Cara Mencegah Buah Terong Berlubang Sebelum Dipanen, Terapkan Perawatan yang Tepat

Cara mencegah buah terong berlubang sebelum dipanen, pencegahan efektif memerlukan kombinasi varietas tahan, rotasi, serta sanitasi.

Diterbitkan 01 Oktober 2026, 09:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cara mencegah buah terong berlubang sebelum dipanen perlu dilakukan sejak tanaman mulai tumbuh hingga berbuah. Lubang pada terong umumnya disebabkan serangan hama yang dapat menurunkan kualitas hasil panen.

Selain merusak permukaan, hama bisa menyebabkan pembusukan dan perubahan warna pada bagian dalam buah. Oleh karena itu, cara mencegah buah terong berlubang sebelum dipanen perlu diawali dengan pemantauan tanaman secara rutin.

Perawatan yang tepat, menjaga kebersihan area tanam, serta mengendalikan hama dapat membantu mengurangi risiko kerusakan. Penerapan cara mencegah buah terong berlubang sebelum dipanen secara konsisten membuat buah tumbuh lebih sehat dan berkualitas.

Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang cara mencegah buah terong berlubang sebelum dipanen, Kamis (1/10/2026).

1. Pilih varietas terong yang lebih tangguh terhadap hama

Pemilihan varietas menjadi langkah awal untuk mengurangi risiko serangan hama dan penyakit. Beberapa varietas yang dapat dipertimbangkan antara lain EG 058, Pusa Purple Long, Pusa Purple Cluster, dan H-128 jika tersedia di daerah setempat.

Pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan dapat membantu menjaga pertumbuhan tetap optimal. Konsultasikan dengan penyuluh pertanian untuk mengetahui varietas yang paling cocok dengan kondisi lahan dan hama yang umum menyerang.

2. Lakukan rotasi tanaman secara berkala

Hindari menanam terong secara terus-menerus di lahan yang sama, terutama setelah tanaman sefamili seperti cabai, tomat, dan kentang. Hama maupun penyakit yang menyerang kelompok tanaman tersebut dapat bertahan dan kembali menginfeksi tanaman pada musim berikutnya.

Rotasi dengan tanaman yang bukan inang, seperti kacang tanah atau kedelai, dapat membantu memutus siklus hama sekaligus mengurangi risiko penyakit.

3. Jaga kebersihan lahan dan tanaman

Gulma serta sisa tanaman yang dibiarkan menumpuk dapat menjadi tempat berlindung dan berkembang biak bagi hama. Bersihkan area pertanaman secara rutin dan segera singkirkan bagian tanaman yang terserang.

Pucuk atau buah yang sudah berlubang sebaiknya dipetik dan dimusnahkan agar larva di dalamnya tidak berkembang menjadi hama dewasa. Setelah masa panen selesai, pembajakan tanah juga dapat membantu menghancurkan hama yang masih bersembunyi di dalam tanah.

4. Gunakan benih berkualitas dan lakukan budidaya yang tepat

Gunakan benih dengan daya tumbuh yang baik agar tanaman dapat berkembang secara seragam dan kuat. Persiapan lahan dapat dilakukan dengan menggemburkan tanah serta menambahkan pupuk organik yang sesuai.

Trichoderma sp. juga dapat dimanfaatkan sebagai agen hayati untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan membantu menghambat beberapa jamur penyebab penyakit. Pemupukan perlu dilakukan secara seimbang karena pemberian nitrogen berlebihan dapat membuat tanaman lebih rentan terhadap serangan kutu daun.

5. Atur jarak tanam dan kelembapan lahan

Jarak tanam yang sesuai membantu menciptakan sirkulasi udara di antara tanaman sehingga kondisi terlalu lembap dapat dikurangi.

Mulsa plastik pada bedengan juga dapat membantu menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma, serta mengurangi risiko serangan hama dan penyakit.

Pemberian air sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Jika memungkinkan, irigasi tetes dapat digunakan agar penggunaan air lebih efisien dan terkontrol.

6. Periksa tanaman secara rutin untuk mendeteksi hama

Pemantauan secara berkala penting karena beberapa hama menyerang bagian dalam tanaman sehingga gejalanya sering baru terlihat setelah kerusakan cukup parah. Penggerek pucuk dan buah terong (Leucinodes orbonalis), misalnya, dapat masuk ke batang, pucuk lunak, hingga buah.

Gejalanya dapat berupa pucuk yang layu serta lubang kecil pada buah yang terkadang tertutup kotoran kering. Pemeriksaan sejak dini memungkinkan bagian yang terserang segera ditangani sebelum kerusakan meluas.

7. Singkirkan telur dan larva secara manual

Telur maupun larva yang terlihat pada tanaman dapat dikumpulkan kemudian dimusnahkan. Buah yang sudah berlubang, membusuk, atau menunjukkan tanda keberadaan larva juga sebaiknya segera dipetik.

Cara sederhana ini membantu mengurangi jumlah hama yang dapat berkembang biak di area pertanaman. Pemeriksaan dan pengambilan hama dapat dilakukan secara rutin, terutama ketika tanaman mulai banyak menghasilkan buah.

8. Gunakan jaring dan perangkap untuk mengurangi serangan

Perlindungan secara fisik dapat menjadi pilihan untuk menghambat hama mencapai tanaman. Jaring pada area persemaian dapat membantu mencegah masuknya ngengat penggerek pucuk dan buah.

Sementara itu, perangkap dapat digunakan untuk memantau sekaligus mengurangi populasi hama dewasa. Metode ini juga membantu petani mengetahui kapan populasi hama mulai meningkat sehingga tindakan pengendalian dapat dilakukan lebih cepat.

9. Manfaatkan musuh alami dan agen hayati

Pengendalian biologis dilakukan dengan memanfaatkan organisme yang secara alami menyerang hama. Tanaman refugia seperti kenikir, tagetes, dan bunga matahari dapat ditanam di sekitar lahan untuk menyediakan sumber makanan serta tempat berlindung bagi parasitoid dan predator.

Agen hayati seperti Beauveria bassiana dan Bacillus thuringiensis juga dapat digunakan untuk membantu mengendalikan jenis hama tertentu sesuai rekomendasi penggunaannya.

10. Gunakan pestisida nabati sebagai alternatif

Pestisida nabati dapat menjadi pilihan tambahan dalam pengelolaan hama. Ekstrak biji atau daun nimba, misalnya, dapat digunakan untuk membantu mengendalikan beberapa serangga. Ekstrak bawang putih juga dikenal dapat membantu mengusir sejumlah hama.

Penggunaannya tetap perlu memperhatikan konsentrasi dan cara aplikasi agar efektif serta tidak mengganggu tanaman maupun organisme yang bermanfaat.

11. Gunakan pestisida kimia hanya saat diperlukan

Pestisida kimia sebaiknya digunakan ketika serangan hama sudah berat dan melewati ambang ekonomi. Pemilihan produk perlu disesuaikan dengan jenis hama yang menyerang, kemudian diaplikasikan mengikuti dosis dan petunjuk pada label.

Rotasi bahan aktif juga penting untuk membantu mencegah hama menjadi resisten. Penggunaan pestisida sebaiknya tetap menjadi bagian dari pengendalian hama terpadu, bukan satu-satunya cara pencegahan.

12. Cegah penyakit yang dapat merusak buah

Kerusakan pada terong tidak selalu disebabkan oleh serangga. Antraknosa, misalnya, dapat menimbulkan bercak cekung berwarna cokelat kehitaman pada buah yang kemudian berkembang menjadi busuk.

Pencegahannya dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lahan, mengatur jarak tanam, memilih varietas yang lebih tahan, serta menggunakan mulsa pada kondisi yang sesuai. Buah yang telah terinfeksi juga perlu segera dipetik dan dibuang agar penyakit tidak menyebar ke buah lainnya.

Pertanyaan Seputar Cara Mencegah Buah Terong Berlubang Sebelum Dipanen

Apa penyebab utama buah terong berlubang sebelum dipanen?

Penyebabnya antara lain serangan Penggerek Pucuk dan Buah Terong (Leucinodes orbonalis), Ulat Buah (Helicoverpa armigera), dan Lalat Buah (Bactrocera spp.). Penyakit seperti antraknosa juga dapat merusak buah dan membuatnya membusuk.

Bagaimana cara mencegah hama terong tanpa menggunakan bahan kimia?

Pencegahan dapat dilakukan dengan memilih varietas yang lebih tangguh, melakukan rotasi tanaman, menjaga kebersihan lahan, memasang jaring atau perangkap, serta mengambil telur dan larva secara manual. Musuh alami, tanaman refugia, dan agen hayati juga dapat dimanfaatkan.

Mengapa buah terong perlu diperiksa secara rutin?

Pemeriksaan membantu menemukan telur, larva, lubang kecil, atau bagian tanaman yang mulai layu sejak awal. Deteksi lebih cepat memungkinkan buah dan bagian tanaman yang terserang segera disingkirkan sehingga hama tidak mudah berkembang dan menyebar.

Apa saja praktik budidaya yang dapat membantu mencegah buah terong berlubang?

Praktiknya meliputi penggunaan benih berkualitas, pemupukan seimbang, pengaturan jarak tanam, pengelolaan air, sanitasi lahan, serta penggunaan mulsa jika sesuai. Rotasi tanaman dan pemilihan waktu tanam yang tepat juga dapat membantu mengurangi tekanan hama dan penyakit.

Kapan pestisida kimia digunakan untuk mengatasi hama terong?

Pestisida kimia dapat dipertimbangkan ketika serangan sudah berat dan membutuhkan pengendalian lebih lanjut. Penggunaannya perlu mengikuti dosis serta petunjuk label, memilih bahan aktif sesuai hama sasaran, dan melakukan rotasi bahan aktif untuk membantu mengurangi risiko resistensi.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6