Titik Api Kebakaran Hutan dan Lahan Menggila di Sumatra

Dampak karhutla di Sumatra meluas hingga mengganggu aktivitas masyarakat.

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Pulau Sumatra. Peningkatan titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah menjadi sinyal kewaspadaan terhadap potensi meluasnya kebakaran, terutama ketika kondisi cuaca dan vegetasi mendukung penyebaran api.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru Provinsi Riau mendeteksi lonjakan 3.663 titik panas di Pulau Sumatera dari sebelumnya sebanyak 2.440 titik pada Senin (12/10/2026) sore.

Prakirawan BMKG Pekanbaru, Gita Dewi S mengatakan jumlah tersebut merupakan data yang diperbarui hingga pukul 07.00 WIB, Selasa. Dari jumlah tersebut Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan kontribusi paling tinggi yakni mencapai 2.559 titik.

"Selain Sumatera Selatan, titik panas cukup tinggi juga terpantau di Lampung sebanyak 471 titik, Jambi (326), dan Bangka Belitung (287)," kata Gita, dilansir Antara, Jumat (16/10/2026).

Adapun wilayah Sumatera lainnya yang terpantau memiliki titik panas yakni Bengkulu 15 titik dan Riau empat. Sebaran titik panas di Riau terdapat di Inderagiri Hilir (2), Pelalawan dan Siak masing-masing satu.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam penanganan karhutla saat ini adalah Sumatera Selatan. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Kamis (15/10/2026) pagi, tercatat 205 titik panas di provinsi tersebut.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 118 titik. Berikutnya, Kabupaten Banyuasin mencatat 34 titik dan Musi Banyuasin sebanyak 28 titik.

Karhutla tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga berpotensi menimbulkan kabut asap yang membahayakan kesehatan masyarakat. Asap juga dapat mengganggu transportasi dan aktivitas ekonomi, bahkan menjangkau wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran bergantung pada arah serta kecepatan angin.

 

Ganggu Aktivitas hingga Penyebab Kecelakaan

Kabut Asap Ganggu Aktivitas Pendidikan

Dampak kabut asap akibat karhutla mulai dirasakan di Sumatera Utara. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara meminta sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai langkah antisipasi untuk melindungi peserta didik dari paparan asap.

Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mengimbau seluruh bupati dan wali kota di wilayahnya mengambil langkah antisipasi menyusul kabut asap yang mulai mencemari udara di sejumlah daerah.

Bobby menegaskan, pembelajaran dari rumah bukan berarti siswa diliburkan. Kegiatan belajar mengajar tetap harus berlangsung meski tidak dilakukan secara tatap muka.

"Untuk SMA, SMK, dan SLB, mulai besok saya harapkan sudah melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Anak-anak tetap belajar dari rumah, bukan libur, karena kita harus melindungi anak-anak dari paparan kabut asap," ujar Bobby, Kamis (15/10/2026).

Kebijakan tersebut mulai berlaku Jumat (16/10/2026). Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Kabut Asap Mengganggu Penerbangan

Kabut asap yang menyelimuti Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir juga mengganggu operasional penerbangan di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang.

Jarak pandang di kawasan bandara dilaporkan turun hingga 1.300 meter atau 1,3 kilometer pada Kamis (15/10/2026).

Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandara Kualanamu, Yolanda, mengatakan kondisi tersebut belum menunjukkan perubahan berarti dibandingkan hari-hari sebelumnya. Penurunan jarak pandang dipicu kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumatera Utara sejak Selasa (13/10/2026).

"Normalnya visibility untuk penerbangan di Bandara Kualanamu kisaran 3 hingga 10 kilometer. Sementara saat ini di Bandara Kualanamu hingga pukul 10.00 WIB di kisaran 1.300 meter atau 1,3 kilometer," ujar Yolanda.

Terbatasnya jarak pandang berdampak pada jadwal penerbangan. Sejumlah penerbangan mengalami penundaan, bahkan pembatalan, dengan mempertimbangkan aspek keselamatan penerbangan.

 

Asap Karhutla Picu Kecelakaan Beruntun

Dampak kabut asap juga mengancam keselamatan pengguna jalan. Kecelakaan beruntun yang melibatkan sekitar 10 kendaraan terjadi di Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatera, Kampung Bawang Latak, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, Selasa (6/10/2026).

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 13.35 WIB itu menewaskan dua orang dan menyebabkan lima orang lainnya terluka.

Kecelakaan tersebut diduga dipicu asap tebal dari kebakaran lahan yang menutupi badan jalan hingga mengganggu jarak pandang pengemudi.

Peristiwa ini menjadi salah satu gambaran dampak karhutla yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengancam keselamatan masyarakat dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6