Liputan6.com, Jakarta - Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Karena itu, adab membaca Al-Qur’an menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan setiap Muslim, baik sebelum, saat, maupun setelah membaca.
Adab tersebut menjadi pedoman agar tilawah tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga menghadirkan ketenangan, penghayatan dan keberkahan.
Dalam Jurnal Adab Membaca Al-Qur’an, Musthofa menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT yang melibatkan berbagai potensi dalam diri manusia. Lisan digunakan untuk melafalkan ayat, mata untuk melihat huruf atau lafaz yang dibaca, pendengaran untuk menyimak bacaan, akal untuk memahami dan merenungkan kandungannya, sedangkan hati berperan dalam menghayati pesan yang disampaikan Al-Qur’an.
Advertisement
Prof. Dr. Mahmud Al-Dausary dalam buku Membaca Al-Qur’an; Adab dan Hukumnya juga menekankan pentingnya memperhatikan adab dan hukum-hukum membaca Al-Qur’an. Menurutnya, tilawah akan memberikan buah yang lebih besar berupa tadabbur, pengaruh positif terhadap hati, serta keistiqamahan apabila dilakukan dengan memperhatikan adab sebelum dan selama membaca.
Merujuk berbagai sumber, artikel ini membahas adab sebelum, saat, dan setelah membaca Al-Qur’an, keutamaan membaca dengan menerapkan adab, hingga manfaat istiqamah membaca Al-Qur’an.
Adab-Adab Membaca Al-Qur’an
Sementara itu, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din membagi adab membaca Al-Qur’an menjadi dua bagian, yakni adab lahir dan adab batin. Adab lahir antara lain mencakup bersuci, menghadap kiblat, duduk dengan sopan, serta membaca dengan tartil. Adapun adab batin berkaitan dengan kesadaran terhadap keagungan Kalamullah, menghadirkan hati, dan merenungkan makna ayat yang sedang dibaca.
Karena itu, memahami adab membaca Al-Qur’an penting bagi siapa pun yang ingin menjadikan tilawah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Artikel ini akan mengulas secara lengkap berbagai
Adab Sebelum Membaca Al-Qur’an
1. Niat Ikhlas karena Allah
Membaca Al-Qur’an harus diniatkan sebagai ibadah kepada Allah, bukan untuk tujuan duniawi seperti pujian, kekayaan, atau kedudukan. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya.” (HR. Muslim).
Prof. Dr. Mahmud Al-Dausary dalam kitabnya menjelaskan bahwa seorang pembaca Al-Qur’an seharusnya mengikhlaskan niatnya, melepaskan diri dari semua tujuan-tujuan dunia, mencari pahala dan balasan dari Allah, serta mewaspadai riya’ dan kekaguman pada diri sendiri. Al-Nawawi RA dalam Al-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an juga menegaskan bahwa seyogyanya seseorang tidak memaksudkan bacaannya untuk meraih kepentingan dunia, seperti harta, kekuasaan, kedudukan, atau pujian di sisi manusia.
2. Suci dari Hadas Kecil dan Besar
Seorang pembaca Al-Qur’an disyaratkan suci dari hadas kecil (dihilangkan dengan wudhu) dan hadas besar (dihilangkan dengan mandi junub). Prof. Dr. Mahmud Al-Dausary menjelaskan bahwa disunnahkan bagi seorang pembaca Al-Qur’an untuk berada dalam keadaan berwudhu dan suci, karena ini merupakan bukti pengagungan terhadap Al-Qur’an.
Dalilnya adalah hadits dari al-Muhajir bin Qunfudz, bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama Allah Azza wa Jalla kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Abu Dawud). Al-Nawawi RA mengatakan bahwa jika seseorang membaca dalam keadaan berhadats, maka itu boleh menurut ijma’ para ulama, namun meninggalkan yang utama.
3. Menghadap Qiblat
Membaca Al-Qur’an disunnahkan menghadap qiblat sebagai bentuk sikap tawadhu’ dan penghormatan terhadap kitab suci. Dalam Jurnal Adab Membaca Al-Qur’an karya Musthofa, dijelaskan bahwa membaca Al-Qur’an diqiyaskan dengan ibadah salat, sehingga menghadap qiblat merupakan keutamaan bagi orang yang membacanya.
Al-Nawawi RA dalam Al-Tibyan menyebutkan bahwa disunnahkan bagi seorang qari’ untuk menghadap kiblat, karena inilah arah yang terbaik.
4. Menutup Aurat
Menutup aurat merupakan sikap wira’i dan penghormatan kepada Al-Qur’an. Musthofa dalam jurnalnya menjelaskan bahwa meskipun belum ditemukan nas Al-Qur’an atau al-hadis yang secara eksplisit memerintahkan menutup aurat ketika membaca Al-Qur’an, pemikiran ini didasari atas penghormatan kepada kitab suci.
Membaca ayat Al-Qur’an menjadi salah satu rukun yang menjadikan sahnya salat seseorang, sedangkan orang yang mengerjakan salat diharuskan menutup aurat.
5. Pakaian Bersih dan Suci
Pakaian yang bersih dan suci merupakan simbol kebersihan fisik dan hati. Musthofa menjelaskan bahwa pakaian bersih artinya pakaian yang tidak terdapat halangan yang melekat padanya, sedangkan pakaian suci adalah pakaian yang tidak mengandung sesuatu yang dinilai najis oleh hukum syara’.
Perintah berpakaian bersih dan suci dinisbatkan dengan pakaian yang dipakai rasul-rasul ketika menerima wahyu, sebagaimana firman Allah: “Dan bersihkanlah pakaianmu.” (QS. Al-Muddatsir: 4).
6. Tempat yang Tidak Najis
Membaca Al-Qur’an disyaratkan menempati tempat yang suci dari kotoran. Musthofa menjelaskan bahwa tempat yang najis dapat mengganggu konsentrasi bagi pembacanya. Al-Qurthuby RA dalam Al-Tadzkirah fi Afdhal al-Adzkar menyebutkan bahwa tidak membaca Al-Qur’an di pasar, tidak pula di tempat bergurau, bercanda, dan tempat berkumpulnya orang-orang bodoh.
7. Membaca Ta’awudz
Membaca ta’awudz sebelum memulai bacaan adalah adab yang sangat dianjurkan. Allah Ta’ala berfirman: “Apabila engkau membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98).
Prof. Dr. Mahmud Al-Dausary menjelaskan bahwa perintah ini bersifat sunnah dan tidak wajib. Hikmahnya adalah agar setan tidak mengganggu sang qari’ ketika membaca Al-Qur’an dan tercemar, serta terhalangi untuk melakukan tadabbur dan tafakkur.
Adab Ketika Membaca Al-Qur’an
1. Membaca dengan Tartil
Tartil artinya melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an dengan jelas, bunyi hurufnya, panjang dan pendeknya, ibtida dan waqafnya, ghunnah dan sukunnya yang sesuai dengan pedoman ilmu tajwid. Allah Ta’ala berfirman: “Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4).
Prof. Dr. Mahmud Al-Dausary menjelaskan bahwa tartil akan lebih membantu dan mendekatkan kita agar dapat lebih memuliakan dan mengagungkan Al-Qur’an, serta lebih kuat pengaruhnya dalam hati. Nabi SAW telah menjalankan perintah Tuhannya untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil.
Dari Qatadah RA, beliau berkata: “Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik tentang bacaan Nabi SAW, maka beliau menjawab: ‘Beliau membacanya dengan memanjangkan apa yang semestinya dipanjangkan.’” (HR. Bukhari).
2. Memperindah Bacaan
Memperindah bacaan Al-Qur’an artinya menghiasi bacaan-bacaan Al-Qur’an dengan suara yang indah dengan menyesuaikan bunyi huruf dan panjang pendeknya sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Rasulullah SAW bersabda: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suara-suara kalian.” (HR. Abu Dawud).
Al-Nawawi RA menukilkan ijma’ bahwa disunnahkan untuk memperindah suara saat membaca Al-Qur’an. Ibnu al-Qayyim RA dalam Zad al-Ma’ad menjelaskan hikmahnya: “Karena memperindah, memperbagus dan memerdukan bacaannya lebih mengena di hati, lebih menarik untuk didengarkan dan diperhatikan.”
3. Mengeraskan Suara
Mengeraskan bacaan Al-Qur’an diperintahkan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah mengizinkan untuk melakukan sesuatu melebihi izin-Nya kepada nabi yang bersuara bagus untuk mengeraskan bacaan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari).
Prof. Dr. Mahmud Al-Dausary menjelaskan bahwa mengeraskan bacaan itu lebih utama karena manfaatnya akan juga dirasakan oleh orang yang mendengar, dengan syarat tidak mengganggu orang yang sedang shalat, tidur, atau yang lainnya.
4. Mengingat Isi Bacaan
Yang dimaksud mengingat bacaan Al-Qur’an adalah ketika seseorang membaca Al-Qur’an, ia mengingat isi bacaan yang terkandung di dalamnya, meliputi akidah, akhlak, hukum, dan hikmah-hikmah serta nilai-nilai pendidikan yang ada di dalamnya.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabi).” (QS. Al-Ahzab: 34).
5. Menghayati Bacaan Al-Qur’an
Menghayati bacaan Al-Qur’an artinya memperhatikan dengan mengkonsentrasikan pikiran pada bacaan itu ketika membacanya. Allah Ta’ala berfirman: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah.” (QS. An-Nisa: 82).
Mentadabburi Al-Qur’an adalah tujuan terbesar dan tuntutan terpenting dari membaca Al-Qur’an. Dengan begitu, dada akan lapang dan hati akan tercerahkan.
6. Menangis ketika Membaca Al-Qur’an
Menangis ketika mendengar bacaan Al-Qur’an dengan mencucurkan air mata akibat dari bacaan yang menyentuh jiwanya. Allah berfirman: “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata.” (QS. Al-Maidah: 83).
Menangis itu adalah bagian rasa takut pada Allah Ta’ala, dan melakukannya saat membaca Al-Qur’an merupakan salah satu tanda orang yang mengenal Allah dan salah satu syiar hamba-hamba Allah yang shaleh.
Adab Setelah Membaca Al-Qur’an
1. Berpegang Teguh pada Al-Qur’an
Berpegang teguh pada Al-Qur’an maksudnya menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar pemikiran, merumuskan permasalahan dan pemecahannya didasari dengan nilai-nilai yang ada dalam nas Al-Qur’an.
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah perintah Allah.” (QS. Al-Ahzab: 70). Musthofa menjelaskan bahwa berpegang teguh pada Al-Qur’an dapat memperkuat jiwa seseorang menjadi kokoh dan tekun dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan yang ada di dalam nilai-nilai Al-Qur’an.
2. Mengamalkan Isi Kandungan Al-Qur’an
Mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an maksudnya memberdayakan anggota badan, lisan untuk membacanya, mata untuk melihat hurufnya, telinga untuk mendengarkan bacaannya, akal untuk merekayasa pikiran dalam mengambil pengajaran, dan hati digunakan untuk merasakan kandungan pengajaran yang ada di dalamnya.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya isi kandungan yang ada di dalamnya, maka di hari kiamat kedua orang tuanya mengenakan pakaian koko yang lebih baik dari cahaya matahari di dunia.” (HR. Ahmad).
3. Mencintai Allah dan Rasul-Nya
Maksudnya adalah adanya perasaan yang cenderung mentaati perintah Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an dan perintah Rasul yang tercantum dalam Al-Hadis. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah, jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku.” (QS. Ali Imran: 31).
Musthofa menjelaskan bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya dapat menambah keimanan seseorang dalam berpegang pada ajaran yang terkandung di dalamnya.
4. Meneladani Akhlak Rasul sesuai dengan Al-Qur’an
Meneladani akhlak Rasul dengan cara mencontoh terhadap perilaku Rasul dari segi perkataan dan sikap terhadap Allah dan sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak Rasul digambarkan dalam Al-Qur’an.
Said bin Hasyim berkata: “Saya datang kepada Aisyah r.a. bertanya kepadanya tentang akhlak Rasul. Ia menjawab, ‘Betul. Akhlak Rasul saw adalah Al-Qur’an.’” (HR. Muslim).
5. Muhasabah
Muhasabah artinya merenungkan diri dari amalan-amalan yang telah lalu dengan cara mengangan-angankan dengan pikiran dan perasaan untuk memikirkan diri merasakan perilaku ketika dilakukan suatu amalan tertentu.
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al-Hasyr: 18). Umar radhiyallahu ‘anhu juga berpesan: “Telitilah dirimu sebelum kamu diteliti dan timbanglah dirimu sebelum dirimu ditimbang.”
Hikmah Membaca Al-Qur’an dengan Menerapkan Adab
Membaca Al-Qur’an dengan menerapkan adab-adab yang telah dijelaskan akan mendatangkan keutamaan yang sangat besar, baik di dunia maupun di akhirat. Berikut beberapa keutamaan tersebut.
1. Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda
Setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an akan mendatangkan pahala, dan pahala tersebut dilipatgandakan sepuluh kali. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).
Prof. Dr. Mahmud Al-Dausary dalam kitabnya menegaskan bahwa keutamaan ini berlaku untuk setiap huruf yang dibaca, tanpa terkecuali.
2. Mendapatkan Syafaat pada Hari Kiamat
Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya. Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim).
Syafaat Al-Qur’an mencegah seseorang jatuh dalam kobaran api neraka, sedangkan syafaat yang lain mengangkat dan menyelamatkan seseorang dari kobaran api neraka. Artinya, seorang yang mendapatkan syafaat Al-Qur’an akan tercegah dan tidak sampai jatuh dalam kobaran api neraka.
3. Menenangkan Hati dan Meredakan Kecemasan
Membaca Al-Qur’an memiliki efek psikologis yang sangat positif bagi pembacanya. Allah Ta’ala berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Dalam Jurnal Adab Membaca Al-Qur’an karya Musthofa, dijelaskan bahwa hati yang diberdayakan untuk merasakan keheningan bacaan akan memunculkan perasaan senang dan rasa kagum terhadap kandungan Al-Qur’an. Dengan perlindungan Allah dari godaan setan, hati seorang pembaca Al-Qur’an dapat tenang dan konsentrasi ketika membacanya.
4. Mendapatkan Perlindungan dari Segala Keburukan
Membaca Al-Qur’an secara rutin akan menjaga seorang muslim dari segala bentuk keburukan. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca tiga surat ini (Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas) tiga kali di waktu pagi dan sore, maka itu akan mencukupinya dari segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud).
An-Nawawi RA dalam kitab Al-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an menjelaskan bahwa ta’awudz yang dibaca sebelum tilawah akan menjauhkan setan dari pembaca Al-Qur’an.
5. Mengangkat Derajat di Dunia dan Akhirat
Allah akan mengangkat derajat sebagian manusia dengan Al-Qur’an dan merendahkan sebagian yang lainnya, yaitu mereka yang berpaling atau mengabaikannya. Prof. Dr. Mahmud Al-Dausary menjelaskan bahwa seorang qari’ Al-Qur’an akan tinggi derajatnya di dunia dan akhirat, karena Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan Kitab ini dan merendahkan yang lainnya.” (HR. Muslim).
Keutamaan Membaca Al-Qur’an secara Istiqamah
Membaca Al-Qur’an secara istiqamah, yaitu konsisten dan berkelanjutan, memiliki keutamaan yang lebih besar daripada membaca banyak tetapi hanya sesekali. Berikut beberapa keutamaan membaca Al-Qur’an secara istiqamah.
1. Dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya
Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan membaca Al-Qur’an secara istiqamah, seorang muslim menunjukkan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, karena Al-Qur’an adalah Kalamullah yang paling agung.
2. Mendapatkan Syafaat Al-Qur’an di Hari Kiamat
Dalam hadis Rasulullah dikatakan bahwa orang yang istiqamah dalam membaca Al-Qur’an kelak di hari kiamat ia akan disyafaati atau ditolong oleh Al-Qur’an. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada pemberi syafaat (penolong) yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan Nabi, bukan malaikat, dan bukan pula yang lain.” (HR. Abdul Malik bin Habib).
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa orang yang istiqamah membaca Al-Qur’an akan mendapatkan syafaat yang tidak diberikan kepada selainnya.
3. Hati Menjadi Hidup dan Terhindar dari Kelalaian
Membaca Al-Qur’an secara istiqamah akan menghidupkan hati dan menjauhkan seseorang dari kelalaian. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an siang atau malam 50 ayat niscaya tidak tergolong orang-orang yang melalaikan (Al-Qur’an).” (HR. Ibnu Sinni).
Kementerian Agama RI dalam artikel The Power of Qiraah menjelaskan bahwa kalimat “Bacalah Al-Qur’an” dapat dipahami sebagai perintah membaca secara tekstual maupun perintah tadabbur isi kandungannya. Mayoritas ulama memahami perintah ini dengan membaca secara tekstual secara istiqamah setiap hari.
4. Pahala yang Terus Mengalir
Membaca Al-Qur’an secara istiqamah akan mendatangkan pahala yang terus mengalir, bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Di antara buah manfaat membaca Al-Qur’an adalah bahwa seorang pembaca Al-Qur’an akan menjadi sebab kedua orang tuanya mendapatkan rahmat Allah dan menikmati kenikmatan surga, sebagai balasan atas bacaan Al-Qur’an anak mereka.
5. Meningkatkan Kualitas Iman dan Ketakwaan
Membaca Al-Qur’an secara istiqamah akan meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan seseorang. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka apabila disebut nama Allah gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka.” (QS. Al-Anfal: 2).
Musthofa dalam jurnalnya menjelaskan bahwa menghayati bacaan Al-Qur’an dapat membuka tabir yang menghalangi masuknya kesadaran jiwa untuk memperdalam isi kandungannya.
Pertanyaan Seputar Adab Membaca Al Quran
1. Apa saja adab membaca Al-Qur’an yang paling utama?
Adab membaca Al-Qur’an yang paling utama meliputi: niat ikhlas karena Allah, suci dari hadas, menghadap kiblat, menutup aurat, berpakaian bersih dan suci, berada di tempat yang tidak najis, membaca ta’awudz dan basmalah, membaca dengan tartil, memperindah bacaan, mengingat isi bacaan, menghayati bacaan, dan menangis ketika membaca. Imam An-Nawawi dalam Al-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an merinci adab-adab ini secara lengkap.
2. Apa hukum membaca ta’awudz sebelum membaca Al-Qur’an?
Hukumnya sunnah, tidak wajib. Namun, mengamalkannya sangat dianjurkan karena merupakan perintah Allah dalam QS. An-Nahl: 98 dan teladan dari Rasulullah SAW. Al-Nawawi RA dalam Al-Tibyan menjelaskan bahwa membaca ta’awudz hukumnya sunnah dan tidak wajib.
3. Apakah boleh membaca Al-Qur’an dalam keadaan berhadats?
Menurut ijma’ para ulama, membaca Al-Qur’an dalam keadaan berhadats adalah boleh. Namun, berwudhu adalah bentuk penyempurnaan dan penghormatan terhadap Kalamullah. Al-Nawawi RA mengatakan bahwa jika seseorang membaca dalam keadaan berhadats, maka itu boleh menurut ijma’ para ulama.
4. Apa keutamaan membaca Al-Qur’an secara istiqamah?
Keutamaan membaca Al-Qur’an secara istiqamah antara lain: dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, mendapatkan syafaat Al-Qur’an di hari kiamat, hati menjadi hidup dan terhindar dari kelalaian, pahala yang terus mengalir, serta meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan.
5. Bagaimana cara agar istiqamah membaca Al-Qur’an?
Mulailah dengan target yang ringan, misalnya membaca beberapa ayat setelah setiap shalat fardhu. Kaitkan dengan kebiasaan yang sudah ada, dan ingatlah selalu keutamaan serta hikmah yang akan diperoleh. Prof. Dr. Mahmud Al-Dausary dalam kitabnya menjelaskan bahwa menghizibkan Al-Qur’an, yaitu menetapkan bagian harian tertentu untuk dibaca, adalah salah satu sunnah yang telah diabaikan oleh banyak penuntut ilmu.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4057548/original/020107600_1655630991-daftar_makanan_berbahaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334225/original/010172500_1787825621-demo_motor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152114/original/020170500_1741235399-cek_fakta_bank_mandiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4588612/original/076171200_1695698562-20230926-Bansos-Beras-Arbas-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4637359/original/021769800_1699254998-pexels-timur-weber-9127593.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919191/original/040795900_1723718109-Ilustrasi_pasrah__berserah__berdoa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374034/original/034702600_1792031440-IMG-20261015-WA0016.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374026/original/060853100_1792030610-IMG_20261014_234940.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333118/original/065161300_1787732519-85239.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373961/original/094425200_1792023675-WhatsApp-Image-2026-10-14-at-3.03.36-PM-768x435.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4344696/original/048405500_1677815277-hands-women-who-raise-their-hands.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358391/original/097438700_1790337860-1186644.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373957/original/096541300_1792020246-3a90f760-d4a0-4efd-aab5-58d673bdd006.jpg)