dibagi menjadi tiga platform pameran.

Pada setiap platform, pengunjung akan menemukan 30 pajangan yang menampilkan karya seni NFT oleh seniman internasional dan lokal. Para pendiri museum punya alasan sendiri memilih pengaturan yang tidak konvensional.

"Salah satu hal yang mengilhami kami dengan mengunjungi beberapa galeri NFT pertama adalah melihatnya dalam format besar dan merasakan bagaimana rasanya berada di sebuah ruangan, di ruang yang tidak terhubung ke perangkat dan hanya melihatnya pada layar," kata Hamilton, dilansir dari Travel and Leisure, Rabu (19/1/2022).

Ia melanjutkan, ini adalah pengalaman yang sangat berbeda. Bagian lain dari museum disebutnya adalah komunitas, koneksi, dan aspek sosial dari apa yang dapat diberikan.

Kedua pendiri museum ini berharap SNFT akan menarik orang-orang dari semua lapisan masyarakat yang ingin tahu untuk mengalami dan belajar soal NFT. Manajer edukasi akan berada di lokasi museum akan menjawab pertanyaan terkait NFT dan blockchain.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Karya-Karya

Sorotan utama museum saat ini adalah seniman seniman yang berbasis di Los Angeles, Blake Kathryn. Ia hadir dengan karya lanskap 3D futuristiknya dalam warna pastel telah membuatnya menjadi bintang di dunia kripto.

Karya lain dipamerkan adalah avatar CryptoPunks Larva Labs yang sangat populer, Chromie Squiggles Eric Calderon (alias Snowfro), serta karya dari seniman generatif Tyler Hobbs dan beberapa seniman yang berbasis di Seattle, termasuk Neon Saltwater, Robbie Trevino, dan fotografer Charles Peterson yang memiliki " mencetak" foto Nirvana dan Kurt Cobain yang belum pernah dilihat sebelumnya ke dalam NFT.

"Sebelum NFT, seni digital sangat kurang terwakili karena sifatnya yang klik kanan lalu simpan. Begitu banyak seniman ini kurang terwakili dan kurang dihargai," kata Hamilton.

"Kami sangat bersemangat untuk mulai membawa lebih banyak ketenaran kepada jenis seniman tersebut dan fokus pada media mereka, praktik mereka, inspirasi mereka, seperti yang Anda lakukan dengan seorang pelukis, tetapi Anda tahu, dengan kuas digital mereka," lanjutnya.

3 dari 4 halaman

Tentang Museum

Dikutip dari laman Seattle NFT Museum, tiga besar kategori penjualan NFT yang menjadi fokus pertunjukan Seattle NFT Museum adalah koleksi, olah raga, dan seni. Ini dalam upaya menyediakan outlet bagi seniman, pencipta, pemilik IP, dan kolektor untuk menampilkan NFT mereka dalam pengaturan fisik yang sangat kontekstual.

Museum ini buka Kamis--Minggu dari pukul 12.00--17.00 waktu setempat. Harga tiket masuk sendiri 15 dolar AS atau setara Rp215 ribu.

"SNFTM didedikasikan untuk mengejar keberlanjutan. Teknologi yang muncul untuk membuat NFT lebih hemat energi sudah berkembang, dan SNFTM ingin membantu lebih banyak orang mengambil bagian dalam percakapan, mendorong solusi yang lebih inovatif," bunyi keterangan dalam laman itu.

Museum telah mendaftar untuk menandatangani perjanjian The Climate Pledge. Ini adalah sebuah komitmen untuk menjadi nol emisi bersih pada 2040 dan menjadikan Museum NFT Seattle sebagai museum pertama yang bergabung dengan perjanjian tersebut.

4 dari 4 halaman

Infografis Wayang Potehi