6 Hikmah Mengulang Bacaan Al-Qur'an Meski Sudah Pernah Menyelesaikan Khatam

Mengulang bacaan Al-Qur'an setelah menyelesaikan khatam merupakan salah satu cara seorang Muslim menjaga kedekatan dengan kitab suci.

Diterbitkan 16 Oktober 2026, 09:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mengulang bacaan Al-Qur'an setelah menyelesaikan khatam merupakan salah satu cara seorang Muslim menjaga kedekatan dengan kitab suci. Khatam bukan berarti selesai membaca Al-Qur'an untuk selamanya. Sebaliknya, momen tersebut dapat menjadi awal untuk kembali membaca, memahami, dan mengamalkan ayat-ayatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan membaca Al-Qur'an secara berulang memiliki landasan dalam tradisi Nabi Muhammad SAW dan para ulama. Rasulullah SAW diketahui melakukan tadarus bersama Malaikat Jibril setiap Ramadan.

Dalam hadis riwayat Fatimah RA yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, disebutkan bahwa Jibril biasanya menyimak bacaan Al-Qur'an Nabi sekali setiap tahun. Pada tahun menjelang wafatnya, proses tersebut berlangsung dua kali.

Dalam Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an, Imam Jalaluddin as-Suyuthi membahas tradisi mengulang khatam sebagai bagian dari adab berinteraksi dengan Al-Qur'an. Sementara itu, Imam an-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalatil-Qur'an menjelaskan sejumlah adab membaca Al-Qur'an, termasuk anjuran menjaga kesinambungan tilawah. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur'an tidak berhenti setelah menyelesaikan seluruh surah.

Terdapat berbagai hikmah mengulang bacaan Al-Qur'an meski sudah pernah menyelesaikan khatam. Merangkum berbagai sumber, berikut ini alasannya.

Hikmah Mengulang Bacaan Al-Qur'an Meski Sudah Khatam

1. Menjaga Al-Qur'an

Imam al-Qurthubi dalam al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menyatakan bahwa salah satu bentuk memuliakan Al-Qur'an adalah "an yaftatihahu kullama khatamahu hatta la yakuna kahai'atil mahjur", membukanya kembali setiap kali selesai khatam agar tidak menjadi seperti sesuatu yang ditinggalkan.

Mengulang bacaan adalah bukti cinta kepada Al-Qur'an dan kesadaran bahwa kitab suci bukan sekadar bacaan musiman, melainkan pedoman hidup yang harus terus dihidupkan.

2. Meneladani Sunnah Nabi dan Para Sahabat

Rasulullah SAW mengulang khatam Al-Qur'an bersama Jibril setiap Ramadan, dan pada tahun wafatnya beliau mengulanginya dua kali. Sahabat Nabi juga mengkhatamkan Al-Qur'an sepekan sekali, bahkan sebagian ulama mengulang satu hafalan hingga 100 kali, dan ada yang sampai 400 kali.

Imam Ibn al-Jazari dalam al-Nasyr fi al-Qira'at al-'Asyr mencatat bahwa praktik mengulang khatam telah menjadi amalan yang tersebar di negeri-negeri Muslim: "Wa shara al-'amalu 'ala haza fi amsharil muslimin... hatta la yakadu ahadun yakhtimu illa wa yasyra'u fil ukhra", hampir tidak ada seorang pun yang khatam kecuali ia memulai khatam berikutnya.

3. Meningkatkan Tadabbur dan Pemahaman

Penelitian Dr. Sumayyah Ibrahim Abdul Ma'ruf dari Universitas Thaybah dalam jurnal Takrar Tilawat al-Ayat: Asbabuhu wa Atsaruhu fi Tadabbur al-Qur'an menemukan bahwa semakin sering seseorang mengulang bacaan ayat, semakin bertambah makna yang dipahami dari teks tersebut.

Para ulama salaf dahulu ada yang mengulang satu ayat sepanjang malam, seperti Utsman bin Affan yang menghabiskan malam dengan membaca Qul huwallahu ahad, dan Ibnu Abbas yang mengulang ayat tentang sakaratul maut hingga fajar.

Mengulang bacaan membuka pintu-pintu makna baru yang tidak ditemukan pada bacaan pertama.

4. Mendapatkan Pahala Berlipat dan Syafa'at

Setiap huruf Al-Qur'an yang dibaca bernilai satu kebaikan yang dilipatgandakan sepuluh kali. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya" (HR. at-Tirmidzi).

Dengan mengulang khatam, pahala yang diraih berlipat ganda, dan Al-Qur'an akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi para pembacanya (HR. Muslim).

Imam al-Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim menjelaskan bahwa syafa'at Al-Qur'an berlaku bagi siapa saja yang membacanya dengan iman dan ihtisab, bukan sekadar rutinitas tanpa penghayatan.

5. Menjaga Hafalan dan Kedekatan dengan Al-Qur'an

Rasulullah SAW bersabda: "Ulang-ulanglah Al-Qur'an ini. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, ia lebih cepat lepas daripada unta dalam ikatan" (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengulang bacaan, baik secara hafalan maupun tilawah, adalah cara terbaik menjaga hafalan dan kedekatan dengan Al-Qur'an.

Imam Ibn al-Jazari menegaskan bahwa praktik al-hall al-murtahil memiliki dalil-dalil yang banyak dari Nabi, sahabat, tabi'in, dan generasi setelahnya.

6. Meneladani Praktik Khatam di Bulan Ramadan

Di bulan Ramadan, tradisi khatam lebih dari sekali menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Fatwa Dar al-Ifta Mesir menyebutkan bahwa Nabi SAW mengkhatamkan Al-Qur'an dua kali pada tahun wafatnya, dan para sahabat mengkhatamkan Al-Qur'an sepekan sekali.

Bahkan dalam kitab al-Fatawa al-Hindiyyah disebutkan: "al-Khatmu marrataini fadhilah wa al-khatmu tsalatsa marratin afdhal", khatam dua kali adalah keutamaan, dan tiga kali lebih utama.

Adab Membaca Al-Qur'an

Imam an-Nawawi dalam al-Tibyan fi Adabi Hamalatil-Qur'an menyebutkan beberapa adab membaca Al-Qur'an:

Pertama, ikhlas. Wajib membaca Al-Qur'an untuk ikhlas dan memelihara etika saat berhadapan dengan kitab suci. Membaca Al-Qur'an bukan untuk pamer, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kedua, membersihkan mulut. Hendaknya seseorang membersihkan mulutnya dengan siwak atau lainnya sebelum membaca Al-Qur'an, karena mulut adalah pintu keluar dari kalam ilahi.

Ketiga, dalam keadaan suci. Sebaiknya membaca Al-Qur'an dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar, dan jika tidak ada air, dapat bertayamum. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa mayoritas ulama sepakat membaca Al-Qur'an dalam keadaan suci adalah lebih utama.

Keempat, tempat yang bersih dan menghadap kiblat. Hendaknya membaca Al-Qur'an di tempat yang bersih, dan dianjurkan menghadap kiblat sebagai bentuk penghormatan kepada kalam Allah.

Kelima, memulai dengan ta'awwudz dan basmalah. Memulai bacaan dengan a'udzu billahi minasy-syaithanir-rajim dan basmalah, kecuali pada Surah at-Taubah.

Keenam, tadabbur (merenungkan makna). Imam an-Nawawi menekankan pentingnya tadabbur agar bacaan tidak sekadar gerakan lisan, melainkan meresap ke dalam hati dan menjadi amal.

Keutamaan Membaca Al-Qur'an

1. Menjadi sebaik-baik manusia

Rasulullah SAW bersabda: “ Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari).

Hadis ini menjelaskan bahwa kemuliaan seseorang dapat diraih melalui usaha mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya kepada orang lain. Keutamaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga dengan upaya menyebarkan ilmu dan membimbing sesama agar lebih dekat dengan kitab suci.

2. Mendapat dua pahala meski membaca dengan terbata-bata

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang mahir membaca Al-Qur'an bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti, dan orang yang membaca dengan terbata-bata serta mengalami kesulitan, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi kabar gembira bagi orang yang masih belajar membaca Al-Qur'an. Mereka yang belum lancar tetap memperoleh keutamaan selama bersungguh-sungguh dalam membaca dan memperbaiki bacaannya. Kesulitan yang dihadapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti belajar.

3. Mendapat syafaat pada Hari Kiamat

Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim).

Membaca Al-Qur'an merupakan amalan yang memiliki keutamaan besar di akhirat. Hadis ini mendorong umat Islam untuk menjaga kebiasaan membaca Al-Qur'an dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Harapannya, Al-Qur'an menjadi syafaat dengan izin Allah SWT bagi orang-orang yang membacanya.

4. Menjadi sebab diangkatnya derajat

Rasulullah SAW bersabda: “Allah mengangkat derajat suatu kaum melalui kitab ini dan merendahkan kaum lainnya melaluinya.” (HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an dapat menjadi sebab kemuliaan bagi orang yang beriman, mempelajari, dan mengamalkan ajarannya. Sebaliknya, berpaling dari petunjuknya dapat membawa kerugian. Karena itu, membaca Al-Qur'an hendaknya disertai usaha memahami dan menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan.

5. Menjadi bagian dari keluarga Allah yang istimewa

Rasulullah SAW bersabda: “Ahlul Qur'an adalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya.” (HR. Ahmad).

Istilah Ahlul Qur'an merujuk pada orang-orang yang memiliki kedekatan dengan Al-Qur'an, yakni mereka yang membaca, mempelajari, menjaga, dan berusaha mengamalkan kandungannya. Keutamaan ini menunjukkan tingginya kedudukan orang-orang yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup.

6. Mendapat ketenangan dan limpahan rahmat

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah, membaca Kitab Allah dan saling mengajarkannya, melainkan diturunkan kepada mereka ketenangan, rahmat menyirami mereka, para malaikat mengerumuni mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim).

Hadis ini menjelaskan keutamaan membaca dan mempelajari Al-Qur'an secara bersama-sama, seperti dalam kegiatan tadarus atau majelis ilmu. Selain menjadi sarana menambah pengetahuan agama, kegiatan tersebut juga menjadi jalan memperoleh ketenangan hati, rahmat Allah SWT, serta keutamaan di sisi-Nya.

 

Pertanyaan Seputar Khatam Al Quran

1. Apakah harus mengulang khatam setelah selesai 30 juz?

Ya, sangat dianjurkan. Imam al-Suyuti dalam al-Itqan menyatakan disunahkan memulai khatam berikutnya segera setelah selesai, berdasarkan hadis al-hall al-murtahil. Imam an-Nawawi dalam al-Tibyan juga menganjurkan hal ini agar Al-Qur'an tidak menjadi terlantar.

2. Apa dalil mengulang bacaan Al-Qur'an setelah khatam?

Dalilnya adalah hadis riwayat at-Tirmidzi: "Sebaik-baik amal adalah al-hall al-murtahil, yaitu orang yang membaca Al-Qur'an dari awal hingga akhir, setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal". Meskipun sebagian ulama menilai hadis ini dha'if, Imam al-Suyuti, Imam an-Nawawi, dan Ibn al-Jazari tetap menganjurkan praktik ini berdasarkan dalil-dalil lain dan amalan salaf.

3. Berapa kali sebaiknya khatam Al-Qur'an dalam sebulan?

Tidak ada batasan baku, tetapi Rasulullah SAW mengkhatamkan Al-Qur'an sekali sepekan, dan pada tahun wafatnya dua kali. Dalam kitab al-Fatawa al-Hindiyyah disebutkan khatam dua kali adalah keutamaan dan tiga kali lebih utama. Yang terpenting adalah istiqamah dan tadabbur, bukan sekadar kuantitas.

4. Apakah mengulang bacaan Al-Qur'an bisa menghilangkan hafalan?

Justru sebaliknya. Mengulang bacaan adalah cara terbaik menjaga hafalan. Rasulullah SAW bersabda: "Ulang-ulanglah Al-Qur'an ini, karena ia lebih cepat lepas daripada unta dalam ikatan" (HR. Bukhari dan Muslim). Imam Ibn al-Jazari menegaskan bahwa praktik al-hall al-murtahil adalah cara menjaga hafalan dan kedekatan dengan Al-Qur'an.

5. Apakah mengulang khatam harus membaca dari Surah al-Fatihah lagi?

Ya. Imam al-Qurthubi dalam al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menyebutkan bahwa Rasulullah SAW jika mengkhatamkan Al-Qur'an membaca lima ayat pertama dari Surah al-Baqarah agar tidak dianggap meninggalkan Al-Qur'an. Imam an-Nawawi dan al-Suyuti juga menganjurkan memulai khatam baru dengan al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah.