Begini Strategi Sunan Drajat Mengembangkan Ekonomi, Inspirasi Masa Kini

Dalam pandangan Sunan Drajat, agama dan ekonomi tidak bisa dipisahkan. Ia percaya bahwa kesejahteraan ekonomi adalah pintu masuk untuk membangun ketenangan batin, sehingga masyarakat lebih mudah menerima nilai-nilai Islam dengan hati yang lapang.

Diterbitkan 24 Oktober 2025, 09:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Strategi Sunan Drajat mengembangkan ekonomi menjadi salah satu warisan paling berharga dalam sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa. Pendekatannya berbeda dari Wali Sanga lain karena berfokus pada kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan sebelum memperdalam pengajaran agama.

Dalam pandangan Sunan Drajat, agama dan ekonomi tidak bisa dipisahkan. Ia percaya bahwa kesejahteraan ekonomi adalah pintu masuk untuk membangun ketenangan batin, sehingga masyarakat lebih mudah menerima nilai-nilai Islam dengan hati yang lapang.

Filosofi dakwah ekonominya berakar pada semangat kerja keras, gotong royong, dan empati terhadap sesama. Bagi Sunan Drajat, ajaran agama bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga tindakan sosial yang konkret untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Pendekatan ini terbukti berhasil membuat wilayah pesisir Lamongan yang dulunya tandus berubah menjadi kawasan yang makmur dan mandiri secara ekonomi.

 

Pemberdayaan Kaum Miskin dan Solidaritas Sosial

Salah satu strategi Sunan Drajat dalam mengembangkan ekonomi adalah pemberdayaan kaum fakir miskin. Ia melihat kemiskinan bukan sekadar masalah materi, melainkan persoalan martabat yang harus diangkat melalui kerja nyata.

Sunan Drajat mendorong masyarakat untuk menolong sesama, memperkuat solidaritas sosial, dan menjadikan gotong royong sebagai jalan menuju kemakmuran bersama.

Ajaran ini kemudian dirumuskan dalam prinsip Catur Piwulang — empat pokok ajaran sosial: memberi tongkat kepada orang buta, memberi makan kepada yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang, dan memberi perlindungan kepada yang kehujanan.

Nilai-nilai tersebut menegaskan bahwa kesejahteraan harus dibangun melalui rasa empati dan tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata atau doa.

 

Pelatihan Keterampilan dan Kemandirian Ekonomi

Selain mengajarkan nilai-nilai sosial, Sunan Drajat juga memberikan pelatihan keterampilan praktis. Ia mengajarkan cara bercocok tanam, berdagang, hingga membuat peralatan sehari-hari.

Tujuannya jelas: agar masyarakat memiliki kemampuan ekonomi yang berkelanjutan. Kemandirian dianggap sebagai wujud ibadah yang nyata karena membantu orang lain keluar dari ketergantungan.

Melalui sistem pengajaran ini, banyak masyarakat pesisir Lamongan yang berhasil meningkatkan taraf hidupnya. Wilayah yang dulunya kering kini menjadi pusat pertanian dan perdagangan lokal.

Pendekatan ini menjadi cikal bakal konsep pemberdayaan masyarakat berbasis pesantren yang berkembang hingga kini.

 

Kemandirian Ekonomi Pesantren

Pondok Pesantren Sunan Drajat di Lamongan menjadi bukti nyata keberhasilan strategi ekonomi Sunan Drajat. Pesantren ini memiliki berbagai unit usaha, mulai dari koperasi, perikanan, peternakan, hingga produksi air minum dalam kemasan.

Model ini mengajarkan santri dan masyarakat sekitar untuk belajar mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual.

Jurnal berjudul Peran Pondok Pesantren Sunan Drajat dalam Pemberdayaan Ekonomi karya Maulia Rahmatika (2019) mencatat bahwa sistem kewirausahaan pesantren ini mampu memberikan lapangan kerja bagi alumni dan masyarakat sekitar.

Kemandirian ekonomi menjadi bagian tak terpisahkan dari misi dakwah Sunan Drajat yang menekankan keseimbangan antara ilmu, iman, dan amal.

 

Ajaran Catur Piwulang dan Pepali Pitu

Selain Catur Piwulang, Sunan Drajat juga mengajarkan falsafah Pepali Pitu, yaitu tujuh nasihat kehidupan yang menekankan kejujuran, kerja keras, dan empati.

Ajaran-ajaran ini menegaskan bahwa ekonomi harus dijalankan dengan prinsip moral dan spiritual. Keuntungan tidak boleh mengorbankan keadilan dan kesejahteraan bersama.

Nilai-nilai ini masih dijadikan pedoman oleh banyak pesantren di Jawa Timur dalam mengelola usaha dan kegiatan sosial.

Dengan demikian, strategi Sunan Drajat bukan sekadar teori dakwah, melainkan sistem sosial yang teruji oleh waktu.

 

Integrasi Ekonomi dan Dakwah Sosial

Sunan Drajat percaya bahwa dakwah tidak akan efektif jika masyarakat hidup dalam kesusahan. Oleh karena itu, ia memulai dakwahnya dengan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar.

Setelah masyarakat sejahtera, barulah ia mengajarkan nilai-nilai tauhid, ibadah, dan akhlak. Pendekatan ini dikenal sebagai dakwah bil amal — berdakwah melalui tindakan nyata.

Pendekatan ini pula yang kemudian menjadi inspirasi bagi gerakan ekonomi pesantren di era modern.

Keberhasilan strategi ekonomi Sunan Drajat membuktikan bahwa Islam bukan hanya ajaran spiritual, tetapi juga solusi sosial-ekonomi yang berkeadilan.

 

Warisan Sosial dan Kewirausahaan Pesantren

Dalam jurnal Strategi Pondok Pesantren Sunan Drajat dalam Mengimplementasikan Branding sebagai Pondok Kewirausahaan (Mufaizah & Iskandar Ritonga, 2020), disebutkan bahwa pesantren kini mengembangkan program ekonomi kreatif untuk santri dan masyarakat.

Program ini meliputi pelatihan kewirausahaan, produksi makanan olahan, hingga pengelolaan digital marketing berbasis pesantren.

Konsep ini selaras dengan semangat rame ing gawe dalam ajaran Walisongo: bekerja keras, tekun, dan saling membantu.

Sunan Drajat menanamkan nilai bahwa kesejahteraan tidak datang dari doa semata, tetapi dari kerja nyata yang disertai niat ikhlas.

 

Sinergi Alumni dan Ekonomi Berbasis Umat

Menurut penelitian Luqmanul Hakim (2022) dalam jurnal Sinergitas Alumni dan Pondok Pesantren Sunan Drajat dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, alumni pesantren berperan besar dalam membangun ekosistem ekonomi umat.

Mereka mendirikan koperasi, toko, hingga unit usaha kecil yang berlandaskan semangat dakwah sosial Sunan Drajat.

Sinergi antara alumni dan pesantren ini menunjukkan bahwa strategi ekonomi Sunan Drajat tetap relevan dalam konteks modern.

Filosofi tersebut menjadi landasan ekonomi Islam berbasis kemaslahatan dan solidaritas sosial.

 

Nilai Spiritualitas dalam Strategi Ekonomi

Dalam seluruh strategi Sunan Drajat, spiritualitas tetap menjadi inti. Ia menekankan bahwa setiap usaha ekonomi harus disertai niat yang benar dan dijalankan dengan kejujuran.

Rezeki yang halal dianggap lebih utama daripada kekayaan yang berlimpah tapi diperoleh dengan cara curang.

Ajaran ini mengakar kuat dalam masyarakat Jawa, terutama di wilayah pesisir utara, yang hingga kini masih menjunjung tinggi etika dalam berdagang dan bekerja.

Sunan Drajat memandang ekonomi bukan sekadar urusan duniawi, tetapi bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

 

Relevansi di Era Modern

Strategi Sunan Drajat mengembangkan ekonomi masih sangat relevan hingga kini. Di tengah kesenjangan sosial dan kemiskinan yang meningkat, ajaran tentang kemandirian dan kepedulian sosial menjadi solusi moral dan praktis.

Pesantren, koperasi, dan komunitas ekonomi umat dapat meneladani model ini untuk menciptakan kemandirian ekonomi berbasis nilai-nilai spiritual.

Filosofi ini menegaskan bahwa kesejahteraan masyarakat akan tercapai jika ekonomi dijalankan dengan semangat tolong-menolong dan tanggung jawab sosial.

Karena itu, strategi Sunan Drajat mengembangkan ekonomi layak disebut sebagai fondasi ekonomi berbasis akhlak yang tetap relevan lintas zaman.

 

People Also Talk

1. Apa yang dimaksud dengan strategi ekonomi Sunan Drajat?Strategi ini adalah pendekatan dakwah berbasis kesejahteraan yang menekankan pemberdayaan masyarakat miskin dan kemandirian ekonomi.

2. Bagaimana Sunan Drajat membantu masyarakat miskin? Dengan mengajarkan keterampilan praktis seperti bercocok tanam dan berdagang, serta mendorong semangat gotong royong dan filantropi sosial.

3. Apa peran pesantren dalam melanjutkan ajaran ekonomi Sunan Drajat? Pesantren Sunan Drajat menerapkan unit usaha dan pelatihan kewirausahaan untuk santri dan masyarakat sekitar.

4. Apa nilai utama dalam strategi ekonomi Sunan Drajat? Nilainya terletak pada keikhlasan, kerja keras, empati, dan kemandirian.

5. Mengapa ajaran ini relevan di masa kini? Karena mampu menjawab tantangan kemiskinan dan kesenjangan sosial dengan solusi berbasis moral, spiritual, dan ekonomi umat.