Liputan6.com, Jakarta - Bacaan doa saat melihat kesuksesan orang lain merupakan amalan sederhana yang mengandung nilai spiritual dan sosial yang mendalam. Dalam Al-Qur'an, syukur diposisikan sebagai lawan dari kufur: kufur berarti menutup diri, sedangkan syukur berarti membuka dan mengakui nikmat.
Ketika seseorang menyaksikan keberhasilan orang lain, respons pertama yang dianjurkan bukanlah membandingkan diri, melainkan mengakui bahwa karunia tersebut berasal dari Allah dan memohon keberkahannya.
Rasulullah SAW memberikan tuntunan yang sangat jelas dalam hal ini. Beliau bersabda, "Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan pada saudaranya, dirinya, atau hartanya, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya, karena sesungguhnya penyakit 'ain itu benar adanya" (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, disahihkan oleh Al-Albani). Hadis ini menjadi landasan bahwa doa bukan sekadar ucapan sopan, melainkan benteng spiritual yang melindungi pemberi dan penerima nikmat.
Advertisement
Doa dalam konteks ini memiliki tiga fungsi sekaligus, yakni menutup pintu hasad, mengakui kekuasaan Allah atas rezeki dan memperkuat ukhuwah. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Silsilah al-Liqa' asy-Syahri menasihatkan, ‘Apabila engkau melihat Allah menganugerahi seorang hamba suatu kenikmatan, berupayalah menempuh sebab agar engkau menjadi sepertinya, dan jangan membenci apa yang Allah karuniakan kepadanya’. Dalam kerangka ini, doa menjadi ungkapan rasa kagum yang sehat dan motivasi untuk berbenah.
Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah bacaan-bacaan doa saat melihat kesuksesan orang lain, sebagai bentuk syukur dan agar dijauhkan dari hasad atau dengki.
Bacaan Doa Saat Melihat Kesuksesan Orang Lain
Berikut adalah beberapa bacaan doa yang dapat diamalkan ketika menyaksikan kesuksesan atau nikmat pada orang lain, lengkap dengan dalil dan penjelasan ulama.
1.doa tabrik (permohonan keberkahan)
Arab: اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَيْهِ
Latin: Allāhumma bārik 'alaih.
Arti: "Ya Allah, berkahilah dia."
Doa ini diriwayatkan dalam Hisnul Muslim sebagai bagian dari azkar ketika melihat sesuatu yang menyenangkan pada saudara seiman, baik berupa harta, anak, maupun keadaan yang baik. Rasulullah SAW menganjurkan agar seseorang yang kagum pada nikmat saudaranya segera mendoakan keberkahan, bukan membiarkan rasa iri bersemayam.
Dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik karya Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin Al-Badr, prinsip ini sejalan dengan pembahasan tentang doa-doa yang menghimpun kebaikan dunia dan akhirat, di mana memohon keberkahan atas nikmat orang lain termasuk bentuk kebaikan yang berdampak pada pelakunya sendiri. Kumpulan Doa Sehari-hari yang diterbitkan Kemenag juga menempatkan doa-doa singkat semacam ini sebagai amalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
2. Doa Permohonan Karunia yang Lebih Baik
Arab: اللّٰهُمَّ زِدْهُ مِنْ فَضْلِكَ وَأَعْطِنِيْ أَفْضَلَ مِنْهُ
Latin: Allāhumma zidhu min faḍlika wa a'thinī afḍala minhu.
Arti: "Ya Allah, tambahkanlah karunia-Mu kepadanya dan berilah aku karunia yang lebih utama darinya."
Doa ini dinukil dari nasihat Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Silsilah al-Liqa' asy-Syahri (rekaman nomor 19B). Beliau menjelaskan bahwa ketika seseorang melihat nikmat pada saudaranya, hendaklah ia berdoa agar nikmat itu ditambah dan ia sendiri diberi karunia yang lebih baik, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa: 32, "Mohonlah kepada Allah bagian dari karunia-Nya".
Doa ini menggabungkan kebaikan untuk orang lain dan permohonan untuk diri sendiri tanpa merendahkan pihak lain.
3. Doa Perlindungan dari Kedengkian
Arab: رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Latin: Rabbanaghfir lanā wa li-ikhwāninā alladzīna sabaqūnā bil-īmāni wa lā taj'al fī qulūbinā ghillan lilladzīna āmanū rabbanā innaka ra'ūfur raḥīm.
Arti: "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang." (QS. Al-Hasyr: 10)
Ayat ini secara eksplisit memohon agar hati dibersihkan dari ghill (kedengkian) terhadap sesama mukmin. Republika mengutip ayat ini sebagai doa yang relevan ketika hati mulai terusik melihat kesuksesan orang lain.
Dalam Jurnal The Power of Syukur, Choirul Mahfud menegaskan bahwa syukur mencakup tiga dimensi, hati, lisan, dan perbuatan, sehingga doa ini merupakan manifestasi syukur tingkat hati yang paling mendasar: menerima bahwa pembagian rezeki adalah prerogatif Allah.
4. Doa ketika Melihat Orang Lain Unggul dalam Kebaikan (misalnya hafal Al-Qur'an)
Arab: لَيْتَنِيْ أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ
Latin: Laitanī ūtītu mitsla mā ūtiya fulānun fa 'amiltu mitsla mā ya'malu.
Arti: "Andaikan aku diberi sesuatu yang telah diberikan kepada fulan, maka aku akan melakukan seperti apa yang ia lakukan."
Doa ini berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar. Nabi SAW bersabda bahwa tidak ada hasad yang disukai kecuali pada dua perkara: seseorang yang diberi pemahaman Al-Qur'an lalu mengamalkannya, dan seseorang yang diberi harta lalu membelanjakannya di jalan kebenaran.
Ucapan "laitanī" dalam hadis ini menunjukkan bahwa rasa kagum boleh menjadi pemicu motivasi, asalkan diarahkan pada amal saleh, bukan pada kebencian terhadap nikmat orang lain.
Hikmah Bacaan Doa Saat Melihat Kesuksesan Orang Lain
Membaca doa ketika melihat orang lain memperoleh kesuksesan atau nikmat memiliki sejumlah hikmah, baik bagi diri sendiri maupun orang yang didoakan. Kebiasaan ini bukan sekadar ungkapan kekaguman, melainkan juga cara menjaga hati agar terhindar dari penyakit hasad, menumbuhkan rasa syukur, dan memohon keberkahan kepada Allah SWT. Berikut lima hikmah membaca doa saat melihat kesuksesan orang lain.
1. Menghindarkan Hati dari Sifat Hasad dan Dengki
Salah satu hikmah membaca doa tabrik adalah menjaga hati dari sifat hasad atau dengki terhadap nikmat yang diperoleh orang lain. Hasad merupakan penyakit hati yang dapat merusak ketenangan batin dan mendorong seseorang membenci keberhasilan sesamanya.
Dengan membiasakan mengucapkan doa keberkahan, seseorang belajar mengubah rasa iri menjadi harapan baik. Alih-alih mempertanyakan mengapa orang lain memperoleh kesuksesan, ia justru mendoakan agar nikmat tersebut semakin diberkahi Allah SWT. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga mengingatkan agar seorang Muslim tidak membenci nikmat yang Allah berikan kepada saudaranya, tetapi mendoakan keberkahan baginya sekaligus memohon karunia yang lebih baik untuk dirinya.
2. Melindungi Orang Lain dari Bahaya 'Ain
Doa keberkahan juga menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk memohon perlindungan dari bahaya 'ain, yakni pengaruh buruk yang dapat terjadi dengan izin Allah akibat pandangan mata yang disertai kekaguman atau kedengkian.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa 'ain merupakan sesuatu yang benar adanya. Karena itu, ketika melihat orang lain memperoleh nikmat, seorang Muslim dianjurkan untuk mendoakan keberkahan baginya dengan mengucapkan Allāhumma bārik (Ya Allah, berkahilah).
Ucapan tersebut bukan hanya mencerminkan kepedulian, tetapi juga menjadi bentuk permohonan kepada Allah agar nikmat yang dimiliki orang lain tetap terjaga dan mendatangkan kebaikan.
3. Menumbuhkan Sikap Qana'ah dan Ridha terhadap Ketentuan Allah
Membaca doa saat melihat kesuksesan orang lain dapat melatih seseorang untuk bersikap qana'ah, yaitu merasa cukup dan menerima pembagian rezeki yang telah Allah tetapkan. Setiap orang memiliki perjalanan hidup, kesempatan, dan bentuk karunia yang berbeda-beda.
Kebiasaan mendoakan orang lain juga membantu menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang telah dimiliki. Dalam Jurnal The Power of Syukur dijelaskan bahwa syukur melalui hati diwujudkan dengan kepuasan batin terhadap anugerah Allah, sedangkan syukur melalui lisan dilakukan dengan mengakui nikmat dan memuji pemberinya. Dengan demikian, doa keberkahan menjadi salah satu latihan untuk membiasakan hati dan lisan agar senantiasa bersyukur.
4. Memperkuat Motivasi untuk Mengejar Kebaikan Tanpa Merendahkan Orang Lain
Melihat keberhasilan orang lain sebenarnya dapat menjadi sumber motivasi untuk memperbaiki diri. Islam tidak melarang seseorang mengagumi pencapaian sesamanya, selama kekaguman tersebut tidak berubah menjadi kedengkian atau keinginan agar nikmat orang lain hilang.
Hal ini sejalan dengan hadis riwayat Bukhari mengenai dua keadaan yang dibolehkan untuk ghibthah (iri dalam arti positif), yakni terhadap orang yang diberi ilmu dan mengamalkannya serta orang yang diberi harta lalu membelanjakannya di jalan kebaikan. Keinginan untuk memiliki kebaikan serupa bukanlah bentuk hasad yang tercela.
Dengan membaca doa keberkahan, seseorang dapat mengarahkan rasa kagumnya menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas diri, memperbanyak amal saleh, dan berusaha meraih kesuksesan melalui cara yang diridai Allah SWT.
5. Mendatangkan Keberkahan bagi yang Didoakan dan yang Mendoakan
Hikmah lainnya adalah tumbuhnya kebaikan bagi kedua belah pihak. Orang yang didoakan memperoleh permohonan keberkahan atas nikmat yang dimilikinya, sementara orang yang mendoakan mendapatkan kesempatan untuk memperkuat rasa syukur, ketulusan, dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam buku Hisnul Muslim, doa tabrik termasuk bagian dari zikir dan doa yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Sementara itu, Jurnal The Power of Syukur menjelaskan bahwa Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur, sebagaimana disebutkan dalam Surah Ibrahim ayat 7.
Oleh karena itu, mendoakan keberkahan bagi orang lain dapat menjadi salah satu wujud syukur yang nyata. Kebiasaan ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak harus berkurang hanya karena orang lain memperoleh keberhasilan. Sebaliknya, seorang Muslim dapat ikut bergembira, mendoakan kebaikan, dan tetap berusaha memperbaiki kehidupannya sendiri.
Pertanyaan Seputar Doa Saat Melihat Orang Lain Sukses
1. Apa doa yang dibaca saat melihat orang lain sukses?
Doa yang paling ringkas adalah Allāhumma bārik 'alaih ("Ya Allah, berkahilah dia"), sebagaimana diajarkan dalam Hisnul Muslim untuk mengatasi rasa kagum yang berpotensi menimbulkan 'ain atau hasad. Bisa juga dilengkapi dengan Allāhumma zidhu min faḍlika wa a'thinī afḍala minhu ("Ya Allah, tambahkanlah karunia-Mu kepadanya dan berilah aku karunia yang lebih utama darinya").
2. Apakah boleh mendoakan orang lain agar lebih sukses dari kita?
Boleh, bahkan dianjurkan. Syaikh al-Utsaimin menasihatkan agar seseorang berdoa, "Ya Allah, tambahkanlah karunia-Mu kepada saudaraku dan berilah aku karunia yang lebih utama darinya". Doa ini menggabungkan kebaikan untuk orang lain dan permohonan untuk diri sendiri tanpa rasa iri.
3. Apa hukumnya merasa iri saat melihat kesuksesan orang lain?
Rasa iri yang muncul secara spontan tidak langsung berdosa, tetapi jika dipelihara dan diwujudkan dalam kebencian terhadap nikmat orang lain, itulah hasad yang tercela. Rasulullah SAW mengajarkan agar segera mendoakan keberkahan bagi orang yang membuat kita kagum, sehingga rasa iri tidak berkembang menjadi penyakit hati.
4. Mengapa doa saat melihat kesuksesan orang lain penting dalam Islam?
Karena doa tersebut menjaga tiga hal sekaligus: tauhid (mengakui Allah sebagai sumber rezeki), ukhuwah (menjaga hubungan baik dengan sesama), dan kebersihan hati (menangkal hasad dan 'ain). Jurnal THE POWER OF SYUKUR menegaskan bahwa syukur yang benar mencakup hati, lisan, dan perbuatan, dan doa adalah jembatan untuk mencapai ketiganya.
5. Kapan waktu yang tepat untuk membaca doa melihat kesuksesan orang lain?
Doa ini dibaca segera ketika hati mulai merasa kagum atau takjub terhadap nikmat, keberhasilan, atau keadaan baik yang ada pada orang lain—baik itu harta, anak, jabatan, maupun prestasi. Semakin cepat diucapkan, semakin efektif mencegah rasa iri dan 'ain.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389747/original/024211700_1793770227-HOAX.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519844/original/068556900_1772598514-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-04T112728.479.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344440/original/084293900_1788945337-cek_fakta_PGI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315872/original/087159700_1785900314-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-05T102428.295.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4939271/original/009049700_1725776064-Ilustrasi_orang_konsisten__percaya_diri__sukses.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389720/original/039610900_1793769114-Notes_261104_104652_509.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1369768/original/098603900_1476093234-Oknum_Polisi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309241/original/025113800_1785221451-IjX4VwGkAmwQdayZD99MHarMSZDjxkCEaKpl6kvy.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389619/original/071817600_1793763682-site_1_image_870x_6aea90c8d9120.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383867/original/086430500_1793106616-1000550805.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389604/original/078039000_1793763157-517749.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389599/original/073964900_1793762601-517767.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389572/original/063386400_1793760649-IMG-20261103-WA0125.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4766225/original/046556200_1709881475-masjid-pogung-raya-LhNePx4kde0-unsplash.jpg)