Larangan Mempercayai Tahayul dalam Islam, Simak 4 Bahayanya

Larangan mempercayai takhayul dalam Islam serta pandangan ulama.

Diterbitkan 30 Juni 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kehidupan masyarakat modern dengan segala kemajuan teknologinya ternyata tidak serta-merta menghapus eksistensi kepercayaan masa lampau. Salah satu fenomena laten adalah takhayul. Untuk itu, perlu diketahui larangan mempercayai tahayul dalam Islam.

Dalam perspektif syariat, praktik meyakini hal-hal mistis ini bukan sekadar masalah budaya, melainkan sebuah persoalan fundamental yang membahayakan fondasi utama agama, ketauhidan. Sebab, takhayul itu merasuk dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat; tradisi, budaya, kehidupan sosial, dan lain sebagainya.

Mengutip studi Takhayul dalam Perspektif Masyarakat, oleh Maulina, takhayul merujuk pada kepercayaan terhadap hal-hal yang tidak berdasar atau tidak rasional, yang sering kali berhubungan dengan ramalan, jimat, dan praktik-praktik yang dianggap dapat mendatangkan keberuntungan atau menghindarkan diri dari malapetaka.

Merangkum berbagai sumber, artikel ini akan mengulas mempercayai takhayul dalam Islam berdasarkan dalil-dalil Al-Qur'an, hadis, serta pandangan para ulama.

Memahami Takhayul, Khurafat, dan Tathayyur

Secara kebahasaan, kata "takhayul" berasal dari bahasa Arab takhayyala yang berarti "tergambarnya suatu hal dalam jiwa (pikiran)". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), takhayul bermakna "(sesuatu yang) hanya ada dalam khayal belaka" atau "kepercayaan kepada sesuatu yang dianggap ada atau sakti, tetapi sebenarnya tidak ada atau tidak sakti".

Takhayul dalam pengertian umum adalah bentuk pembayangan atau imajinasi tanpa dasar yang kuat. Takhayul dapat mendorong seseorang untuk menganggap khayalan sebagai kebenaran, sebagaimana kisah tukang sihir Fir'aun yang menyihir mata para penonton sehingga tali dan tongkat mereka seolah-olah menjadi ular.

Khurafat: Bentuk Ekstrem Takhayul

Ketika khayalan atau takhayul diyakini sebagai kebenaran, statusnya berubah menjadi khurafat. Khurafat adalah cerita-cerita mempesonakan yang di dalamnya bercampur perkara-perkara dusta, rekaan, dan kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Khurafat merupakan bid'ah dalam bidang akidah, yakni kepercayaan atau keyakinan yang menyalahi ajaran Islam.

Tathayyur: Warisan Zaman Jahiliyah

Istilah tathayyur diambil dari ath-thayru yang berarti "burung." Pada masa Jahiliyah, orang-orang Arab sering menganggap burung tertentu sebagai pembawa sial. Bila sedang berjalan dan berpapasan dengan burung itu, mereka langsung percaya bahwa dirinya akan bernasib buruk. Inilah akar dari berbagai bentuk takhayul yang masih ditemukan dalam masyarakat hingga hari ini.

Dasar Larangan Takhayul dalam Islam, dari Al-Qur’an dan Hadis

1. Dalil Al-Qur'an

Al-Qur'an dengan tegas melarang umat Islam untuk mengikuti sesuatu yang tidak memiliki dasar ilmu yang kuat. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak ada bagimu ilmu tentangnya." (QS. Al-Isra: 36)

Ayat ini menunjukkan bahwa mempercayai takhayul tanpa dasar ilmu yang kuat adalah tindakan yang salah dan tercela. Pola pikir takhayul—yang meyakini khayalan, mengejar kebatilan, dan menyimak semua hal yang disampaikan tanpa verifikasi—adalah pola pikir yang ditolak dalam Islam.

Selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam QS. Asy-Syu'ara ayat 21: "Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?"

Ayat ini menegaskan bahwa keyakinan dan praktik keagamaan yang tidak berasal dari Allah adalah bentuk kesesatan.

2. Dalil Hadis

Rasulullah SAW secara eksplisit menolak segala bentuk takhayul. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, beliau bersabda: "Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada kepercayaan bahwa bulan Safar membawa kesialan, dan tidak ada pula burung yang bisa menentukan nasib." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini dengan jelas menolak segala bentuk takhayul yang tidak berdasarkan ajaran Islam dan menekankan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah SWT, bukan karena pengaruh bulan, hari, atau fenomena alam tertentu.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang menggantungkan sesuatu, maka dia akan diserahkan kepada benda tersebut." (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa menggantungkan harapan pada jimat atau benda-benda tertentu adalah bentuk kesyirikan.

Bahaya Takhayul bagi Keimanan

1. Merusak Akidah dan Tauhid

Takhayul, khurafat, dan tathayyur mesti dijauhi umat Islam karena dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam perbuatan syirik dan merusak akidah. Syirik adalah dosa terbesar dalam Islam, dan mempercayai takhayul adalah salah satu pintu masuk menuju kesyirikan.

2. Menghambat Tawakal kepada Allah

Orang yang percaya pada takhayul cenderung menggantungkan harapannya pada hal-hal gaib—jimat, ramalan, atau dukun—daripada berusaha dan berdoa kepada Allah. Hal ini mengganggu iman seorang Muslim dan membuatnya lebih fokus pada hal-hal yang tidak bermanfaat daripada pada keyakinan dan ibadah kepada Allah.

3. Mendorong Praktik Menyimpang

Percaya pada takhayul sering kali mendorong orang untuk melakukan praktik yang menyimpang dari ajaran Islam, seperti menggunakan jimat, melakukan ritual-ritual tertentu, atau mencari dukun dan paranormal. Ini semua bertentangan dengan ajaran Islam yang murni.

4. Gangguan terhadap Ketenangan Jiwa

Penolakan terhadap takhayul bukan sekadar isu akidah, tetapi juga usaha mempertahankan ketenteraman jiwa dan kestabilan sosial. Kepercayaan pada takhayul menimbulkan ketakutan yang tidak beralasan—takut pada tempat angker, takut pada penunggu, takut pada hari atau bulan tertentu—yang pada gilirannya mengganggu kenyamanan hati dan ketenangan hidup.

Sikap Muslim Ketika Berhadapan dengan Takhayul

Berikut adalah 5 sikap ideal seorang muslim ketika berhadapan dengan takhayul di tengah masyarakat. Sikap-sikap ini memadukan prinsip ketauhidan yang tegas dengan kearifan dan toleransi sosial:

1. Memperkokoh Akidah dan Ketauhidan

Sikap pertama dan paling mendasar adalah membentengi diri dengan tauhid, yakni keyakinan mutlak bahwa hanya Allah SWT yang memiliki kekuasaan, kehendak, dan kendali atas segala musibah maupun rezeki di alam semesta. Seorang muslim harus sadar dan waspada bahwa meyakini takhayul—seperti benda keramat atau mitos kesialan hari tertentu—dapat menjerumuskan pada perbuatan syirik yang merusak keimanan.

2. Mengedepankan Ilmu dan Rasionalitas

Islam melarang umatnya sekadar mengekor pada tradisi masa lalu atau cerita khayalan tanpa dasar keilmuan yang jelas. Ketika berhadapan dengan takhayul, seorang muslim dituntut untuk menggunakan akal sehat, memperdalam ilmu agama berlandaskan pedoman Al-Qur'an, serta memprioritaskan pendidikan agar tidak mudah terpengaruh oleh hasutan setan atau mitos yang tidak logis.

3. Tidak Gegabah Memvonis dan Menghakimi

Dalam merespons fenomena budaya lokal, seorang muslim sebaiknya menghindari sikap fanatisme buta yang gemar memvonis orang lain sebagai ahli "sesat", "khurafat", atau "bid'ah" secara kaku tanpa pemahaman yang utuh. Diperlukan metodologi yang akurat, kehati-hatian, serta kajian yang komprehensif dari kacamata ulama untuk membedakan mana yang merupakan tradisi murni dan mana yang benar-benar mencederai syariat.

4. Memfilter Tradisi dengan Bijaksana (Toleransi)

Seorang muslim dapat mengambil pendekatan yang bijak dengan cara mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang baik selama tidak mengandung unsur kesyirikan. Jika sebuah tradisi lokal—seperti kumpul bersama atau gotong royong—memiliki tujuan sosial yang positif, tradisi tersebut dapat diadaptasi dan dilestarikan, asalkan segala bentuk ritual penyembahan takhayul dan sesajen dihilangkan darinya.

5. Mengedukasi Masyarakat Secara Persuasif

Tumbuh suburnya takhayul sering kali berakar dari minimnya tingkat pendidikan formal dan pemahaman agama di kalangan masyarakat awam. Oleh karena itu, sikap yang tepat bukanlah mencela, melainkan memberikan edukasi, dakwah, dan pencerahan secara bertahap dan santun. Pendekatan ini bertujuan agar masyarakat kembali menyandarkan segala urusannya hanya kepada kebesaran Allah SWT.

Pertanyaan Seputar Larangan Percaya Takhayul 

Mengapa kita tidak boleh percaya kepada tahayul?

Mempercayai tahayul dapat mengganggu iman seorang Muslim. Hal ini dapat membuat seseorang lebih fokus pada hal-hal yang tidak bermanfaat daripada pada keyakinan dan ibadah kepada Allah. Ini juga bisa menyebabkan ketergantungan pada hal-hal gaib daripada berusaha dan berdoa kepada Allah.

Mengapa perbuatan khurafat, tahayul, dan bid'ah harus diberantas?

Hal ini karena khurafat dikhawatirkan mengarah kepada syirik dan merusak tauhid atau aqidah Islam, sehingga wajib dijauhi dan ditinggalkan.

Bagaimana kepercayaan takhayul memengaruhi kehidupan kita?

Terkadang takhayul dapat memiliki efek menenangkan, mengurangi kecemasan tentang hal yang tidak diketahui dan memberi orang rasa kendali atas hidup mereka . Ini mungkin juga menjadi alasan mengapa takhayul bertahan begitu lama — orang-orang telah mewariskannya dari generasi ke generasi.

Manakah contoh perilaku tahayul?

Contoh takhayul yang bermula dari kepercayaan adalah mengetuk kayu atau benda dengan tangan terkepal untuk menghindari kemalangan. Takhayul ini berasal dari kepercayaan kaum Indo-Eropa, kaum Eurasia yang merupakan keturunan Indonesia dan Eropa.

Â