Sejarah Festival Perahu Naga, Tradisi Kuno Tiongkok yang Masih Lestari Hingga Kini

Sejarah festival Perahu Naga telah dirayakan lebih dari 2.000 tahun di berbagai negara dengan komunitas Tionghoa yang besar.

Diterbitkan 19 Juni 2026, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Festival tradisional Tiongkok memiliki perjalanan panjang dalam membentuk identitas budaya masyarakat Asia Timur. Salah satu perayaan paling terkenal lahir dari perpaduan ritual kuno, kepercayaan terhadap alam, hingga kisah tokoh bersejarah. Dalam konteks perkembangan budaya tersebut, sejarah festival Perahu Naga menjadi topik menarik untuk dipelajari lebih mendalam, sebagai bagian dari warisan peradaban kuno.

Berbagai catatan sejarah menunjukkan adanya hubungan erat antara masyarakat agraris Tiongkok dan tradisi perairan sejak ribuan tahun silam. Aktivitas ritual di sungai berkembang menjadi perayaan tahunan penuh makna simbolis dan sosial. Di tengah transformasi tersebut, sejarah festival Perahu Naga mencerminkan bagaimana budaya lokal mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.

Perayaan ini tidak hanya berkaitan erat pada aspek hiburan, melainkan juga memiliki nilai spiritual dan filosofis tentang keseimbangan alam. Simbol naga, makanan tradisional, hingga perlombaan perahu menjadi representasi dari keyakinan lama masyarakat Tiongkok. Dalam perspektif tersebut, sejarah festival Perahu Naga menghadirkan gambaran utuh, tentang hubungan manusia dan alam dalam budaya Timur.

Perkembangan tradisi ini terus berlangsung hingga memasuki era modern dan mendapat pengakuan internasional sebagai warisan budaya dunia. Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (19/6/2026).

Sejarah Festival dan Legendanya

Festival Perahu Naga, atau yang dikenal sebagai Duan Wu Jie, merupakan salah satu perayaan tradisional penting dalam budaya Tiongkok yang memiliki sejarah panjang dan makna budaya yang sangat mendalam. Dalam beberapa penyebutan lain, festival ini juga disebut Duan Yang, istilah yang secara filosofis sering dimaknai sebagai “Matahari Tegak” atau “Kelima Ganda”, merujuk pada posisi waktu perayaan yang jatuh pada hari kelima di bulan kelima dalam kalender lunar Tiongkok. Perayaan ini berlangsung pada periode yang berdekatan dengan titik balik matahari musim panas, ketika energi alam dianggap sedang berada pada kondisi puncaknya. Di berbagai komunitas masyarakat Tiongkok, festival ini juga dikenal sebagai Festival Bulan Kelima, sebuah penanda waktu yang menegaskan hubungan erat antara siklus alam dan tradisi budaya yang diwariskan turun-temurun.

Asal-usul perayaan ini dapat ditelusuri hingga wilayah Tiongkok bagian selatan, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai daerah lain di Tiongkok dan menjadi bagian penting dari warisan budaya nasional. Dalam perkembangannya, Festival Perahu Naga tidak hanya sekadar perayaan musim, tetapi juga mencerminkan perpaduan antara kepercayaan tradisional, penghormatan terhadap alam, serta nilai sejarah yang kuat. Dalam kepercayaan masyarakat Tiongkok kuno, naga memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai makhluk spiritual yang berhubungan erat dengan unsur air. Pada masa awal, naga tidak selalu dipandang sebagai makhluk menakutkan, melainkan sebagai roh penjaga perairan yang bersifat baik hati dan melindungi keseimbangan alam. Dalam filosofi tradisional, naga juga melambangkan prinsip maskulin atau kekuatan yang, yang berperan menjaga harmoni kosmik dalam kehidupan.

Masyarakat pada masa lampau meyakini bahwa naga sungai memiliki kekuatan untuk mengendalikan hujan, sehingga pada periode tertentu seperti titik balik matahari musim panas, dilakukan berbagai ritual penghormatan. Tujuan utama dari ritual tersebut adalah untuk memohon curah hujan yang seimbang, tidak terlalu sedikit sehingga menyebabkan kekeringan, dan tidak berlebihan hingga menimbulkan banjir yang merusak hasil panen serta kehidupan masyarakat. Selain kepercayaan terhadap naga, Festival Perahu Naga juga erat kaitannya dengan kisah seorang tokoh sejarah bernama Qu Yuan. Namun, pengaitan festival dengan Qu Yuan baru berkembang pada abad kedua, sementara praktik awalnya lebih berfokus pada ritual penghormatan terhadap naga sungai pada masa titik balik matahari musim panas.

 

Asal Usul Duanwu Masih Misteri

Dengan sejarah yang telah berlangsung lebih dari dua ribu tahun, asal-usul Festival Duanwu masih menjadi topik yang diperdebatkan oleh para sejarawan dan peneliti budaya hingga saat ini. Terdapat beberapa teori yang berbeda mengenai awal mula perayaan ini, masing-masing memiliki dasar sejarah dan budaya tersendiri.

Salah satu teori paling populer mengaitkan festival ini dengan kisah tragis seorang penyair patriotik bernama Qu Yuan (sekitar 340–278 SM). Ia hidup pada masa Negara Chu dalam periode Negara-Negara Berperang di bawah Dinasti Zhou. Sebagai bagian dari keluarga bangsawan, Qu Yuan pernah mengabdi di lingkungan istana kerajaan, namun kemudian tersingkir akibat perbedaan pandangan politik dengan penguasa.

Setelah negaranya mengalami kekalahan dan ditaklukkan oleh pasukan asing, Qu Yuan diliputi keputusasaan mendalam hingga akhirnya memilih mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke Sungai Miluo. Masyarakat yang sangat menghormatinya kemudian berusaha mencari jasadnya menggunakan perahu, yang dipercaya menjadi cikal bakal tradisi lomba perahu naga. Untuk mencegah tubuhnya dimakan ikan, masyarakat juga melemparkan bola-bola nasi ketan ke sungai, yang kemudian berkembang menjadi tradisi Zongzi.

Selain kisah Qu Yuan, terdapat pula teori lain yang menyebutkan bahwa Duanwu berakar dari tradisi suku kuno di wilayah Baiyue yang menyembah totem naga. Dalam pandangan ini, kegiatan seperti makan Zongzi dan lomba perahu naga sudah ada jauh sebelum era Qu Yuan, sebagai bagian dari ritual penghormatan terhadap simbol naga yang dianggap sebagai leluhur dan pelindung masyarakat.

Terlepas dari berbagai perbedaan teori tersebut, Duanwu pada masa kini telah berkembang menjadi perayaan yang menekankan nilai kebersamaan, keharmonisan antara manusia dan alam, serta semangat menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.

Fakta Menarik tentang Festival Perahu Naga Tiongkok

Festival Perahu Naga merupakan salah satu perayaan tradisional paling penting dalam budaya Tiongkok yang tidak hanya dirayakan di dalam negeri, tetapi juga di berbagai negara Asia lainnya. Festival ini memiliki sejarah panjang, nilai budaya yang kuat, serta berbagai tradisi unik yang masih dilestarikan hingga saat ini. Berikut tujuh fakta menarik mengenai perayaan yang penuh makna ini.

1. Tanggal Festival Berbeda Setiap Tahun

Tanggal pelaksanaan Festival Perahu Naga tidak bersifat tetap dalam kalender Masehi, melainkan mengikuti perhitungan kalender lunar Tiongkok. Festival ini selalu jatuh pada hari kelima di bulan kelima dalam penanggalan lunar, sehingga waktu pelaksanaannya setiap tahun dapat berbeda dalam kalender internasional.

Sebagai contoh, pada tahun 2026, Festival Perahu Naga diperkirakan berlangsung pada tanggal 19 Juni. Perubahan ini terjadi karena sistem kalender lunar memiliki siklus yang tidak sepenuhnya selaras dengan kalender Gregorian yang digunakan secara global.

2. Termasuk Hari Libur Nasional Penting di Tiongkok

Festival Perahu Naga tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga ditetapkan sebagai hari libur nasional resmi di Tiongkok. Masyarakat umumnya mendapatkan satu hari libur utama, namun dalam praktiknya pemerintah sering menetapkan libur panjang hingga tiga hari dengan menggabungkan akhir pekan.

Pada tahun 2026, misalnya, periode libur diperkirakan berlangsung mulai Jumat 19 Juni hingga Minggu 21 Juni. Momentum ini dimanfaatkan banyak orang untuk berkumpul bersama keluarga, melakukan perjalanan, atau mengikuti berbagai kegiatan tradisional.

3. Diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO

Festival Perahu Naga memiliki pengakuan internasional yang sangat penting. Pada 20 Mei 2006, festival ini pertama kali ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tingkat nasional di Tiongkok.

Kemudian pada 30 Oktober 2009, UNESCO secara resmi memasukkan Festival Perahu Naga ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, menegaskan nilai budaya, sejarah, serta makna sosial yang terkandung di dalamnya sebagai warisan dunia yang perlu dilestarikan.

4. Berkaitan Erat dengan Tokoh Sejarah Qu Yuan

Salah satu aspek paling terkenal dari Festival Perahu Naga adalah keterkaitannya dengan sosok penyair patriotik bernama Qu Yuan. Ia hidup pada masa Negara-Negara Berperang dan dikenal sebagai pejabat yang memiliki kecintaan besar terhadap negaranya.

Menurut cerita yang berkembang, Qu Yuan mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke Sungai Miluo setelah negaranya jatuh ke tangan musuh. Penduduk setempat kemudian berusaha mencari jasadnya menggunakan perahu, sekaligus melemparkan nasi ke sungai agar tidak dimakan ikan. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi dasar lahirnya tradisi perahu naga dan zongzi.

5. Balap Perahu Naga sebagai Atraksi Utama

Kegiatan paling meriah dalam festival ini adalah lomba perahu naga yang digelar di berbagai wilayah, terutama di Tiongkok bagian selatan. Tradisi ini berkembang dari legenda pencarian Qu Yuan, kemudian berubah menjadi kompetisi olahraga yang sangat populer.

Perahu yang digunakan biasanya dihias menyerupai naga dengan bentuk panjang dan warna mencolok. Di bagian depan terdapat penabuh drum yang mengatur ritme kayuhan para pendayung, menciptakan suasana lomba yang penuh energi, semangat, dan sorakan penonton. Saat ini, balap perahu naga juga telah menjadi ajang berskala internasional.

6. Tradisi Menggantung Tanaman Pelindung di Pintu Rumah

Selain perayaan di air dan makanan khas, Festival Perahu Naga juga memiliki tradisi unik berupa penggantungan tanaman tertentu di pintu rumah. Tanaman seperti mugwort Tiongkok dan calamus dipercaya memiliki sifat alami yang dapat mengusir serangga, nyamuk, serta energi negatif.

Dalam kepercayaan tradisional, bulan kelima dalam kalender lunar dianggap sebagai periode dengan energi yang kurang stabil, sehingga masyarakat melakukan berbagai ritual perlindungan rumah. Hingga kini, kebiasaan ini masih ditemukan di beberapa daerah pedesaan, meskipun mulai jarang dilakukan di kota-kota besar.

 

Zongzi dan Tradisi Kuliner Khas Festival

Zongzi (粽子; zòngzi) merupakan salah satu makanan tradisional paling ikonik yang selalu hadir dalam perayaan Festival Duanwu. Hidangan ini dibuat dari beras ketan yang memiliki tekstur lengket dan padat, kemudian dibentuk secara khas menyerupai piramida atau segitiga yang cukup rapat. Setelah dibentuk, beras ketan tersebut dibungkus menggunakan daun bambu atau daun alang-alang yang memberikan aroma alami khas, sebelum akhirnya dikukus atau direbus hingga menghasilkan tekstur yang lembut, harum, dan siap disantap.

Keunikan Zongzi tidak hanya terletak pada bentuk dan cara pengolahannya, tetapi juga pada variasi isian yang berbeda di setiap wilayah Tiongkok. Setiap daerah memiliki ciri khas rasa yang mencerminkan budaya lokal masing-masing. Di wilayah utara, Zongzi cenderung memiliki cita rasa manis dengan isian seperti kurma merah atau pasta kacang yang lembut. Sementara itu, di wilayah selatan, Zongzi lebih banyak disajikan dalam versi gurih dengan isian seperti daging perut babi, kacang-kacangan, hingga kuning telur asin yang memberikan rasa lebih kaya dan kompleks.

Dalam perkembangan modern, Zongzi kini sangat mudah ditemukan di berbagai tempat, terutama supermarket dan pusat perbelanjaan menjelang perayaan Festival Duanwu. Kehadiran produk siap saji ini membuat masyarakat lebih mudah menikmati makanan tradisional tersebut tanpa harus melalui proses pembuatan yang cukup memakan waktu. Meskipun demikian, banyak keluarga di Tiongkok yang tetap mempertahankan tradisi membuat Zongzi secara manual di rumah, sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus momen kebersamaan antaranggota keluarga.

Selain dikenal sebagai hidangan khas festival, Zongzi juga memiliki keterkaitan dengan kepercayaan dan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat. Dalam tradisi lama, bulan kelima dalam kalender lunar dianggap sebagai periode yang memiliki energi tidak stabil. Hal ini dikaitkan dengan meningkatnya suhu musim panas serta munculnya berbagai hewan berbisa seperti ular, kalajengking, dan kelabang yang keluar dari tempat persembunyiannya. Oleh sebab itu, Festival Duanwu juga dipandang sebagai waktu penting untuk melakukan pembersihan lingkungan, perlindungan diri, serta penggunaan ramuan tradisional yang dipercaya mampu mengusir penyakit dan energi negatif dari kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

Pertanyaan Seputar Festival Perahu Naga

Kapan Festival Perahu Naga dirayakan pada tahun 2026?

Pada tahun 2026, Festival Perahu Naga akan dirayakan pada tanggal 19 Juni. Secara tradisional, festival ini jatuh pada hari kelima bulan kelima dalam kalender lunar Tiongkok.

Siapakah Qu Yuan dan bagaimana ia terkait dengan Festival Perahu Naga?

Qu Yuan adalah seorang penyair dan menteri setia Kerajaan Chu yang hidup pada Periode Negara-Negara Berperang. Ia bunuh diri di Sungai Miluo sebagai bentuk protes atas kehancuran tanah airnya. Tindakan ini menjadi inti legenda Festival Perahu Naga, di mana masyarakat mencoba menyelamatkan atau menemukan jasadnya, yang kemudian melahirkan tradisi perlombaan perahu naga dan zongzi.

Apa saja tradisi utama yang dilakukan selama Festival Perahu Naga?

Dua tradisi utama adalah perlombaan perahu naga, yang berawal dari upaya mencari jasad Qu Yuan, dan makan zongzi (bakcang), yaitu pangsit ketan yang dibungkus daun bambu. Selain itu, ada juga tradisi menggantung daun mugwort dan calamus untuk mengusir roh jahat.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6