Demi Oleh-Oleh, Jemaah Haji Kenakan Pakaian hingga 10 Lapis

Sejumlah jemaah haji sempat tertahan di pemeriksaan keamanan karena membawa barang melebihi kapasitas kabin pesawat.

Diterbitkan 21 Juni 2026, 13:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di sudut ruang tunggu keberangkatan Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz, Madinah, ada pemandangan yang mengundang senyum. Sejumlah jemaah haji Indonesia berdiri dengan tubuh yang tampak lebih besar dari biasanya. Bukan karena berat badan bertambah dalam hitungan menit, melainkan karena pakaian berlapis-lapis yang mereka kenakan.

Ada yang memakai gamis hingga beberapa lapis, ada pula yang menumpuk kain ihram bersama pakaian lainnya. Semua dilakukan demi satu tujuan: membawa pulang oleh-oleh dari Tanah Suci untuk keluarga di Indonesia.

Di tengah situasi itu, sosok dengan gerakan cepat dan cekatan menjadi penentu. Tangannya sibuk memilah pakaian dari tas jemaah, lalu mengatur mana yang bisa dikenakan agar barang bawaan lebih ringan.

Dia adalah Peltu M. Firdaus, petugas Perlindungan Jemaah (Linjam) Daerah Kerja (Daker) Bandara. Dengan senyum yang menenangkan, ia membantu jemaah yang tertahan di pemeriksaan keamanan karena membawa barang melebihi kapasitas kabin pesawat.

“Kadang sampai sembilan atau sepuluh lapis,” ujar Firdaus kepada tim Media Center Haji usai membantu jemaah asal Madura, Jawa Timur, di Madinah, Kamis (18/6/2026).

Bagi Firdaus, pakaian berlapis bukan sekadar cara mengurangi isi tas. Di balik barang bawaan itu, ada cerita tentang keluarga yang menanti buah tangan dari orang tua, pasangan, atau kerabat yang baru selesai menjalankan ibadah haji.

“Saya memang mendandani jemaah haji kita agar barang-barang bawaan mereka bisa lolos pemeriksaan di keberangkatan internasional, khususnya penumpang Saudi Airlines,” kata ayah tiga anak yang sehari-hari bertugas di Mabes TNI itu.

Peristiwa itu terjadi saat belasan jemaah haji asal Madura yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 69 Embarkasi Surabaya (SUB) harus mundur dari jalur masuk ruang tunggu keberangkatan internasional. Barang bawaan mereka dinilai melebihi batas yang diperbolehkan untuk kabin pesawat Saudi Airlines.

Salah satu jemaah yang mengalami kejadian itu adalah Zainab bersama suaminya, Masykur, warga Arosbaya, Bangkalan, Madura.

“Ini saya dan suami tidak boleh masuk ruang tunggu karena tasnya kebesaran,” ujar Zainab sambil mengeluarkan barang-barang dari tas plastik dan tas serutnya.

Mereka kemudian duduk di kursi panjang bandara untuk memilah ulang bawaan. Barang-barang yang dianggap kurang penting, seperti sandal jepit bekas, rentengan sampo sachet, pakaian ganti, serta bungkusan masker, terpaksa dikeluarkan.

Beberapa petugas Linjam turut membantu proses tersebut. Setelah tas dirasa lebih ringan, Zainab dan Masykur kembali mencoba masuk ke jalur pemeriksaan.

Namun, upaya pertama belum berhasil. Isi tas masih dinilai terlalu banyak. Saat itulah Firdaus mengeluarkan jurus andalannya. Ia meminta pasangan tersebut mengeluarkan pakaian yang memenuhi tas dan mengenakannya langsung di tubuh.

Masykur tersenyum melihat banyaknya pakaian yang harus dipakai. “Pak, ini sudah rangkap empat,” katanya.

Firdaus tetap meminta ia menambah lapisan pakaian. “Tidak apa-apa, Pak, pakai lagi ini. Sayang kalau ditinggal,” jawab Firdaus.

Masykur akhirnya mengenakan beberapa lapis pakaian. Zainab pun mengikuti langkah suaminya. Dengan tawa kecil, perempuan setengah baya itu memakai pakaian hingga lebih dari enam lapis.

 

 

Pemeriksaan Lebih Ketat

Pemandangan serupa juga terjadi pada sejumlah jemaah lain. Ada yang sempat merasa malu karena harus mengenakan pakaian bertumpuk, tetapi akhirnya memilih mengikuti arahan petugas demi membawa pulang oleh-oleh untuk keluarga.

Menurut Firdaus, pemeriksaan barang bawaan penumpang Saudi Airlines memang lebih ketat dibandingkan beberapa maskapai lain. Karena itu, jemaah perlu memahami aturan sejak awal agar tidak kesulitan ketika berada di bandara.

Setelah tas jinjing Zainab dan Masykur berkurang hampir separuh, keduanya kembali menuju pintu pemeriksaan keamanan. Kali ini, langkah mereka berjalan lancar.

“Alhamdulillah, lolos, Pak,” ujar Zainab dengan wajah lega.

Bagi Firdaus, keberhasilan kecil itu menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Ia tidak hanya membantu mengatur barang, tetapi juga menjaga perasaan jemaah yang ingin membawa pulang kenangan dari Tanah Suci.

“Bagi saya, ada kebanggaan tersendiri saat mereka melambaikan tangan dan menyampaikan terima kasih,” tandasnya.