Kemenpar Dukung Sport Turism, Sumbang Penghasilan Rp 23,76 Triliun

Kemenpar mencatat dukungan terhadap 194 event menghasilkan perputaran ekonomi dan melibatkan 12,2 juta pengunjung.

Diterbitkan 30 September 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan event, termasuk event olahraga, dalam rangka memperkuat pengembangan sport tourism di Indonesia. Event ini sumbang perekonomian negara hingga Rp 23,76 triliun.

Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana, mengatakan dukungan Kemenpar dirancang untuk memperkuat dampak event sekaligus meringankan beban penyelenggaraan bagi pemilik event. Tetapi, dukungan tersebut tidak mengambil alih kepemilikan event dari penyelenggara.

"Event tetap menjadi milik penyelenggara, Kementerian Pariwisata hadir sebagai mitra yang memperkuat event tersebut," ujar Widiyanti dalam dalam acara Peluncuruan Buku Dampak MotoGP Mandalika dan Kick Off Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga melalui live streaming pada Rabu (30/9/2026).

Sepanjang 2025, Kemenpar telah mendukung 217 event yang terdiri dari 19 Karisma Event Nusantara (KEN) atau event daerah, 32 event internasional, 54 event nasional, 30 pendukung event dan promosi MICE, serta 2 event pentas.

Dari 194 event yang telah dikaji, tercatat 12,2 juta pengunjung yang melibatkan lebih dari 20.800 UMKM, serta 257.000 tenaga kerja, pelaku seni, dan komunitas. Berbagai kegiatan tersebut juga menghasilkan perputaran ekonomi sebesar Rp 23,76 triliun.

Dampak tersebut dihasilkan melalui dukungan, promosi, dan berbagai program Kemenpar dengan anggaran yang cukup minimal.

Di sisi lain, Kemenpar melihat semakin banyak produk wisata berbasis experience yang terbangun melalui sport tourism. Di Sirkuit Mandalika, misalnya, terdapat paddock tour, lampak, dan trail day yang menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang ke Lombok.

Sementara itu, di Jakarta International Stadium terdapat stadium tour yang dinilai relevan bagi para Jakmania.

Tantangan Pengembangan Sport Tourism

Widiyanti mengatakan, capaian tersebut adalah hal yang patut disyukuri. Namun, pengembangan sport tourism masih menghadapi sejumlah tantangan struKtural.

Tantangan pertama adalah pemerataan. Event olahraga dinilai tidak perlu terkonsentrasi di sejumlah destinasi unggulan, tetapi dapat menyebar dengan mengembangkan potensi otentik setiap daerah.

Kemenpar mendorong pemerintah daerah, kementerian/lembaga, swasta, dan pemerhati pariwisata untuk merancang event olahraga yang lahir dari karakter dan keunikan lokal, bukan sekadar mereplikasi format yang telah diterapkan di daerah lain.

Tantangan kedua berkaitan dengan daya dukung destinasi. Konsentrasi kunjungan pada musim puncak penyelenggaraan event dapat menimbulkan tekanan terhadap kapasitas destinasi, mulai dari ketersediaan akomodasi hingga infrastruktur pendukung lainnya.

Untuk itu, Kemenpar berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan industri di daerah setiap kali event berskala internasional digelar guna memastikan kesiapan daya dukung destinasi.

Tantangan selanjutnya adalah standardisasi layanan. Profesionalisme penyelenggaraan dan pengelolaan risiko yang baik dinilai menjadi prasyarat bagi penyelenggaraan event berkelas dunia.

Dalam hal ini, Kemenpar terus mempublikasikan praktik-praktik baik sebagai acuan bagi para penyelenggara event. Kemenpar berharap standar serupa juga dapat diterapkan pada event olahraga yang dibina oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Widiyanti menambahkan, keempat tantangan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian integral dalam penyusunan desain besar pengembangan industri olahraga yang mulai dibangun bersama.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6