Makna Spiritual di Balik Pergantian Kiswah Ka’bah Saat Tahun Baru Islam

Waktu pergantian kiswah Ka’bah diubah menjadi 1 Muharram. Peristiwa itu memiliki sejarah tersendiri.

Diterbitkan 16 Juni 2026, 18:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pergantian kain penutup Ka’bah alias kiswah membawa pesan spiritual tentang pembaruan diri di awal Tahun Baru Islam. Momen tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam untuk mengevaluasi perjalanan ibadah dan memperbaiki kualitas keimanan.

Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daerah Kerja (Daker) Makkah, Erti Herlina mengatakan, pergantian kiswah memiliki makna mendalam karena bertepatan dengan awal bulan dalam kalender Hijriah. Menurut dia, momentum tersebut mencerminkan semangat meninggalkan kekurangan masa lalu dan menyambut perubahan dengan tekad baru.

“Satu Muharram itu menjadi bulan pertama di bulan Hijriah. Pergantian kiswah menjadi simbol bahwa Tahun Baru Islam dipilih sebagai penanda lahirnya semangat baru dan pencucian diri,” kata dia pada tim Media Center Haji di Makkah, Senin, 15 Juni 2026.

Erti menjelaskan, pergantian kiswah juga dilakukan untuk menjaga kesucian, kebersihan, dan keindahan penutup Ka’bah. Selama satu tahun, kain kiswah bersentuhan dengan jutaan jemaah yang melakukan tawaf di Masjidil Haram.

“Bayangkan setiap orang memegang kain penutup Ka’bah itu, dan dalam satu tahun sudah berapa juta yang memegang. Karena itu diperlukan pembaruan untuk tetap menjaga keindahan Baitullah,” ujar dia.

 

Alasan Pergantian Kiswah di 1 Muharram

Ia menyebut, perubahan waktu pergantian kiswah menjadi 1 Muharram memiliki sejarah tersendiri. Sebelumnya, pergantian kiswah dilakukan pada 9 Zulhijah atau malam Arafah. Tradisi tersebut kemudian berubah menjadi 1 Muharram pada 1444 Hijriah atau 2022.

Dari sisi spiritual, Erti memaknai kiswah baru sebagai simbol ajakan untuk membersihkan hati dan memperbaiki amal. Ia mengajak umat Islam menjadikan pergantian kain penutup Ka’bah sebagai refleksi untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan meningkatkan ketakwaan.

“Kita senantiasa memperbarui kualitas spiritual kita. Segala sesuatu yang terselubung dalam hati dan amal kita terus dikoreksi dan diperbaiki. Kalau masih ada hal jelek di masa lalu, kita buang dan kita perbaiki dengan tekad serta semangat yang baru,” tutur Erti.

 

Kiswah Bukan Sekadar Lembaran Kain

Menurut Erti, proses pembuatan kiswah juga menggambarkan bahwa perubahan membutuhkan kesungguhan. Pembuatan kiswah melibatkan ratusan pengrajin dengan kain sutra terbaik serta membutuhkan ketelitian dan kreativitas selama hampir 11 bulan.

“Usaha kita untuk memperbaiki diri juga perlu effort yang luar biasa. Kiswah bukan hanya selembar kain, tetapi ada proses panjang, kesabaran, dan ketelitian di balik pembuatannya,” ujarnya.

Erti menambahkan, pelepasan kiswah lama menjadi simbol pengakuan atas berbagai kekhilafan manusia selama satu tahun sebelumnya. Sementara pemasangan kiswah baru membawa harapan agar umat Islam dapat meningkatkan ketakwaan, keikhlasan, dan ilmu dalam perjalanan menuju Allah SWT.

“Bergantinya kiswah yang baru mengandung harapan, permohonan, dan ketundukan kepada Allah agar kita senantiasa memperbaiki ketakwaan dan keikhlasan,” tandasnya.