Doa Istri Atau Ibu yang Lebih Mustajab? Simak Penjelasannya Lengkapnya

Pertanyaan seputar doa istri atau ibu yang lebih mustajab sering muncul. Ketahui penjelasan lengkapnya dalam Islam, termasuk keutamaan doa keduanya agar tidak salah paham.

Diterbitkan 24 September 2025, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pertanyaan mengenai doa istri atau ibu yang lebih mustajab kerap muncul di kalangan umat Muslim yang ingin memahami kedudukan doa dari kedua sosok penting dalam kehidupan.

Baik doa seorang ibu maupun istri punya keistimewaan masing-masing dalam pandangan Islam. Keduanya mempunyai kedudukan yang mulia dan doa mereka dipercaya memiliki kekuatan yang sangat besar di sisi Allah SWT. Untuk memahami doa istri atau ibu yang lebih mustajab, kita perlu mengkaji dalil-dalil dari Al-Qur'an dan hadis yang menjelaskan kedudukan masing-masing.

Dikutip dari Encyclopedia of Islamic Jurisprudence, kedua sosok ini memiliki peran spiritual yang fundamental dalam keluarga Muslim dan doa mereka memiliki kekuatan yang telah terbukti. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Rabu (24/9/2025).

Pengertian dan Kedudukan Doa Ibu dalam Islam

Doa seorang ibu memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam. Ibu adalah sosok yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak dengan penuh kasih sayang. Perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan seorang ibu memberikan kekuatan spiritual pada doanya.

Dalam berbagai hadis, Rasulullah SAW menegaskan bahwa doa orang tua, terutama ibu, memiliki kekuatan yang luar biasa. Doa seorang ibu untuk anaknya dipercaya sangat mustajab karena didasari oleh cinta yang tulus dan pengorbanan yang tak terhingga.

Al-Qur'an dalam Surah Al-Isra ayat 23-24 menekankan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua, yang menunjukkan kedudukan mulia mereka di sisi Allah. Keistimewaan doa ibu juga terletak pada kesabaran dan keikhlasan yang dimilikinya. 

Hadis tentang Doa Orang Tua yang Mustajab: "Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang berpuasa hingga berbuka, doa imam yang adil, dan doa orang yang dizalimi." Di hadis lain disebutkan doa orang tua untuk anaknya.

Hadis tentang Ridha Allah pada Ridha Orang Tua: "Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua." (HR. Tirmidzi)

Hadis tentang Surga di Telapak Kaki Ibu: "Surga berada di telapak kaki ibu." (HR. Ahmad dan Nasa'i)

Kedudukan Doa Istri dalam Perspektif Islam

Doa seorang istri kepada suaminya juga memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam. Istri yang salihah merupakan aset berharga bagi suami, dan doanya dapat menjadi sumber keberkahan dalam kehidupan berumah tangga. Hubungan suami-istri yang didasari cinta dan saling mendoakan akan menciptakan keharmonisan keluarga.

Islam mengajarkan bahwa istri yang mendoakan kebaikan untuk suaminya akan mendapat pahala yang besar. Doa istri untuk kesuksesan, kesehatan, dan kebaikan suami merupakan bentuk dukungan spiritual yang sangat berarti. Ketika suami sedang menghadapi kesulitan, doa istri dapat menjadi kekuatan yang membantu mengatasi berbagai masalah.

Dikutip dari buku Kumpulan Doa Istri Untuk Sukses Suami, mendoakan suami dapat dilakukan sebagai salah satu bentuk ketaatan seorang istri kepada suami. Doa istri yang tulus dan ikhlas memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Selain itu, doa istri juga dapat menjadi perisai pelindung bagi keluarga dari berbagai marabahaya. Seorang istri yang rajin berdoa untuk keluarganya akan menciptakan suasana rumah yang dipenuhi berkah dan rahmat Allah SWT.

Melansir dari Di Balik Kesuksesan Suami Ada Istri Salihah yang Mendampingi, Muhammad W. Idaini & M. Al-farbi (2020: 218), doa istri untuk suami memiliki kekuatan spiritual yang dapat mendatangkan berkah dalam rumah tangga.

Perbandingan Kekuatan Doa Ibu dan Istri

Ketika membahas doa istri atau ibu yang lebih mustajab, penting untuk memahami bahwa keduanya memiliki keistimewaan yang berbeda namun sama-sama mulia. Doa ibu didasari oleh hubungan darah dan pengorbanan yang telah dilakukan sejak mengandung, melahirkan, hingga membesarkan anak.

Sementara itu, doa istri didasari oleh ikatan pernikahan yang sah dan komitmen untuk saling mendukung dalam menjalani kehidupan. Istri yang salihah akan selalu mendoakan kebaikan untuk suami dan keluarganya dengan tulus dan ikhlas.

Dalam konteks yang berbeda, kekuatan doa keduanya dapat memiliki pengaruh yang sama besar. Doa ibu untuk anaknya memiliki kekuatan karena cinta dan pengorbanan yang tak terbatas. Sedangkan doa istri untuk suami memiliki kekuatan karena keikhlasan dan komitmen dalam berumah tangga.

Dikutip dari Islamic Family Law, kedua jenis doa ini memiliki tempat yang sama mulia di sisi Allah SWT. Yang terpenting adalah ketulusan, keikhlasan, dan ketakwaan dari orang yang berdoa, bukan semata-mata statusnya sebagai ibu atau istri.

Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdoa

Baik ibu maupun istri dapat memanfaatkan waktu-waktu mustajab untuk memperbesar kemungkinan dikabulkannya doa. Islam mengajarkan beberapa waktu yang sangat baik untuk berdoa:

  1. Sepertiga Malam Terakhir: Waktu sahur dan tahajud merupakan waktu yang sangat mustajab untuk berdoa.
  2. Antara Maghrib dan Isya: Waktu ini disebut sebagai waktu yang sangat baik untuk berdoa.
  3. Setelah Salat Fardhu: Setiap selesai salat wajib merupakan waktu yang baik untuk bermunajat.
  4. Hari Jumat: Khususnya antara Ashar dan Maghrib pada hari Jumat.
  5. Saat Turun Hujan: Waktu turun hujan dipercaya sebagai waktu yang mustajab untuk berdoa.
  6. Saat Berbuka Puasa: Bagi yang sedang berpuasa, waktu berbuka adalah momen yang sangat baik.
  7. Di Bulan Ramadan: Terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir.

Mengutip dari Hisnul Muslim, memanfaatkan waktu-waktu mustajab akan meningkatkan kemungkinan dikabulkannya doa, baik yang dipanjatkan oleh ibu maupun istri.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemustajaban Doa

Selain status pendoa (ibu atau istri), ada beberapa faktor umum yang mempengaruhi kemustajaban doa dalam Islam. Memahami faktor-faktor ini dapat membantu setiap Muslim untuk memanjatkan doa dengan cara yang lebih baik dan meningkatkan peluang doanya dikabulkan oleh Allah SWT. 

  • Niat yang Tulus dan Ikhlas: Doa yang dipanjatkan dengan niat yang murni hanya kepada Allah, tanpa pamrih atau riya, memiliki peluang lebih besar untuk dikabulkan.
  • Berdoa dengan Sungguh-sungguh: Kesungguhan hati, keyakinan penuh, dan pengharapan yang kuat kepada Allah adalah kunci. Doa bukan sekadar ucapan lisan, melainkan permohonan dari lubuk hati.
  • Menjalankan Kewajiban Agama: Seorang hamba yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya cenderung lebih dekat dengan-Nya, sehingga doanya lebih mudah didengar.
  • Memohon dengan Sabar dan Tawakal: Kesabaran dalam menunggu jawaban doa dan tawakal (berserah diri) sepenuhnya kepada kehendak Allah adalah sikap yang dicintai-Nya.
  • Menjaga Hubungan Baik dengan Sesama: Berbuat baik kepada orang lain, tidak menzalimi, dan menjaga silaturahmi juga dapat menjadi sebab dikabulkannya doa.
  • Berdoa di Waktu dan Tempat Mustajab: Ada waktu-waktu tertentu seperti sepertiga malam terakhir, setelah salat wajib, antara azan dan iqamah, serta tempat-tempat mulia seperti di depan Ka'bah, yang diyakini lebih mustajab untuk berdoa.

FAQ

1. Apakah doa ibu lebih mustajab daripada doa istri? Kedua doa memiliki keistimewaan masing-masing dan sama-sama mulia di sisi Allah SWT.

2. Kapan waktu terbaik untuk ibu dan istri berdoa? Waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir, setelah salat fardhu, dan saat berbuka puasa.

3. Apakah ada doa khusus untuk ibu dan istri? Tidak ada doa khusus, yang terpenting adalah berdoa dengan tulus dan sesuai adab Islam.

4. Bagaimana cara meningkatkan kemustajaban doa? Dengan berwudhu, menghadap kiblat, berdoa di waktu mustajab, dan menggunakan adab yang benar.

5. Apakah doa ibu untuk anak yang durhaka tetap mustajab? Doa kebaikan ibu tetap mustajab, namun anak yang durhaka akan menanggung dosanya sendiri.

6. Bisakah istri mendoakan suami yang berbuat salah? Istri sebaiknya mendoakan agar suami bertobat dan mendapat hidayah dari Allah SWT.

7. Apakah doa dalam hati sama mustajabnya dengan doa yang diucapkan? Doa dalam hati dan yang diucapkan pelan sama-sama baik, yang penting adalah ketulusan niat.Â