Ayat Al-Qur’an tentang Perintah Memperbanyak Dzikir kepada Allah, Simak Tafsir dan Kandungannya

Umat Islam dianjurkan senantiasa berdzikir atau secara harfiah diartikan sebagai mengingat Allah.

Diterbitkan 30 September 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Umat Islam dianjurkan senantiasa berdzikir atau secara harfiah diartikan sebagai mengingat Allah. Terdapat berbagai ayat Al-Qur’an tentang perintah memperbanyak dzikir kepada Allah menjadi landasan untuk mengamalkannya.

Allah SWT tidak hanya menganjurkan, tetapi memerintahkan secara tegas kepada orang-orang beriman untuk senantiasa mengingat-Nya tanpa batas waktu dan tempat. Di antaranya dalam QS. Al-Ahzab ayat 41, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya".

Perintah ini bersifat mutlak dan tidak terikat jumlah tertentu, berbeda dengan ibadah lain yang memiliki batasan syariat. Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih dalam kitabnya Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW menegaskan bahwa zikir merupakan amalan yang hukumnya mustahab (dianjurkan) namun memiliki keutamaan luar biasa. Salah satu dampak positif menjaga sunnah zikir adalah tercapainya derajat kecintaan kepada Allah.

Dr. MS. Udin, MA dalam buku Konsep Dzikir dalam Al-Qur'an dan Implikasinya terhadap Kesehatan yang menyatakan bahwa zikir mampu menghidupkan hati, menenangkan jiwa, dan bahkan memberikan efek positif terhadap kesehatan fisik dan mental.

Dengan demikian, memahami ayat-ayat Al-Qur'an tentang perintah memperbanyak dzikir bisa menjadi landasan umat Islam untuk menggapai ketenangan hati, kesehatan jiwa, dan kedekatan dengan Allah SWT.

Merujuk berbagai sumber, artikel ini akan mengulas secara lengkap ayat-ayat tersebut, kandungannya, penjelasan ulama, serta hikmah yang terkandung di dalamnya.

Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Perintah Memperbanyak Dzikir kepada Allah

1. QS. Al-Ahzab [33]: 41-42

Teks Arab: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا

Latin: Yā ayyuhal-lażīna āmanużkurullāha żikran kaṡīrā(n), wa sabbiḥūhu bukratan wa aṣīlā(n).

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."

Imam Ibnu Katsir RA dalam Tafsir al-Qur'an al-Azhim menjelaskan bahwa Allah SWT menginstruksikan kepada para hamba-Nya yang beriman agar memperbanyak mengingat dan menyebut asma-Nya yang memberikan limpahan kenikmatan dan anugerah

Ibnu Katsir juga menegaskan bahwa Allah tidak menetapkan batasan jumlah tertentu untuk zikir, berbeda dengan ibadah lain seperti shalat, zakat, dan puasa yang memiliki kadar dan waktu tertentu. Zikir adalah satu-satunya ibadah yang tidak memiliki batas dan tidak ada uzur untuk meninggalkannya kecuali bagi orang yang benar-benar dikuasai kelalaian.

2. QS. Al-Ahzab [33]: 35

Teks Arab: وَالذَّاكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذَّاكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا

Latin: Waż-żākirīnallāha kaṡīran waż-żākirāti a'addallāhu lahum magfiratan wa ajran 'aẓīmā(n).

Artinya: "Dan laki-laki serta perempuan yang banyak menyebut (asma) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar."

Ayat ini menempatkan orang-orang yang banyak berdzikir di antara kelompok hamba yang memperoleh keutamaan di sisi Allah. Dalam penjelasan Ibnu Katsir, ayat ini menyebut berbagai sifat terpuji, seperti Islam, iman, ketaatan, kejujuran, kesabaran, kekhusyukan, sedekah, puasa, menjaga kehormatan, kemudian ditutup dengan sifat banyak berdzikir kepada Allah.

Menariknya, Allah menyebut laki-laki dan perempuan secara bersamaan. Ini menunjukkan bahwa keutamaan dzikir terbuka bagi seluruh orang beriman tanpa membedakan jenis kelamin.

Allah kemudian memberikan dua balasan: maghfirah (ampunan) dan ajran 'azhīman (pahala yang besar). Dengan demikian, dzikir bukan sekadar aktivitas lisan, tetapi menjadi salah satu amal yang dikaitkan dengan pengampunan dosa dan pahala yang besar dari Allah.

3. QS. Al-Baqarah [2]: 152

Teks Arab: فَاذْكُرُوْنِيْ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

Latin: Fażkurūnī ażkurkum wasykurū lī wa lā takfurūn(i).

Artinya: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."

Ayat ini menggambarkan hubungan yang sangat erat antara dzikir seorang hamba dan perhatian Allah kepadanya. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang mengingat Allah akan mendapatkan balasan dari Allah. Dalam tafsirnya juga dinukil perkataan sejumlah ulama salaf bahwa Allah mengingat orang yang mengingat-Nya, menambah nikmat bagi orang yang bersyukur, dan memberikan balasan kepada orang yang mengingkari nikmat-Nya.

Makna “ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kepadamu” tidak berarti dzikir manusia sama dengan dzikir Allah. Dzikir manusia adalah bentuk ibadah, pengagungan, dan ketaatan kepada-Nya. Sementara “Allah mengingat” hamba menunjukkan perhatian, rahmat, pertolongan, pujian, dan balasan kebaikan dari Allah sesuai dengan konteksnya.

Ayat ini juga menghubungkan dzikir dengan syukur. Setelah memerintahkan manusia mengingat-Nya, Allah memerintahkan mereka bersyukur dan melarang mengingkari nikmat. Dengan demikian, dzikir yang benar semestinya melahirkan kesadaran terhadap nikmat Allah dan mendorong seseorang menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan.

4. QS. Ar-Ra'd [13]: 28

Teks Arab: الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

Latin: Allażīna āmanū wa taṭma'innu qulūbuhum biżikrillāh(i), alā biżikrillāhi taṭma'innul-qulūb(u).

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

Menurut Ibnu Katsir, orang-orang beriman adalah mereka yang hati mereka menjadi baik, tenang, dan tenteram ketika mengingat Allah. Hati mereka merasa dekat dan bersandar kepada Allah serta menerima-Nya sebagai pelindung dan penolong.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa ketenteraman yang dimaksud bukan sekadar rasa nyaman sesaat. Dzikir menumbuhkan ketenangan yang bersumber dari keimanan dan ketergantungan kepada Allah. Seorang mukmin menyadari bahwa kehidupannya berada dalam ilmu, kehendak, dan kekuasaan Allah.

Karena itu, ketika menghadapi persoalan, ketidakpastian, atau berbagai ujian kehidupan, dzikir dapat menjadi sarana untuk mengembalikan hati kepada Allah. Kalimat penegasan “أَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ” menunjukkan bahwa ketenteraman hati yang hakiki berkaitan erat dengan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

5. QS. Al-A'raf [7]: 205

Teks Arab: وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ

Latin: Ważkur rabbaka fī nafsika taḍarru'an wa khīfatan wa dūnal-jahri minal-qauli bil-guduwwi wal-āṣāli wa lā takum minal-gāfilīn(a).

Artinya: "Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai."

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk mengingat Allah pada awal dan akhir hari, disertai sikap tadharru' atau merendahkan diri di hadapan Allah serta khīfah, yakni rasa takut kepada-Nya.

Ayat ini juga memberikan arahan mengenai cara berdzikir, yaitu “وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ”, tidak dengan suara yang terlalu keras. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dzikir hendaknya tidak dilakukan dengan suara yang berlebihan atau seperti berteriak.

Hal tersebut menunjukkan bahwa inti dzikir bukan sekadar keras atau pelannya suara, tetapi kehadiran hati ketika mengingat Allah. Dzikir yang ideal menghadirkan kerendahan hati, rasa takut sekaligus harapan kepada Allah.

Ayat ini kemudian ditutup dengan larangan menjadi orang-orang yang lalai. Dengan demikian, lawan dari dzikir bukan sekadar diamnya lisan, tetapi keadaan hati yang jauh dari mengingat Allah.

Kandungan Ayat-Ayat tentang Perintah Memperbanyak Dzikir

1. Perintah Zikir Bersifat Mutlak dan Tanpa Batas

Berbeda dengan perintah shalat yang memiliki waktu tertentu, zakat yang memiliki nisab, atau puasa yang memiliki batas waktu, zikir diperintahkan tanpa batasan jumlah dan waktu. Dr. Amr Khaled dalam kajiannya yang dikutip Republika menjelaskan bahwa berdzikir adalah satu-satunya ibadah yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya dengan sebanyak-banyaknya. Ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan zikir dalam Islam.

2. Zikir sebagai Sarana Ketenangan Jiwa

QS. Ar-Ra'd ayat 28 secara tegas menyatakan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Dr. MS. Udin, MA menjelaskan bahwa ketenangan jiwa tidak bisa dicapai hanya dengan harta, kedudukan, atau hiburan duniawi. Hati baru merasakan damai jika ia dekat dengan Allah melalui zikir.

3. Zikir Mencakup Hati, Lisan, dan Perbuatan

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa zikir bukan sekadar menyebut nama Allah dengan lisan, tetapi juga menghadirkan kesadaran hati terhadap apa yang diingat. Zikir yang hakiki adalah ketika hati dan lisan bersinergi dalam mengingat Allah. Ini sejalan dengan penjelasan Muhammadiyah yang menyatakan bahwa zikir berarti mengingat Allah dengan hati, lisan, dan perbuatan.

4. Balasan Zikir adalah Ampunan dan Pahala yang Besar

QS. Al-Ahzab ayat 35 menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar dari Allah. Ini menunjukkan bahwa zikir tidak hanya berdampak pada ketenangan jiwa di dunia, tetapi juga menjadi investasi amal untuk kehidupan akhirat.

5. Zikir Harus Dilakukan dengan Khusyuk dan Penuh Adab

QS. Al-A'raf ayat 205 memberikan tuntunan tentang adab berzikir: dilakukan dengan merendahkan diri, rasa takut, tidak mengeraskan suara, serta dilakukan pada waktu pagi dan petang. Ibnu Qayyim dalam Al-Wabil ash-Shaib menjelaskan bahwa zikir yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan akan menghadirkan kesenangan, kegembiraan, kekuatan, dan kehidupan ke dalam hati.

Hikmah Ayat Al-Qur'an tentang Perintah Memperbanyak Dzikir

1. Menghilangkan Kesusahan, Kesedihan, dan Kegundahan Hati

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Al-Wabil ash-Shaib menyatakan bahwa zikir dapat menghilangkan kesusahan, kesedihan, dan kegundahan dari hati. Beliau menganalogikan zikir bagi hati seperti air bagi ikan—tanpa zikir, hati akan "merana" dan kehilangan kehidupan. Dr. MS. Udin, MA menambahkan bahwa dzikir mampu menjadi alat penyeimbang (equilibrium) bagi jiwa dan rohani manusia.

2. Mendatangkan Ketenangan dan Kesehatan Jiwa

QS. Ar-Ra'd ayat 28 menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Penelitian ilmiah yang dikutip Dr. MS. Udin, MA menunjukkan bahwa dzikir terbukti efektif dalam menurunkan kecemasan, mengurangi stres, meningkatkan ketenangan jiwa, dan memperkuat stabilitas emosi. Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari menyatakan bahwa zikir dan doa merupakan terapi psikiatrik setingkat lebih tinggi dari psikoterapi biasa.

3. Mendapatkan Ampunan dan Pahala yang Besar

QS. Al-Ahzab ayat 35 menjanjikan ampunan dan pahala yang besar bagi laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir. Syaikh Sa'id bin 'Ali bin Wahf al-Qahthani dalam kitab Dzikir Pagi dan Petang menjelaskan bahwa salah satu keutamaan zikir adalah dihapuskannya dosa-dosa meskipun sebanyak buih di lautan.

4. Dijauhkan dari Setan dan Terhindar dari Maksiat

Ibnu Qayyim dalam bukunya yang dikutip Republika menyatakan bahwa salah satu keutamaan dzikir adalah menjauhkan diri dari setan. Seseorang yang hatinya senantiasa berzikir akan selalu ingat perintah dan larangan Allah, sehingga terhindar dari perbuatan maksiat yang dilakukan tanpa sengaja.

5. Mendapatkan Kehidupan yang Hakiki dan Pahala yang Tidak Terputus

Nabi SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abu Musa al-Asy'ari: "Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya itu seperti perbandingan orang yang hidup dengan orang yang mati." (HR. Bukhari). Zikir menjadikan hati hidup dan bercahaya, sedangkan kelalaian dari zikir adalah kematian hati.

 

Pertanyaan Seputar Ayat Al Quran

1. Apa saja ayat Al-Qur'an yang memerintahkan untuk memperbanyak dzikir?

Ayat-ayat utama yang memerintahkan memperbanyak dzikir antara lain QS. Al-Ahzab [33]: 41-42, QS. Al-Ahzab [33]: 35, QS. Al-Baqarah [2]: 152, QS. Ar-Ra'd [13]: 28, dan QS. Al-A'raf [7]: 205. Semua ayat ini menekankan pentingnya mengingat Allah tanpa batas waktu dan tempat.

2. Mengapa dzikir disebut sebagai ibadah yang tidak memiliki batasan jumlah?

Karena Allah SWT tidak menetapkan kadar tertentu untuk zikir, berbeda dengan shalat, zakat, atau puasa. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa zikir adalah satu-satunya ibadah yang tidak memiliki batas dan tidak ada uzur untuk meninggalkannya kecuali bagi orang yang benar-benar dikuasai kelalaian.

3. Bagaimana cara berdzikir yang benar menurut Al-Qur'an dan Sunnah?

Berdasarkan QS. Al-A'raf ayat 205, zikir hendaknya dilakukan dengan merendahkan diri, rasa takut, tidak mengeraskan suara, serta dilakukan pada waktu pagi dan petang. Imam al-Qurthubi menambahkan bahwa zikir harus dilakukan dengan sepenuh hati dan lidah.

4. Apa dampak dzikir bagi kesehatan mental dan fisik?

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa dzikir efektif dalam menurunkan kecemasan, mengurangi stres, meningkatkan ketenangan jiwa, dan memperkuat stabilitas emosi. Dr. MS. Udin, MA menjelaskan bahwa zikir mampu mengaktifkan sistem kekebalan tubuh dan mempercepat proses penyembuhan penyakit.

5. Siapa saja ulama yang menjelaskan keutamaan dzikir?

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-Azhim, Imam al-Qurthubi dalam Tafsir al-Qurthubi, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Al-Wabil ash-Shaib, Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar, dan Syaikh Sa'id bin 'Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Dzikir Pagi dan Petang adalah beberapa ulama yang secara khusus membahas keutamaan dan tata cara dzikir.