Sukses

Riwayat Kopi Cianjur, dari Kasus Korupsi Berujung Pertumpahan Darah hingga Sempat Digilai Orang Eropa

Liputan6.com, Jakarta - Berbicara kopi dalam negeri, asa sebagian orang boleh jadi langsung melambung pada deretan nama seperti Gayo, Lintong, Manggarai, Kintamani, maupun Toraja. Tak sama sekali terpikir bahwa komoditas berpotensi besar tersebut pernah sangat lekat dengan wilayah Cianjur, Jawa Barat.

Lewat Ruang Merdeka bertajuk "Sejarah Kopi di Nusantara" yang disiarkan live di Instagram @merdekadotcom, Kamis sore, 14 Mei 2020, sejarawan Hendi Johari mengatakan, kopi masuk ke Indonesia lewat tangan orang Eropa.

"Saat itu (sekitar awal 1700-an) penjualan kopi sangat menjanjikan, VOC sebagai merek dagang tentu bermaksud menjadikannya sebagai komoditas setelah rempah. Akhirnya, bibit kopi diberikan ke para gubernur di Jawa. Setelah ditanam, semua hasilnya kurang bagus," papar Hendi.

Kemudian, mereka membawa kembali bibit kopi tersebut ke Prancis untuk diteliti lebih lanjut. Ternyata, kegagalan itu disebabkan penanaman bibit kopi di daerah-daerah beriklim panas. "Akhirnya, dibawa lagi (bibit kopi), tapi ditanam di daerah dingin, seperti Bogor dan Cianjur," imbuhnya.

Singkat cerita, kopi yang kemudian dijual di bawah merek Java Coffee tersebut sempat dilelang dan secara kualitas mengalahkan Mocha, kopi asal Yaman juga sangat populer di masa itu.

"Awalnya Java Coffee hanya dijual untuk memenuhi kuota permintaan kopi yang tak bisa diakomodir Mocha. Ternyata, setelah dicoba malah lebih disukai dan akhirnya diburu di mana-mana, terutama pasar Eropa," tutur Hendi.

 

2 dari 4 halaman

Catatan Berdarah

Naik daunnya Java Coffee, nyatanya menimbulkan catatan kelam bagi warga Indonesia. "Petani disuruh nanam ya tinggal nanam saja. Apalagi, saat itu mereka belum tahu itu apa, bernilai berapa. Pembayarannya pun cukup layak dari VOC, senang dong mereka," ucap Hendi.

Usut punya usut, bayaran para petani tak diterima dalam jumlah seharusnya. Pasal, pembayarannya melewati pejabat feodal, di mana kala itu Bupati Cianjur Raden Aria Wira Tanu III kedapatan memotong lima ringgit upah para petani kopi.

Melihat ketidakadilan ini, pemberontakan pun pecah dan berujung kematian sang bupati di tangan rakyatnya sendiri. "VOC langsung ikut campur dan ada koreksi harga kopi di situ untuk meredam konflik. Karena kalau dibiarkan, mereka otomatis kehilangan pemasukan juga karena tak bisa memasarkan Java Coffee," jelas Hendi.

Cerita lain, Java Coffee diklaim secara tak langsung memantik Revolusi Prancis tahun 1789. "Kopi yang saat itu disajikan di kafe-kafe sangat akrab dengan dimensi politik, sosial, dan peperangan. Sangat menarik. Tapi, bagaimana proses sebenarnya memengaruhi Revolusi Prancis itu harus ada penelitian lebih lanjut," kata Hendi.

Konsumsi kopi juga sempat dilarang di sejumlah wilayah di Eropa. Latar belakangnya, pemikiran para agamawan kolot melihat sesuatu yang asing sebagai musuh. Jemaah gereja kala itu mengonsumsi kopi notabene berupa cairan hitam yang diidentikkan dengan minuman para penyihir.

"Buruh di sana bahkan menolak pergi bekerja sebelum minum kopi. Akhirnya bercampur juga dengan ketakutan para penguasa. Peminum kopi punya kebiasaan bicara politik dan sosial akhirnya tak sedikit berujung pemberontakan," ungkapnya.

Java Coffee juga sempat jadi simbol yang digunakan para revolusioner Amerika. Saat itu, persepsi yang dibangun adalah para penjajah biasa minum teh, dan warga memberontak dengan mengonsumsi kopi. 

Karakteristik Java Coffee sendiri tercatat menyebabkan orang lebih bergairah, ngobrol penuh semangat, dan berujung menimbulkan ide-ide cemerlang.

 

3 dari 4 halaman

Kopi Cianjur, Riwayatmu Kini

Bangkrutnya VOC, disusul tak adanya pengambil kekuasaan dengan sistem sebagus yang diterapkan saat berjaya membuat popularitas kopi cianjur konstan turun, bahkan di masa industri kopi sudah tersentuh modernisasi.

"Kondisi tanah juga sudah berbeda, jadi untuk sampai di level premium seperti dulu kiranya sulit. Saya juga kurang tahu apakah pohon kopi asli dari zaman VOC masih ada untuk dibudidayakan," ujar Hendi.

Kendati, pasar kopi yang mulai menjanjikan beberapa tahun belakangan, sambung Hendi, membuat geliat kopi cianjur perlahan merangkak ke permukaan. "Sekarang di kedai kopi di kota Cianjur sudah ada kopi cianjur," ucap Hendi.

"Ketika kopi cianjur disenangi orang Eropa, popularitas itu justru tidak punya manfaat untuk warga. Dengan pasar sekarang, mengapa tak dilakukan praktik serupa hanya saja para petani kopi yang benar diuntungkan?" tandasnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Unik, Potret Kompakan Baju Lebaran Ala Netizen