Taubat Nasuha Adalah Proses Kembali kepada Allah, Pahami Syarat dan Tata Caranya

Taubat nasuha adalah bentuk pengampunan tertinggi yang melibatkan kesungguhan hati, penyesalan mendalam, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi dosa.

Diterbitkan 13 Agustus 2025, 12:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Salah satu bentuk pengampunan tertinggi adalah melalui taubat nasuha.

Taubat nasuha adalah sebuah proses kembali kepada Allah dengan kesungguhan hati yang murni dan jujur.

Ini bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan melibatkan penyesalan mendalam, tekad kuat untuk tidak mengulangi dosa, dan perbaikan diri secara menyeluruh.

Menurut Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dalam bukunya Cara Bertaubat Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, taubat nasuha adalah taubat yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, kejujuran, kemurnian, dan ketulusan hanya karena Allah SWT. 

Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Rabu (13/08/2025).

Taubat Nasuha Adalah

Taubat nasuha adalah bentuk taubat yang paling murni dan sungguh-sungguh, di mana seseorang berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan salah atau dosa yang telah dilakukan.

Secara bahasa, kata "nasuha" berasal dari kata na-sha-kha (نصح) yang berarti sesuatu yang bersih atau murni, tidak bercampur dengan sesuatu yang lain.

Berdasarkan makna bahasa ini, taubat disebut taubat nasuha jika pelakunya memurnikan, ikhlas (semata-mata untuk Allah), dan jujur dalam taubatnya. Dia mencurahkan segala daya dan kekuatannya untuk menyesali dosa-dosa yang telah diperbuat dengan taubat yang benar.

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim menjelaskan bahwa taubat nasuha adalah taubat yang jujur, didasari tekad kuat, yang menghapus kejelekan-kejelekan di masa silam, menghimpun dan mengentaskan pelakunya dari kehinaan.

Penulis kitab Tafsir Jalalain menambahkan bahwa taubat yang jujur berarti seseorang tidak kembali melakukan dosa dan tidak bermaksud mengulanginya.

Selain itu, taubat nasuha juga dimaknai sebagai taubat yang memperbaiki kerusakan dalam agama akibat perbuatan maksiat. Istilah "nashihah" (نصيحة) yang menjadi akar kata "nasuha" juga berarti "jahitan".

Ini berarti pelaku taubat nasuha telah menyempurnakan dan memperkuat taubatnya dengan melaksanakan berbagai amal ketaatan.

Unsur-Unsur Taubat

Taubat nasuha terdiri dari beberapa unsur penting yang harus dipenuhi agar taubat tersebut sah dan diterima oleh Allah SWT. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa taubat adalah sebuah makna yang terdiri dari tiga unsur:

  1. ilmu,
  2. hal (keadaan), dan
  3. amal.

Ilmu adalah unsur pertama dalam taubat. Ini berarti mengetahui besarnya bahaya dosa dan meyakini bahwa dosa adalah penghalang antara hamba dengan segala yang ia senangi. Pengetahuan yang yakin dan sepenuh hati ini akan menimbulkan kepedihan di hati karena kehilangan yang dicintai.

Ketika hati merasakan kepedihan karena kehilangan yang dicintai akibat perbuatannya, maka akan timbul penyesalan. Penyesalan ini adalah perasaan pedih yang kuat dan membakar hati. Rasulullah SAW bersabda, "Penyesalan adalah taubat." Ini menunjukkan bahwa penyesalan adalah bagian terpenting dari taubat.

Penyesalan yang kuat akan mendorong timbulnya tekad dan kemauan untuk melakukan apa yang seharusnya. Tindakan ini mencakup meninggalkan dosa saat ini, bertekad tidak mengulangi di masa depan, dan menebus perbuatan masa lalu jika memungkinkan.

Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi juga menyebutkan empat unsur taubat:

  1. beristighfar dengan lidah,
  2. melepaskan diri dari tubuh (meninggalkan perbuatan dosa),
  3. berjanji dalam hati untuk tidak mengerjakannya kembali, serta
  4. meninggalkan rekan-rekan yang buruk.

Syarat Taubat Nasuha Diterima

Agar taubat nasuha diterima oleh Allah SWT, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Para ulama menetapkan syarat-syarat ini berdasarkan dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadis.

  • Syarat pertama adalah adanya penyesalan yang mendalam terhadap dosa yang telah dilakukan.

Penyesalan ini harus tulus dari hati, bukan sekadar di lisan. Orang yang tidak menyesal menunjukkan bahwa ia senang dengan perbuatan tersebut dan kemungkinan akan terus melakukannya.

  • Pelaku taubat harus segera meninggalkan perbuatan dosa tersebut secara total.

Ini berarti menjauhkan diri dari segala bentuk godaan yang bisa mengarah pada perbuatan yang sama. Harus ada janji yang sungguh-sungguh dalam hati untuk tidak mengulangi dosa yang sama di masa mendatang. Tekad ini harus kuat dan tanpa keraguan.

  • Pelaku taubat harus mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Apabila dosa yang dilakukan berkaitan dengan hak orang lain (misalnya mencuri, menzalimi, atau menggunjing), maka pelaku taubat harus mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf kepada yang bersangkutan. Taubat juga harus dilakukan selagi pintu taubat masih terbuka, yaitu sebelum ajal menjemput atau sebelum matahari terbit dari barat. Allah menerima taubat hamba-Nya selama nafas belum sampai kerongkongan.

Tata Cara Taubat Nasuha

Tata cara taubat nasuha melibatkan beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan seorang Muslim untuk memohon ampunan dan memperbaiki diri.

  • Langkah pertama adalah menghentikan perbuatan dosa atau menghindari penyebabnya, dan mulai melaksanakan perintah Allah SWT. Khususnya dalam urusan salat dan puasa, jika sempat tidak mengerjakan, maka setelah bertaubat bisa mulai di-qadha.
  • Melakukan Salat Taubat adalah salat sunah yang dilakukan sebagai bentuk penyesalan dan permohonan ampun kepada Allah.

Niat salat taubat nasuha adalah: أُصَلِّى سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالَى.

Latin: Ushalli sunnatat taubati rak'ataini lillahi ta'ala

Artinya: "Saya niat salat sunnah taubat dua rakaat karena Allah Ta'ala."

Salat taubat dilakukan sebanyak 2, 4 rakaat, dan seterusnya. Salat ini seperti salat biasa dan dapat dilakukan kapan saja, tetapi lebih baik dilakukan pada tengah malam setelah salat Isya. Penyesalan harus tulus dan ikhlas dari hati, serta berjanji untuk tidak mengulanginya kembali dengan sungguh-sungguh.

  • Setelah salat taubat, dianjurkan untuk membaca istighfar dan doa.

Bacaan Istighfar: أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم الَّذِي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ.

Latin: Astaghfirullaha al-adzim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih

Artinya: "Saya mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Dzat yang tiada Tuhan melainkan hanya Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri. Aku bertaubat kepada Nya."

  • Dilanjutkan dengan Sayyidul Istighfar:
  • اللّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لآاِلهَ اِلاَّاَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَناَ عَبْدُكَ وَأَناَ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ من شَرِّمَاصَنَعْتَ. اَبُوْءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَي وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ 

Latin: Allahumma anta rabbi, laa ilaaha illa anta, khalaqtani wa ana 'abduka, wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A'udzu bika min syarri ma shana'tu, abu'u laka bini'matika 'alayya, wa abu'u bidzanbi faghfirli, fainnahu la yaghfiru adz-dzunuba illa anta.

Artinya: "Wahai Tuhan, Engkau adalah Tuhanku, tiada yang patut disembah melainkan hanya Engkau, Engkaulah yang menjadikan aku dan aku adalah hamba-Mu, dan aku dalam ketentuan dan janji-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku dan aku mengakui dosaku, karena itulah ampunilah aku, sebab tidak ada yang dapat memberi ampunan melainkan Engkau wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa yang telah aku perbuat." 

Taubat Bukan Sekadar Ucapan Lidah

Taubat tidak sekadar mengucapkan dengan lidah, seperti yang sering dipahami oleh sebagian orang awam. Jika taubat hanya sekadar ucapan, maka alangkah mudahnya taubat itu. Namun, taubat adalah perkara yang lebih besar, lebih dalam, dan lebih sulit. Ungkapan lisan dituntut setelah seseorang mewujudkannya dalam tindakan.

Sekadar istighfar atau mengungkapkan taubat dengan lisan tanpa janji dalam hati adalah taubat para pendusta, seperti yang dikatakan oleh Dzun Nun al-Mishri.

Sayyidah Rabi'ah al-'Adawiyah bahkan berkata, "Istighfar kita membutuhkan istighfar lagi!" Ini menunjukkan bahwa taubat yang hanya dengan lisan, tanpa disertai penyesalan dalam hati, tidaklah cukup.

Hakikat taubat adalah perbuatan akal, hati, dan tubuh sekaligus. Dimulai dengan perbuatan akal (ilmu), diikuti oleh perbuatan hati (penyesalan), dan menghasilkan perbuatan tubuh (amal).

Oleh karena itu, Al-Hasan Al-Bashri berkata, taubat adalah penyesalan dengan hati, istighfar dengan lisan, meninggalkan perbuatan dosa dengan tubuh, dan berjanji untuk tidak akan mengerjakan perbuatan dosa itu lagi.

Macam-Macam Taubat dari Segi Maknanya

Dalam Al-Qur'an, kata taubat dan derivasinya disebutkan sebanyak 87 kali dengan berbagai bentuk, dikutip dari Miftahus Surur, KONSEP TAUBAT DALAM AL-QUR’AN, 2018. Dari segi maknanya, taubat dapat dibagi menjadi tiga macam:

  • Pertama, Taubat dari Kemaksiatan Umum.

Ini adalah taubat yang umum untuk segala macam bentuk kemaksiatan, termasuk taubat dari kekafiran dan kemusyrikan sebelum ajal menjemput. Contohnya adalah firman Allah dalam QS. An-Nisa: 17, yang menjelaskan bahwa taubat diterima bagi orang yang melakukan keburukan dengan ketidaktahuan, kemudian bertaubat dalam waktu dekat.

  • Kedua, Taubat Orang Murtad dan Munafik.

Taubat semacam ini dinyatakan tidak diterima oleh Allah dalam kondisi tertentu. Contohnya adalah QS. Ali Imran: 90, yang menyatakan bahwa taubat orang-orang kafir yang bertambah kufur tidak akan diterima. Demikian pula QS. An-Nisa: 137-138, yang berbicara tentang orang-orang yang berulang kali ingkar setelah beriman, menunjukkan bahwa taubat mereka tidak diterima jika mereka mati dalam keadaan kafir.

  • Ketiga, Taubat Para Nabi.

Taubat para nabi memiliki makna keridaan dan kasih sayang dari Allah, bukan taubat dari perbuatan buruk atau tercela, melainkan dari perbuatan yang kurang afdal. Nabi adalah sosok yang maksum (terjaga dari dosa). Contohnya adalah taubat Nabi Adam setelah melanggar larangan Allah (QS. Al-Baqarah: 37) dan taubat Nabi Muhammad SAW (QS. At-Taubah: 117), yang merupakan teguran lembut atas tindakan yang kurang afdal.

Daftar Sumber

FAQ

1. Apa itu taubat nasuha?

Taubat yang murni, tulus, dan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi dosa.

2. Apa syarat taubat nasuha diterima?

Menyesal, berhenti dari dosa, bertekad tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak orang lain jika ada.

3. Kapan taubat nasuha tidak diterima?

Jika dilakukan setelah ajal datang atau matahari terbit dari barat.

4. Bagaimana tata cara taubat nasuha?

Berhenti dari dosa, menyesal, salat taubat, beristighfar, dan berjanji tidak mengulanginya.

5. Apakah taubat cukup dengan ucapan istighfar?

Tidak, harus disertai penyesalan hati dan perubahan perilaku.

6. Apa saja unsur taubat menurut Imam Al-Ghazali?

Ilmu, penyesalan (hal), dan amal perbaikan.

7. Apakah dosa kepada manusia bisa dihapus hanya dengan taubat?

Tidak, harus disertai pengembalian hak atau meminta maaf.