Sukses

KPAI Minta Tempat Pengungsian Korban Banjir Juga Punya Ruang Menyusui

Liputan6.com, Jakarta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta agar tempat pengungsian korban banjir memiliki ruang privasi yang layak. Dua diantaranya adalah tempat ibu menyusui dan toilet. Hal tersebut mereka nyatakan usai meninjau beberapa lokasi tersebut.

"Ruang privasi seperti pojok ASI untuk ibu menyusui harus dibuat meski bentuknya sederhana dan portabel seperti ruang ganti baju di toko swalayan," kata Susianah Affandy, Komisioner KPAI Bidang Sosial dan Anak dalam Situasi Darurat.

Dalam keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Jumat (3/1/2020), Susianah mengatakan bahwa KPAI masih menemukan banyak ibu yang kesulitan memberikan ASI pada anak karena berada di tengah banyak orang, baik laki-laki dan perempuan.

Meskipun begitu, mereka menyatakan bahwa saat ini terdapat peningkatan layanan pengungsian korban banjir dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Layanan penampungan yang terletak di gedung atau fasilitas umum memberikan kenyamanan dibandingkan dengan penampungan yang terbuat dari tenda-tenda ala kadarnya."

Simak juga Video Menarik Berikut Ini

2 dari 2 halaman

Penuhi Kebutuhan Toilet

Fasilitas lain yang disorot KPAI adalah keberadaan toilet. Susianah mengatakan, fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) harus bersih dan terpisah antara laki-laki dan perempuan.

"Anak dan remaja perempuan, apalagi yang sedang fase menstruasi harus mendapat fasilitas toilet dan ketersediaan air bersih, dan toilet tersebut harus terjamin keamanannya," kata Susianah.

"Saat melakukan pengawasan di tempat pengungsian, KPAI menerima pengaduan masyarakat terkait sulitnya air di toilet yang tersedia di ruang penampungan," tulis Susianah.

Berdasarkan hal tersebut, KPAI meminta agar Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengoordinasikan kepada pemerintah daerah agar menyediakan sarana dan prasarana untuk ibu dan anak seperti pojok ASI, fasilitas toilet dan air bersih terpisah laki-laki dan perempuan, serta ruang privasi bagi anak perempuan di tempat pengungsian selama tahap darurat.