Doa-Doa Setelah Sholat Taubat, Ampunan Dosa hingga Ketenangan Hati

Praktik ini berpijak pada hadis riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi

Diterbitkan 30 Oktober 2026, 10:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Doa-doa setelah sholat taubat merupakan rangkaian permohonan ampun yang dibaca setelah menunaikan shalat sunnah dua rakaat, sebagai penyempurna proses taubat yang mencakup penyesalan hati, pengakuan lisan, dan komitmen meninggalkan dosa.

Praktik ini berpijak pada hadis riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi yang menyatakan bahwa seorang hamba yang berwudhu, shalat dua rakaat, lalu beristighfar, pasti diampuni dosanya.

Dalam Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, Drs. Moh. Rifai menjelaskan shalat taubat termasuk shalat sunnah yang dianjurkan. Setelah salam hendaknya memperbanyak istighfar serta doa penyesalan.

Miftahus Surur dalam kajiannya tentang konsep taubat dalam Al-Qur'an dalam PSIKIS: Jurnal Psikologi Islami, menjelaskan bahwa taubat yang sah mencakup empat unsur, yakni penyesalan masa lalu, penghentian maksiat, istighfar, dan tekad tidak mengulangi.

Terkait keutamaan dan manfaat sholat taubat, Ahmad Rusdi, melalui eksperimen yang lantas dituangkan dalam jurnal Efektivitas Salat Taubat dalam Meningkatkan Ketenangan Hati, membuktikan bahwa salat taubat yang dilakukan secara multidimensional, ritual dan penghayatan, secara signifikan meningkatkan ketenangan hati (al-sukūn dan al-yaqīn).

Merujuk literatur klasik dan kontemporer, berikut ini adalah doa-doa yang sianjurkan dibaca setelah sholat taubat.

Kumpulan Bacaan Doa Setelah Sholat Taubat

Berikut adalah doa-doa yang dianjurkan untuk dibaca setelah menunaikan shalat taubat, lengkap dengan teks Arab, transliterasi Latin, arti, serta landasan dalil dan penjelasan ulama.

1. Istighfar Pembuka

Arab: أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Latin: Astaghfirullāhal-‘aẓīm, alladzī lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūmu wa atūbu ilaih.

Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, Dzat yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri. Aku bertaubat kepada-Nya."

Dalil dan penjelasan: Istighfar ini merupakan amalan yang paling dasar dan dianjurkan setelah shalat taubat. Hadis yang menjadi landasan shalat taubat secara eksplisit menyebutkan "tsumma yastaghfirullāha" (kemudian ia beristighfar kepada Allah) sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pengampunan. Dalam Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, Drs. Moh. Rifai menguraikan bahwa setelah shalat sunnah, dianjurkan membaca istighfar dan doa taubat sebagai bentuk pengakuan dosa di hadapan Allah. Miftahus Surur menegaskan bahwa istighfar dengan lisan merupakan salah satu dari empat unsur taubat yang harus dipenuhi, di samping penyesalan, penghentian maksiat, dan tekad tidak mengulangi.

2. Doa Taubat Nabi Adam AS (Surah Al-A'raf: 23)

Arab: رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Latin: Rabbanā ẓalamnā anfusanā, wa illam taghfir lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal-khāsirīn.

Artinya: "Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk hamba-Mu yang merugi."

Doa ini diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai pengakuan dosa Nabi Adam dan Siti Hawa setelah melanggar larangan Allah. Miftahus Surur dalam jurnalnya menyebutkan bahwa taubat Nabi Adam AS merupakan contoh autentik taubat yang diterima, karena didahului oleh kesadaran akan kesalahan dan pengakuan penuh kerendahan diri.

Doa ini sangat relevan dibaca setelah shalat taubat karena mencerminkan inti taubat: al-nadam (penyesalan) yang lahir dari ilmu akan keburukan dosa, sebagaimana dijelaskan al-Ghazali dalam Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn bahwa taubat harus dimulai dengan pengetahuan yang mendalam tentang bahaya dosa.

3. Doa Penghapus Dosa Nabi Muhammad SAW

Arab: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيْئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي

Latin: Allāhummaghfir lī khaṭī'atī wa jahlī, wa isrāfī fī amrī, wa mā anta a'lamu bihī minnī.

Artinya: "Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, sikap berlebihanku dalam urusanku, dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui daripadaku."

Doa ini diriwayatkan dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari dan menggambarkan kerendahan hati Rasulullah SAW dalam memohon ampunan.

Miftahus Surur menjelaskan bahwa dalam perspektif Al-Qur'an, jahālah (ketidaktahuan) bukanlah syarat yang menggugurkan kewajiban taubat, melainkan justru menjadi kondisi yang melingkupi setiap maksiat, sehingga setiap pelaku dosa pada dasarnya berada dalam kejahilan yang harus disadari dan ditaubati.

Oleh karena itu, doa ini menjadi pengakuan paripurna atas segala dimensi kesalahan manusia: yang disengaja maupun tidak, yang tampak maupun tersembunyi.

4. Doa Tobat Komprehensif

Arab: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الحَلِيْمُ الكَرِيْمُ ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْم ، الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ ، أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ ، وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Latin: Lā ilāha illallāhul-ḥalīmul-karīm. Subḥānallāhi rabbil-'arsyil-'aẓīm. Alḥamdulillāhi rabbil-'ālamīn. As'aluka mūjibāti raḥmatik, wa 'azā'ima maghfiratik, wal-ghanīmata min kulli birrin, was-salāmata min kulli itsmin. Lā tada' lī dzanban illā ghafartah, wa lā hamman illā farrajtah, wa lā ḥājatan hiya laka riḍan illā qaḍaitahā yā arḥamar-rāḥimīn.

Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia. Mahasuci Allah, Tuhan 'Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Aku memohon kepada-Mu segala sebab yang mendatangkan rahmat-Mu, ketetapan untuk mendapatkan ampunan-Mu, keuntungan dari setiap kebajikan, dan keselamatan dari setiap dosa. Jangan biarkan dosa apa pun bagiku kecuali Engkau ampuni, dan jangan biarkan kesedihan apa pun kecuali Engkau hilangkan, dan jangan biarkan suatu kebutuhan yang mendatangkan keridhaan-Mu kecuali Engkau penuhi, wahai Yang Maha Penyayang di antara segala penyayang."

Doa ini merangkum seluruh spektrum permohonan taubat: pengakuan tauhid, pujian kepada Allah, permohonan rahmat dan ampunan, serta permohonan penghapusan dosa, kesedihan, dan pemenuhan hajat yang diridhai.

Ahmad Rusdi dalam penelitiannya menemukan bahwa penyesalan dalam taubat berkorelasi signifikan dengan peningkatan aspek al-yaqīn (keyakinan) sebesar 0,374, dan doa komprehensif semacam ini memperkuat dimensi keyakinan tersebut karena di dalamnya terdapat pengakuan akan kemahakuasaan Allah dan penyerahan total kepada-Nya.

5. Sayyidul Istighfar

Arab: اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Latin: Allāhumma anta rabbī lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā 'abduka, wa anā 'alā 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu, a'ūdzu bika min syarri mā ṣana'tu, abū'u laka bini'matika 'alayya, wa abū'u bidzanbī faghfir lī fa-innahū lā yaghfirudz-dzunūba illā anta.

Artinya: "Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang teguh pada janji dan perjanjian-Mu semampuku. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui segala nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui dosa-dosaku. Maka, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau."

Sayyidul Istighfar adalah "rajanya istighfar" yang diajarkan Rasulullah SAW. Imam Nawawi dalam Al-Adzkār meriwayatkan dari Syaddad bin Aus bahwa Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa membacanya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu, ia termasuk penghuni surga; dan barangsiapa membacanya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal, ia termasuk penghuni surga" (HR. Bukhari).

Doa ini mencakup pengakuan tauhid, pengakuan hamba, ikrar janji, permohonan perlindungan, pengakuan nikmat, dan pengakuan dosa—seluruhnya dalam satu untaian yang padat. Dalam konteks shalat taubat, Sayyidul Istighfar berfungsi sebagai penyempurna karena menghimpun seluruh unsur taubat yang dirumuskan para ulama: ilmu, penyesalan, dan komitmen.

Keutamaan Sholat Taubat

1. Pengampunan Dosa secara Pasti

Hadis riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi menegaskan bahwa siapa pun yang berwudhu dengan sempurna, shalat dua rakaat, lalu beristighfar, maka Allah pasti mengampuninya. Syekh Nawawi Banten dalam Nihāyatuz Zain menyatakan bahwa taubat yang benar akan melebur dosa, termasuk dosa besar seperti kufur.

2. Melebur Dosa Besar

Syekh Nawawi Banten menegaskan bahwa taubat yang sah—yang di dalamnya termasuk shalat taubat—secara pasti melebur dosa yang telah dilakukan, bahkan dosa besar sekalipun, selama syarat-syaratnya terpenuhi. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah yang tidak terbatas pada dosa kecil.

3. Mendapat Ketenangan Hati (al-Sukūn dan al-Yaqīn)

Ahmad Rusdi (2016) membuktikan secara empiris bahwa salat taubat meningkatkan ketenangan hati secara signifikan. Skor rata-rata ketenangan hati naik dari 70,1 menjadi 77,5 (p = 0,00). Aspek al-sukūn (kedamaian) meningkat signifikan (p = 0,00), dan aspek al-yaqīn (keyakinan) juga meningkat (p = 0,036). Penelitian ini menegaskan bahwa shalat taubat bukan hanya ritual, melainkan terapi spiritual yang efektif.

4. Menjadi Sebaik-baik Orang yang Bersalah

Rasulullah SAW bersabda, "Setiap anak keturunan Adam adalah orang yang berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertaubat" (HR. Ibnu Majah). Shalat taubat menjadi manifestasi konkret dari predikat "sebaik-baik orang yang bersalah" tersebut.

5. Membersihkan Hati dari Penyakit Ruhani

Dosa adalah noda yang menutupi cahaya hati. Shalat taubat—dengan istighfar dan doa-doa yang menyertainya—membersihkan hati dari kotoran dosa, sebagaimana diisyaratkan al-Ghazali bahwa taubat adalah langkah pertama seorang sālik membuka hatinya agar cahaya iman masuk.

6. Mendekatkan Diri kepada Allah

Setiap doa setelah shalat taubat mengandung pengakuan akan kelemahan hamba dan kemahakuasaan Allah. Sayyidul Istighfar, misalnya, memuat ikrar "Engkau adalah Tuhanku... aku adalah hamba-Mu" yang memperkuat relasi intim antara hamba dan Rabb-nya. Kedekatan ini merupakan keutamaan tersendiri yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan spiritual.

Hikmah Melakukan Sholat Taubat

1. Menyadarkan Manusia akan Kelemahan dan Keterbatasan Dirinya

Shalat taubat memaksa seseorang untuk berhenti, merenung, dan mengakui bahwa ia adalah makhluk yang lemah dan penuh kekurangan. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati (tawāḍu') yang menjadi fondasi seluruh kebaikan.

2. Melembutkan Hati yang Mulai Mengeras

Dosa yang terus-menerus dilakukan dapat mengeraskan hati. Shalat taubat dengan penyesalan dan istighfar mencairkan kekerasan tersebut, menjaga kelembutan hati agar tidak membatu karena kebiasaan berbuat salah. Al-Ghazali mengumpamakan maksiat sebagai noda hitam yang menutupi hati; taubat segera menghapus noda itu sebelum mengeras.

3. Memberi Ketenangan Batin dan Meringankan Beban Jiwa

Beban dosa yang ditanggung dapat "mencekik jiwa" dan menimbulkan kecemasan. Shalat taubat memberikan jalan keluar spiritual: dengan melepaskan beban itu kepada Allah melalui pengakuan dan permohonan ampun, jiwa menjadi ringan dan tenang. Penelitian Ahmad Rusdi mengonfirmasi hal ini secara ilmiah: responden melaporkan penurunan kecemasan, perbaikan pola tidur, dan kemampuan mengendalikan emosi setelah rutin melaksanakan shalat taubat.

4. Memperbaiki Hubungan dengan Allah dan Sesama Manusia

Taubat yang sah menuntut pengembalian hak orang yang dizalimi dan permohonan maaf kepada yang disakiti. Shalat taubat mendorong seseorang untuk tidak hanya meminta ampun kepada Allah, tetapi juga berdamai dengan manusia. Ahmad Rusdi menemukan bahwa responden yang mengembalikan hak dan meminta maaf menunjukkan tingkat ketenangan hati yang lebih tinggi, meskipun perbedaannya tidak signifikan secara statistik—namun arahnya konsisten.

5. Meningkatkan Kesadaran Spiritual dan Ketakwaan

Shalat taubat yang dilakukan dengan penuh penghayatan menumbuhkan kesadaran akan pengawasan Allah, memperkuat tekad untuk meninggalkan dosa, dan mendorong peningkatan amal saleh. Miftahus Surur menegaskan bahwa taubat yang diterima harus disertai peningkatan kebaikan dan amal saleh untuk menutup keburukan masa lalu. Hikmah ini menjadikan shalat taubat bukan titik akhir, melainkan titik balik menuju kehidupan yang lebih bertakwa.

 

Pertanyaan Seputar Sholat Taubat

1. Apakah sholat taubat harus dilakukan setiap kali berbuat dosa?

Ya, dianjurkan untuk segera melakukannya setiap kali sadar telah berbuat dosa, tanpa menunda. Hadis riwayat Abu Dawud menyebutkan bahwa seorang hamba yang berwudhu, shalat dua rakaat, lalu beristighfar akan diampuni dosanya. Para ulama menegaskan bahwa menunda taubat dapat memperkeras hati, sehingga semakin cepat dilakukan semakin baik.

2. Berapa rakaat sholat taubat dan apakah harus berjamaah?

Shalat taubat dikerjakan dua rakaat dan dilakukan secara munfarid (sendiri), tidak berjamaah. Syekh Nawawi Banten dalam Nihāyatuz Zain menyebutkan "rak'atāni qablat taubah" (dua rakaat sebelum taubat). Tidak ada ketentuan untuk berjamaah karena shalat ini bersifat personal antara hamba dengan Allah.

3. Doa apa yang paling utama dibaca setelah sholat taubat?

Tidak ada satu doa yang "paling utama" secara mutlak; namun Sayyidul Istighfar memiliki keutamaan khusus sebagai "rajanya istighfar" yang dijamin pengampunan bagi yang membacanya dengan penuh keyakinan. Doa Nabi Adam (Al-A'raf: 23) juga sangat dianjurkan karena merupakan doa taubat pertama dalam sejarah manusia. Praktik terbaik adalah membaca istighfar, doa Nabi Adam, dan Sayyidul Istighfar secara berurutan.

4. Apakah sholat taubat bisa menggantikan taubat nasuha?

Shalat taubat adalah sarana untuk mewujudkan taubat nasuha, bukan penggantinya. Taubat nasuha menuntut pemenuhan syarat: penyesalan, penghentian maksiat, tekad tidak mengulangi, dan pengembalian hak (jika ada). Shalat taubat berfungsi sebagai manifestasi ritual dari penyesalan dan permohonan ampun tersebut. Tanpa pemenuhan syarat-syarat taubat, shalat taubat tidak akan efektif.

5. Kapan waktu terbaik melaksanakan sholat taubat?

Shalat taubat boleh dilakukan kapan saja, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk shalat sunnah (setelah Subuh hingga matahari terbit, ketika matahari tepat di atas kepala, dan setelah Ashar hingga terbenam). Waktu terbaik adalah sepertiga malam terakhir, setelah shalat Isya, atau segera setelah sadar berbuat dosa, karena semakin cepat taubat dilakukan, semakin besar harapan diterima.