12 Buah Lokal yang Mulai Jarang Ditanam Padahal Mudah Dirawat, Layak Dilestarikan

Berbagai buah lokal Indonesia seperti bisbul, kecapi, dan menteng kian langka akibat alih fungsi lahan dan minat budidaya yang rendah, padahal mudah dirawat dan

Diterbitkan 09 Juli 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Buah lokal yang mulai jarang ditanam, padahal mudah dirawat menjadi salah satu kekayaan hayati Indonesia yang perlahan terlupakan. Di tengah maraknya buah impor dan varietas hasil budidaya modern, banyak tanaman buah asli Nusantara justru semakin sulit ditemukan, baik di pekarangan rumah maupun di kebun masyarakat. Padahal, sebagian besar buah lokal tersebut mampu tumbuh dengan baik di iklim tropis Indonesia tanpa memerlukan perawatan yang rumit. Banyak di antaranya tahan terhadap cuaca panas, mudah beradaptasi dengan kondisi tanah yang beragam, serta memiliki nilai gizi dan cita rasa yang khas.

Melestarikan buah lokal bukan hanya menjaga keberagaman hayati, tetapi juga mempertahankan warisan pangan Indonesia untuk generasi mendatang. Dengan kembali menanam tanaman buah lokal, masyarakat turut berkontribusi menjaga plasma nutfah sekaligus memperkaya pilihan pangan yang sehat dan alami. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman buah tropis terbesar di dunia. Sayangnya, perkembangan pertanian modern membuat banyak jenis buah asli Nusantara semakin jarang dibudidayakan. Padahal, sebagian besar tanaman ini tidak membutuhkan teknologi budidaya yang rumit dan relatif mudah tumbuh di pekarangan rumah.

Banyak buah lokal dulunya tumbuh liar di hutan, kebun, maupun halaman rumah. Kini keberadaannya semakin berkurang akibat alih fungsi lahan, berkurangnya kawasan hutan, hingga minimnya minat masyarakat untuk membudidayakannya. Kondisi tersebut membuat beberapa jenis buah bahkan mulai tergolong langka di sejumlah daerah. Berikut beberapa buah lokal yang mulai jarang ditanam, padahal mudah ditanam dan masih sangat layak untuk kembali dibudidayakan, dirangkum Liputan6.com, Kamis (9/7/2026).

1. Buni

Buah buni memiliki bentuk kecil menyerupai cranberry dengan warna yang berubah dari kekuningan, merah, hingga kehitaman saat matang. Rasanya segar dengan tekstur yang berair sehingga sering dimanfaatkan sebagai bahan rujak maupun diolah menjadi selai.

Tanaman buni sebenarnya cukup mudah dirawat karena mampu tumbuh di daerah tropis dengan curah hujan sedang hingga tinggi. Pohonnya relatif tahan terhadap perubahan cuaca dan tidak memerlukan pemeliharaan intensif.

2. Cempedak

Sekilas cempedak tampak seperti nangka, namun memiliki aroma yang lebih kuat dan rasa yang lebih manis. Daging buahnya lembut dan banyak diolah menjadi gorengan, manisan, maupun dikonsumsi langsung.

Pohon cempedak mudah tumbuh di dataran rendah hingga menengah. Meski hanya berbuah satu kali dalam setahun, tanaman ini dikenal cukup tahan terhadap kondisi lingkungan tropis.

3. Ciplukan

Ciplukan dahulu banyak ditemukan tumbuh liar di kebun maupun area persawahan. Buah kecil yang terbungkus kelopak menyerupai lampion ini memiliki rasa manis ketika matang.

Selain buahnya yang dapat dikonsumsi, masyarakat telah lama memanfaatkan daun, batang, dan akarnya sebagai tanaman herbal tradisional. Tanaman ini sangat mudah tumbuh bahkan tanpa perawatan khusus sehingga cocok dibudidayakan di pekarangan rumah.

4. Gandaria

Gandaria merupakan buah khas yang masih dapat ditemukan di beberapa wilayah Jawa dan Sumatera. Pohonnya rindang sehingga sering dimanfaatkan sebagai peneduh.

Buah gandaria memiliki daging tebal, berair, dan bercita rasa segar. Daunnya bahkan dapat dimanfaatkan sebagai lalapan atau sayuran. Tanaman ini cukup mudah dipelihara karena mampu tumbuh baik di daerah tropis dengan sinar matahari yang cukup.

5. Jamblang atau Duwet

Jamblang atau duwet termasuk keluarga jambu-jambuan yang memiliki buah berwarna ungu gelap ketika matang. Rasanya manis dengan sedikit sensasi sepat yang khas.

Pohon jamblang terkenal kuat, berumur panjang, serta mudah tumbuh di berbagai jenis tanah. Karena daya tahannya tinggi, tanaman ini sebenarnya sangat cocok ditanam kembali sebagai pohon peneduh sekaligus penghasil buah.

6. Kelubi

Kelubi sering disebut sebagai salak rimba dan banyak ditemukan di Sumatera Selatan maupun Kalimantan. Buahnya memiliki rasa sangat asam sehingga kerap digunakan sebagai campuran sambal, manisan, maupun olahan tradisional lainnya.

Tanaman ini dapat tumbuh baik di kawasan tropis yang lembap dan tidak membutuhkan perawatan rumit apabila ditanam pada lahan yang sesuai.

7. Kemang

Kemang merupakan kerabat dekat mangga dengan aroma harum dan rasa manis yang khas. Perbedaan utamanya terletak pada warna daging buah yang cenderung lebih pucat dibandingkan mangga biasa.

Pohon kemang mampu tumbuh menjadi pohon besar dengan perawatan yang relatif sederhana sehingga cocok dijadikan tanaman peneduh sekaligus penghasil buah.

8. Lobi-Lobi

Lobi-lobi memiliki ukuran buah kecil dengan rasa asam segar berpadu sedikit manis. Buah ini sangat populer sebagai bahan rujak, manisan, selai, maupun asinan.

Tanamannya cukup adaptif terhadap iklim tropis Indonesia dan mampu tumbuh baik apabila memperoleh sinar matahari yang cukup.

9. Matoa

Matoa merupakan buah khas Papua yang memiliki rasa unik menyerupai perpaduan kelengkeng dan rambutan. Kulit buahnya keras, sedangkan daging buahnya manis dan menyegarkan.

Pohon matoa mampu tumbuh subur di berbagai wilayah tropis Indonesia. Setelah dewasa, tanaman ini relatif mudah dipelihara dan dapat menghasilkan buah dalam jumlah melimpah.

10. Rambusa

Rambusa merupakan tanaman liar yang dahulu banyak tumbuh di pekarangan maupun sekitar hutan. Buahnya kecil dengan selubung menyerupai jaring dan berubah menjadi kuning cerah ketika matang.

Rasa manis bercampur sedikit asam membuat rambusa cukup digemari. Sayangnya, tanaman ini semakin jarang dibudidayakan meskipun sebenarnya mudah tumbuh di lingkungan tropis.

11. Bisbul

Bisbul menghasilkan buah berwarna kecokelatan dengan rasa segar yang cocok dimakan langsung maupun dijadikan campuran minuman dan rujak.

Selain buahnya, kayu pohon bisbul juga bernilai tinggi karena kuat dan berkualitas baik. Tanaman ini mampu tumbuh cukup baik di wilayah beriklim tropis dengan perawatan yang tidak rumit.

12. Kepel

Kepel merupakan buah asli Indonesia yang dahulu sangat populer di lingkungan Keraton Yogyakarta. Buahnya memiliki aroma khas perpaduan mawar dan sawo serta rasa yang manis menyegarkan.

Pohon kepel sebenarnya mampu tumbuh baik di dataran rendah hingga sedang. Sayangnya, kini tanaman ini semakin jarang ditemukan akibat minimnya budidaya.

Mengapa Buah Lokal Perlu Dilestarikan?

Keberadaan buah-buah lokal tersebut tidak hanya penting sebagai sumber pangan, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan biodiversitas Indonesia. Banyak jenis tanaman lokal memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih baik terhadap iklim Indonesia dibandingkan tanaman introduksi.

Selain itu, berbagai buah lokal menyimpan potensi ekonomi yang besar apabila dikembangkan sebagai produk olahan seperti selai, sirup, manisan, hingga minuman tradisional. Diversifikasi produk tersebut dapat meningkatkan nilai jual sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Membudidayakan buah lokal juga membantu menjaga plasma nutfah Indonesia agar tidak hilang akibat perubahan lingkungan dan berkurangnya habitat alami. Dengan semakin banyak masyarakat yang menanamnya kembali di pekarangan maupun kebun, peluang kepunahan berbagai spesies buah lokal dapat diminimalkan.

Tenya Jawab Seputar Menanam Buah Lokal

1. Mengapa buah lokal mulai jarang ditanam?

Karena masyarakat lebih banyak memilih buah impor atau varietas komersial, sementara alih fungsi lahan dan berkurangnya kawasan hutan turut mengurangi populasi tanaman buah lokal.

2. Apakah buah lokal sulit dibudidayakan?

Tidak. Sebagian besar buah lokal justru mudah tumbuh di iklim tropis Indonesia dan tidak membutuhkan perawatan yang rumit.

3. Buah lokal apa yang cocok ditanam di pekarangan rumah?

Ciplukan, buni, jamblang, lobi-lobi, gandaria, dan kepel termasuk pilihan yang dapat ditanam di pekarangan dengan perawatan yang relatif sederhana.

4. Apa manfaat menanam buah lokal?

Selain memperoleh buah segar, menanam buah lokal membantu melestarikan keanekaragaman hayati, menjaga plasma nutfah Indonesia, serta mendukung ketahanan pangan lokal.

5. Bagaimana cara memulai budidaya buah lokal?

Mulailah dengan memilih bibit berkualitas, menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi lahan, memberikan penyiraman secara rutin pada masa awal pertumbuhan, serta melakukan pemupukan organik secara berkala.

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6