Liputan6.com, Jakarta - Surat Al-Qasas ayat 83 tentang balasan bagi orang yang tidak menyombongkan diri menjadi salah satu ayat kunci yang menutup kisah tragis Qarun, tokoh kaya raya dari kaum Nabi Musa yang binasa akibat kesombongan dan kelalaiannya terhadap amanah harta. Ayat ini memuat kriteria penghuni negeri akhirat yang sesungguhnya.
Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa negeri akhirat, dengan segala kenikmatan abadi di dalamnya, hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi.
Dalam konteks modern yang ditandai ketimpangan ekonomi, budaya pamer kekayaan (flexing), dan korupsi, pesan ayat ini semakin relevan untuk direnungkan. Kisah Qarun dan harta yang dibangga-banggakannya binasa karena kesombongan menjadi ibrah (pelajaran) yang patut direnungkan.
Advertisement
Dalam konteks praksis, Lalu M. Tatis Mauladuddin F dalam studinya yang berjudul Nilai-Nilai Maqāṣid pada Kisah Qarun dalam QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 76-83 (2024) mengungkapkan bahwa ayat ini mengandung prinsip-prinsip Maqāṣid al-Syarī'ah seperti hifẓ al-māl (menjaga harta), hifẓ al-nafs (menjaga jiwa), dan hifẓ al-bī'ah (menjaga lingkungan) yang sangat relevan dengan realitas zaman sekarang.
Merujuk literatur klasik dan kontemporer, berikut ini adalah ulasan mendalam mengenai surat Al-Qasas ayat 83 tentang balasan bagi orang yang tidak menyombongkan diri.
Teks Lengkap Surat Al-Qasas Ayat 83
Berikut teks lengkap Surat Al-Qasas ayat 83 beserta transliterasi dan terjemahannya:
Arab: تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Latin: Tilka ad-dārul-ākhiratu naj'alūhā lilladzīna lā yurīdūna 'uluwwan fīl-arḍi wa lā fasādā, wal-'āqibatu lil-muttaqīn
Artinya: "Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Kesudahan (yang baik, yakni surga) itu (disediakan) bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Qasas [28]: 83)
Tafsir Surat Al-Qasas Ayat 83
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini dijelaskan bahwa Allah SWT mengabarkan bahwa negeri akhirat beserta kenikmatan abadi yang tidak akan berubah atau sirna diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan rendah hati. Mereka adalah orang-orang yang tidak berlaku sombong dan tidak menentang kebenaran dengan kesewenang-wenangan di muka bumi.
Menurut Ibnu Katsir, frasa "tidak menyombongkan diri" (lā yurīdūna 'uluwwan) merujuk pada sikap angkuh dan tirani. Sementara itu, "tidak berbuat kerusakan" (wa lā fasādā) bermakna tidak melakukan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Dalam kitab tersebut, diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib RA berkata: "Jika seseorang ingin agar tali sandalnya lebih baik daripada tali sandal temannya, maka ia termasuk orang yang disebut dalam ayat ini".
Ibnu Katsir juga mengutip hadis sahih dari Nabi Muhammad SAW: "Telah diwahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu (rendah hati) sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri terhadap yang lain dan tidak ada yang berlaku zalim terhadap yang lain."
Namun, jika seseorang sekadar ingin tampil rapi dan baik, maka hal itu bukanlah kesombongan. Nabi SAW pernah ditanya oleh seorang laki-laki yang menyukai pakaian dan sandalnya bagus: "Apakah itu kesombongan?" Nabi menjawab, "Tidak. Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain."
Dalam Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur'an, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penutup kisah Qarun yang binasa akibat keangkuhannya. Beliau menafsirkan bahwa negeri akhirat, surga, hanya diperuntukkan bagi orang-orang Mukmin yang taat, yang tidak menginginkan kekuasaan di dunia dan tidak condong kepada kerusakan dengan melaksanakan kemaksiatan.
Quraish Shihab menekankan bahwa kesudahan yang baik berupa surga dan keridaan Allah hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang kalbunya penuh dengan keimanan karena rasa takut kepada Allah, sehingga mereka tahu apa yang diridai-Nya dan berusaha melaksanakannya.
Menurut beliau, ayat ini mengajarkan bahwa kebahagiaan hakiki tidak akan pernah diperoleh oleh orang-orang yang bersikap seperti Qarun, yang memuja kekayaan dan kekuasaan sebagai tujuan akhir hidup.
Asbabun Nuzul Surat Al-Qasas Ayat 83
Asbabun nuzul atau sebab turunnya Surat Al-Qasas ayat 83 masih menjadi perdebatan di kalangan ulama tafsir. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa ayat ini turun sebagai tasliyah (penghibur) bagi Nabi Muhammad SAW ketika beliau dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, tepatnya di daerah Juhfah. Pada saat itu, Nabi SAW merasa sedih karena harus meninggalkan kota Makkah, tempat kelahirannya.
Beberapa mufasir juga mengaitkan ayat ini dengan konteks umum kisah Qarun yang disebutkan sebelumnya. Ayat ini berfungsi sebagai penutup dan pelajaran universal dari kisah tersebut: bahwa kesombongan dan kerusakan di muka bumi adalah sifat yang menghalangi seseorang dari kebahagiaan akhirat.
Menurut riwayat yang dikutip dalam Tafsir al-Qurṭubī, Al-Kalbi dan Muqatil menyatakan bahwa "menyombongkan diri" dalam ayat ini bermakna kesombongan untuk beriman, sedangkan "berbuat kerusakan" adalah mengajak kepada penyembahan selain Allah.
Kandungan Pesan Mendalam Surat Al-Qasas Ayat 83
Ayat ini mengandung beberapa pesan mendalam yang perlu dipahami oleh setiap Muslim:
1. Kriteria Penghuni Surga
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan dua kriteria utama penghuni surga: tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Kedua kriteria ini bukan hanya sekadar sikap pasif, melainkan mencerminkan kualitas hati dan perbuatan yang aktif dalam kebaikan.
2. Keseimbangan Dunia dan Akhirat
Ayat ini mengajarkan bahwa orientasi hidup seorang Muslim haruslah seimbang. Mengejar kesuksesan duniawi diperbolehkan, tetapi tidak boleh sampai melupakan tujuan akhirat. Negeri akhirat adalah tujuan utama yang harus diperjuangkan dengan cara-cara yang benar.
3. Larangan Kesombongan dan Kerusakan
Kesombongan ('uluww) dan kerusakan (fasād) adalah dua sifat yang saling berkaitan. Kesombongan sering kali menjadi akar dari berbagai bentuk kerusakan sosial, seperti ketidakadilan, eksploitasi, dan penindasan. Qarun adalah contoh sempurna bagaimana kesombongan dapat menghancurkan kehidupan seseorang, baik di dunia maupun di akhirat.
4. Takwa sebagai Kunci Kebahagiaan
Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa "kesudahan yang baik" (al-'āqibah) hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa. Takwa bukan sekadar menjalankan ritual ibadah, tetapi juga mencakup kesadaran sosial dan tanggung jawab moral terhadap sesama manusia dan lingkungan.
5. Respons terhadap Fenomena Flexing dan Materialisme
Dalam konteks zaman sekarang, ayat ini menjadi kritik tajam terhadap budaya pamer kekayaan (flexing) dan gaya hidup materialistis. Fenomena tersebut mencerminkan sikap Qarun yang lupa bahwa harta adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan.
Hikmah Memahami Makna Mendalam Surat Al-Qasas Ayat 83
Berikut lima hikmah yang dapat dipetik dari pemahaman mendalam terhadap Surat Al-Qasas ayat 83:
1. Hikmah Spiritual: Kesombongan Menutup Pintu Surga
Ayat ini mengingatkan bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang dapat menghalangi seseorang dari rahmat Allah. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji dzarrah dari sifat kesombongan." (HR. Muslim). Hikmah ini mengajak setiap Muslim untuk terus membersihkan hati dari sifat angkuh dan merasa lebih baik dari orang lain.
2. Hikmah Sosial: Tanggung Jawab terhadap Kekayaan
Kekayaan bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai kemaslahatan. Qarun gagal memahami hal ini dan menggunakan kekayaannya untuk membanggakan diri, bukan untuk membantu sesama. Hikmah ini relevan dengan isu ketimpangan ekonomi dan korupsi yang masih menjadi masalah besar di Indonesia. Penelitian dalam skripsi Lalu M. Tatis Mauladuddin F. menekankan bahwa hifẓ al-māl (menjaga harta) bukan berarti menimbun harta, melainkan mengelolanya secara bertanggung jawab untuk kemaslahatan bersama.
3. Hikmah Moral: Kerusakan di Bumi adalah Akibat dari Kesombongan
Ayat ini menunjukkan korelasi antara kesombongan dan kerusakan. Ketika manusia merasa superior dan berhak melakukan apa saja, mereka cenderung mengabaikan dampak tindakannya terhadap orang lain dan lingkungan. Hikmah ini menegaskan pentingnya kesadaran moral dalam setiap tindakan, terutama yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam.
4. Hikmah Edukatif: Pentingnya Pendidikan Karakter
Kisah Qarun dan ayat penutupnya memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya pendidikan karakter, terutama dalam hal kerendahan hati dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks pendidikan modern, nilai-nilai ini perlu ditanamkan sejak dini agar generasi mendatang tidak terjebak dalam pola pikir materialistis dan egois.
5. Hikmah Eskatologis: Akhirat adalah Tujuan Akhir
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Kesudahan yang baik (al-'āqibah) hanya dapat diraih oleh orang-orang yang bertakwa. Hikmah ini mengajak setiap Muslim untuk menjadikan akhirat sebagai orientasi utama dalam hidup, tanpa mengabaikan tanggung jawab duniawi.
Pertanyaan Seputar Surat Al Qasas
Apa itu Surat Al-Qasas ayat 83?
Surat Al-Qasas ayat 83 adalah ayat dalam Al-Qur'an yang menyatakan bahwa negeri akhirat diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi, serta menegaskan bahwa kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
Siapa Qarun dalam Al-Qur'an?
Qarun adalah tokoh kaya raya dari kaum Nabi Musa yang disebutkan dalam Surat Al-Qasas ayat 76-83. Ia dikaruniai kekayaan melimpah namun berlaku sombong dan berbuat kerusakan, sehingga akhirnya binasa beserta hartanya.
Apa pesan utama Surat Al-Qasas ayat 83?
Pesan utamanya adalah bahwa kesombongan dan kerusakan di muka bumi adalah sifat yang menghalangi seseorang dari kebahagiaan akhirat. Surga hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang rendah hati dan bertakwa.
Apa hubungan ayat 83 dengan kisah Qarun?
Ayat 83 merupakan penutup dari kisah Qarun (ayat 76-82). Setelah menceritakan kebinasaan Qarun akibat kesombongannya, Allah menegaskan bahwa negeri akhirat hanya untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan.
Apa hikmah utama dari Surat Al-Qasas ayat 83?
Hikmah utamanya adalah pentingnya kerendahan hati, tanggung jawab sosial terhadap kekayaan, dan orientasi hidup yang seimbang antara dunia dan akhirat. Ayat ini juga menjadi kritik terhadap budaya pamer kekayaan dan materialisme.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361587/original/019138200_1790739278-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-30T103330.320.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539434/original/056891000_1774600557-SPPI_koperasi_desa_merah_putih.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668432/original/066093000_1782703201-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T101610.906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360761/original/003778800_1790664222-Your_paragraph_text__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627020/original/000666700_1782622344-aoun-abbas-97o4XH0htUs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361522/original/073587900_1790736028-1001133073.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361492/original/095893700_1790734831-IMG-20260929-WA0025.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361490/original/032905700_1790734429-1200541.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361413/original/099997500_1790728846-1001134339.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361230/original/098671200_1790685133-27125.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361404/original/083274400_1790725452-WhatsApp-Image-2026-09-29-at-8.17.29-PM-768x432.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/528680/original/mayat-ilustrasi-131212b.jpg)