Sukses

Tarif Tiket Jelajah Lawang Sewu dan Museum Ambarawa

Liputan6.com, Jakarta - Berwisata ke Semarang, Jawa Tengah kurang lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke salah satu destinasi ikonik, yakni Lawang Sewu. Bangunan yang dinamai seribu pintu ini adalah gedung bersejarah milik PT Kereta Api Indonesia.

KAI Wisata melalui akun Instagram resmi membagikan kabar terkait detail kunjungan, mulai dari tarif tiket hingga jam operasional. Mulai 10 Januari 2022, tiket masuk Lawang Seru seharga Rp20 ribu untuk dewasa, anak-anak Rp10 ribu, dan wisman Rp30 ribu.

Jam operasionalnya Senin--Jumat mulai pukul 08.00--17.00 WIB. Sedangkan setiap akhir pekan atau hari libur buka mulai pukul 08.00--20.00 WIB serta dihadirkan pula live music.

Selain Lawang Sewu, saat ke Jawa Tengah wisatawan juga dapat berwisata ke Museum Ambarawa. Tarif masuk yang ditetapkan untuk tiket kereta api wisata reguler (Museum KA Ambarawa) sebesar Rp100 ribu.

Destinasi wisata sejarah ini buka setiap hari pukul 08.00--16.00 WIB. Sedangkan setiap Sabtu, Minggu, dan tanggal merah ada KA Wisata Reguler, Cho-Cho Train, serta live music.

Untuk berkunjung ke kedua destinasi ini, ada syarat dan ketentuan yang harus dipatuhi pengunjung. Protokol kesehatan wajib untuk dijalankan saat berwisata.

Pengunjung yang berwisata ke Lawang Sewu dan Museum Ambarawa juga wajib menunjukkan buktin vaksin kepada petugas. Sementara untuk anak di bawah 12 tahun diperbolehkan masuk dengan syarat pendamping atau orangtua yang sudah vaksin Covid-19.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Lawang Sewu

Dikutip dari Heritage KAI, Senin (17/1/2022), Lawang Sewu awalnya digunakan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Gedung dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 meter persegi.

Pembangunan gedung utama dimulai pada 27 Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907. Sedangkan bangunan tambahan dibangun sekitar 1916 dan selesai 1918.

Bangunannya dirancang oleh arsitek dari Amsterdam, yakni Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag. Ciri bangunan yang dominan dengan elemen lengkung dan sederhana. Bangunan di desain menyerupai huruf L dan memiliki jumlah jendela dan pintu yang banyak sebagai sistem sirkulasi udara.

Lawang Sewu juga memiliki ornamen kaca patri pabrikan Johannes Lourens Schouten. Kaca patri ini bercerita mengenai kemakmuran dan keindahan Jawa, kekuasaan Belanda atas Semarang dan Batavia, kota maritim serta kejayaan kereta api.

3 dari 4 halaman

Museum Ambarawa

Menurut laman resmi KA Wisata, Museum Kereta Api Indonesia (Indonesian Railway Museum) awalnya adalah sebuah stasiun yang bernama Stasiun Willem I. Stasiun ini dibangun oleh Nedherlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Stasiun diresmikan pada 21 Mei 1873 bersamaan pembukaan lintas Kedungjati-Ambarawa pada 1907. Kini, museum ini menyimpan koleksi perekeretaapian dari masa Hindia Belanda hingga pra-kemerdekaan RI yang meliputi sarana, prasarana dan perlengkapan administrasi.

Koleksi sarana perkeretaapian heritage, meliputi 26 Lokomotif Uap, 4 Lokomotif Diesel, 5 Kereta dan 6 Gerbong dari berbagai daerah. Wisatawan juga dapat menikmati perjalanan wisata dengan menaiki Kereta Api Wisata relasi Ambarawa-Tuntang (pp) dengan lokomotif penarik jenis lokomotif uap maupun kereta diesel vintage.

Terdapat juga rute kereta Api Wisata Ambarawa-Jambu-Bedono (pp) yang menggunakan lokomotif uap bergigi yang melewati rel bergerigi. Rel bergerigi ini satu-satunya yang masih aktif di Indonesia.

4 dari 4 halaman

Infografis: 4 Unsur Wisata Ramah Lingkungan atau Berkelanjutan