7 Tanda Ayam Petelur Akan Berhenti Bertelur dan Cara Mengatasinya, Panduan untuk Peternak

Kenali tanda ayam petelur akan berhenti bertelur dan cara mengatasinya untuk menjaga produktivitas usaha peternakan Anda. Jangan sampai rugi!

Diterbitkan 02 Maret 2026, 18:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Produktivitas ayam petelur menjadi salah satu indikator utama keberhasilan peternakan. Penurunan produksi telur kerap muncul secara perlahan, sehingga membutuhkan perhatian khusus. Memahami seputar tanda ayam petelur akan berhenti bertelur dan cara mengatasinya memungkinkan peternak, untuk mengambil langkah preventif agar hasil tetap optimal.

Gejala fisik maupun perilaku ayam bisa menjadi indikator awal adanya penurunan kemampuan bertelur. Aktivitas harian, kualitas bulu, hingga nafsu makan sering berubah ketika produksi mulai menurun. Observasi rutin membantu mendeteksi seputar tanda ayam petelur akan berhenti bertelur dan cara mengatasinya, sebelum kondisi memburuk.

Asupan pakan, pencahayaan, serta manajemen kandang juga sangat memengaruhi kesehatan reproduksi ayam. Gangguan pada faktor-faktor tersebut dapat mempercepat penurunan produksi. Oleh karena itu, pemahaman seputar tanda ayam petelur akan berhenti bertelur dan cara mengatasinya menjadi langkah penting, bagi setiap peternak rumahan maupun skala usaha.

Selain faktor internal, stres akibat lingkungan atau kepadatan kandang juga memengaruhi kualitas telur. Ayam yang mengalami stres cenderung lebih jarang bertelur, atau menghasilkan telur dengan cangkang tipis. Berikut ulasan seputar tanda ayam petelur akan berhenti bertelur dan cara mengatasinya yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (2/3/2026).

Tanda-Tanda Ayam Petelur Akan Berhenti Bertelur

Beberapa gejala dapat menjadi indikator bahwa ayam petelur mulai memasuki fase penurunan produktivitas dan mendekati berhenti bertelur. Mengenali tanda-tanda ini sangat penting bagi peternak agar dapat mengambil langkah perbaikan, baik melalui manajemen kandang, pemberian pakan tambahan, maupun perawatan kesehatan.

1. Penurunan Intensitas Bertelur

Ayam mulai menghasilkan telur lebih jarang dibandingkan pola sebelumnya. Misalnya, ayam yang sebelumnya bertelur setiap hari dapat menurun menjadi hanya 3–4 kali dalam seminggu. Penurunan frekuensi ini menandakan bahwa organ reproduksi mulai mengalami penurunan fungsi, sehingga tubuh lebih fokus pada pemeliharaan kondisi internal daripada produksi telur.

2. Perubahan Bentuk atau Kualitas Telur

Telur yang dihasilkan mulai menunjukkan perubahan, seperti ukuran lebih kecil, cangkang lebih tipis, atau bentuk tidak sempurna. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan kekurangan nutrisi tertentu, terutama kalsium dan protein, atau penurunan kemampuan fisiologis ayam dalam proses pembentukan telur. Perubahan kualitas telur juga bisa menjadi sinyal bahwa metabolisme reproduksi ayam mulai melemah.

3. Perubahan Fisik Ayam

Beberapa perubahan fisik dapat diamati secara kasat mata. Kulit ayam menjadi kusam, bulu rontok, dan sisik kaki terlihat kurang sehat. Punggung ayam tampak lebih lemah, tubuh cenderung menggemuk akibat berkurangnya energi yang dialokasikan untuk produksi telur, sementara metabolisme lebih fokus pada pemeliharaan organ vital. Gejala ini menandakan tubuh ayam mulai menyesuaikan diri menghadapi fase penurunan produktivitas.

4. Perubahan Aktivitas dan Nafsu Makan

Ayam menjadi lebih jarang bergerak, cenderung beristirahat lebih lama, dan menunjukkan penurunan nafsu makan. Perubahan perilaku ini biasanya merupakan indikasi stres, penuaan, atau gangguan kesehatan ringan hingga sedang yang memengaruhi kemampuan bertelur. Aktivitas yang menurun juga berdampak pada metabolisme energi, sehingga produksi telur ikut menurun.

5. Perubahan Warna Kloaka

Kloaka ayam yang biasanya cerah mulai tampak pucat atau lebih gelap. Warna kloaka merupakan indikator kesehatan reproduksi dan tingkat hormon. Perubahan ini menandakan menurunnya aktivitas ovarium, sehingga frekuensi bertelur mulai berkurang secara bertahap.

6. Penurunan Suara Bertelur

Ayam petelur yang biasanya rutin mengeluarkan suara khas ketika bertelur mulai jarang mengeluarkan suara tersebut. Penurunan ini sering kali terjadi bersamaan dengan berkurangnya produksi telur dan menunjukkan ayam memasuki fase produktivitas menurun.

7. Penumpukan Lemak di Tubuh

Seiring menurunnya produksi telur, tubuh ayam mulai menimbun lemak lebih banyak, terutama di sekitar perut dan punggung. Hal ini disebabkan berkurangnya alokasi energi untuk produksi telur, sehingga energi tersimpan dalam bentuk lemak tubuh. Kondisi ini bisa diamati secara visual dan menjadi salah satu tanda jelas ayam sedang memasuki fase berhenti bertelur.

 

Cara Mengatasi Ayam yang Akan Berhenti Bertelur

Untuk mengurangi penurunan produksi telur pada ayam petelur dan memperpanjang masa produktivitasnya, beberapa langkah strategis dapat diterapkan. Pendekatan ini mencakup perbaikan nutrisi, manajemen lingkungan, pengurangan stres, serta perawatan kesehatan rutin yang komprehensif. Dengan penerapan yang konsisten, ayam dapat tetap sehat, aktif, dan frekuensi bertelur dapat dipertahankan lebih lama.

1. Peningkatan Nutrisi

Memberikan pakan berkualitas tinggi menjadi langkah utama dalam menjaga produktivitas ayam petelur. Pakan ideal sebaiknya memiliki kandungan protein minimal 18%, kalsium, fosfor, dan vitamin D3 yang cukup untuk mendukung proses fisiologis pembentukan telur.

Suplemen tambahan seperti cangkang tiram giling, tepung kulit kerang, atau bahan kalsium alami lainnya membantu memperkuat cangkang telur, mencegah telur rapuh, serta menjaga kualitas nutrisi telur agar tetap optimal. Pemberian pakan seimbang secara rutin akan mendukung metabolisme ayam dan mencegah penurunan produktivitas akibat kekurangan nutrisi.

2. Manajemen Pencahayaan

Pencahayaan yang memadai memiliki peran penting dalam memicu produksi hormon reproduksi pada ayam petelur. Ayam membutuhkan durasi cahaya sekitar 14–16 jam per hari agar proses bertelur tetap berjalan optimal. Pada musim hujan atau musim dingin, ketika cahaya alami kurang, penggunaan pencahayaan buatan di dalam kandang dapat membantu mempertahankan ritme bertelur. Pengaturan intensitas dan durasi cahaya yang tepat dapat memperlambat penurunan produksi telur akibat faktor lingkungan.

 

3. Mengurangi Stres Ayam

Stres merupakan salah satu faktor utama yang dapat menurunkan frekuensi bertelur secara signifikan. Untuk mengurangi stres, pastikan ayam memiliki ruang gerak yang cukup, ventilasi kandang yang baik, dan terbebas dari gangguan predator atau kebisingan yang tiba-tiba. Selain itu, minimalkan perubahan mendadak pada lingkungan atau pakan, karena perubahan drastis dapat memicu respons stres pada ayam dan menurunkan kemampuan reproduksi. Lingkungan yang nyaman dan aman akan mendorong ayam tetap aktif, sehat dan produktif.

4. Perawatan Kesehatan Rutin

Perawatan kesehatan yang konsisten menjadi faktor penentu dalam mempertahankan produksi telur. Lakukan vaksinasi sesuai jadwal, pemberian probiotik untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan, serta pemeriksaan rutin untuk mendeteksi dini infeksi atau parasit. Ayam yang sehat memiliki sistem imun yang optimal, metabolisme stabil dan kemampuan bertelur lebih lama dibandingkan ayam yang sering sakit atau mengalami gangguan pencernaan.

5. Rotasi Ayam dan Peremajaan Kandang

Untuk menjaga populasi ayam tetap produktif, rotasi ayam secara bertahap dapat diterapkan. Hal ini membantu menjaga kontinuitas produksi telur, terutama jika ada ayam yang mulai menurun produktivitasnya karena usia. Selain itu, peremajaan fasilitas kandang sangat penting di mana ada perbaikan ventilasi, kebersihan dan kenyamanan kandang yang akan memberikan lingkungan ideal bagi ayam untuk tetap aktif, sehat dan menjaga frekuensi bertelur.

FAQ Seputar Topik

Apa saja tanda-tanda ayam petelur akan berhenti bertelur?

Tanda-tanda ayam petelur akan berhenti bertelur meliputi penurunan drastis jumlah telur, kualitas telur yang menurun (kerabang lembek/tipis), jengger dan pial pucat/kusam, kloaka kering/sempit, perut keras, jarak tulang pubis sempit, bulu kusam/rontok, nafsu makan menurun, lesu, dan perilaku agresif.

Mengapa ayam petelur bisa berhenti berproduksi?

Ayam petelur bisa berhenti berproduksi karena beberapa faktor seperti molting alami pada usia sekitar 75-80 minggu, nutrisi dan pakan yang tidak seimbang, kondisi stres akibat lingkungan kandang yang buruk, serangan penyakit (ND, IB, AI, EDS'76) dan parasit, serta kualitas genetik ayam yang kurang baik.

Bagaimana cara mengatasi ayam petelur yang berhenti bertelur?

Untuk mengatasi ayam petelur yang berhenti bertelur, peternak dapat memperbaiki manajemen pakan dan nutrisi dengan pakan berkualitas, mengelola lingkungan kandang untuk mengurangi stres (ventilasi, suhu, pencahayaan), menerapkan biosekuriti ketat dan program vaksinasi, serta mempertimbangkan 'force molting' untuk peremajaan ayam.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6