Kisah Siswa Selamat dari Banjir Bandang Nepal Berkat Jam Makan Siang

Korban tewas akibat banjir bandang di Nepal dan Tibet nyaris mencapai 1.000 orang.

Diterbitkan 01 September 2026, 08:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kathmandu - Peristiwa yang terjadi pada Rabu (26/8/2026) di Shree Bagheswori Madhyamik School, Distrik Dhading, Nepal, menunjukkan betapa krusialnya hitungan menit dalam sebuah bencana.

Keberuntungan pertama berpihak pada satu kelompok siswa karena banjir bandang menerjang tepat saat bel istirahat makan siang berbunyi. Mereka kebetulan sudah mengosongkan ruangan dan berada di area luar kelas saat dinding air bercampur lumpur mulai mendekat.

Bagi siswa di kelas-kelas lain yang masih berada di dalam ruangan, kunci keselamatan mereka berada di tangan para guru yang berpikir cepat. Sesaat sebelum air bah menghantam struktur bangunan, para guru yang mendengar gemuruh air langsung menyadari bahaya dan memerintahkan evakuasi darurat dengan seketika.

Faktor penentu mengapa anak-anak ini bisa berlari dengan cepat adalah perintah tegas untuk mengabaikan seluruh harta benda mereka.

"Para guru berteriak, 'Ada banjir dan kalian harus meninggalkan tas serta tempat makan kalian,'" kenang Lakshmi Shrestha, ibu dari salah satu siswa yang selamat seperti dilaporkan Associated Press.

Instruksi untuk melepas tas ransel yang berat dan kotak bekal membuat anak-anak dapat bergerak lincah tanpa beban, berlari keluar gedung, dan langsung mendaki ke lereng perbukitan yang aman di sekitar sekolah.

Hanya beberapa saat setelah siswa terakhir berhasil dievakuasi ke dataran tinggi, aliran air pekat membawa sedimen abu-abu dan lumpur cokelat tebal langsung menghantam kompleks sekolah. Air naik dengan sangat cepat hingga merendam ruang kelas.

Ketika para ibu dan siswa kembali ke sekolah pada hari Minggu untuk melihat apa yang bisa diselamatkan, mereka menemukan pemandangan yang memilukan sekaligus mengharukan: seluruh meja, bangku, dan dinding sekolah telah dilapisi lumpur tebal. Di atas lantai dan bangku kelas, tampak tumpukan tas-tas kecil anak sekolah yang telah membeku tertimbun lumpur, menjadi saksi bisu seberapa cepat mereka harus berlari demi bertahan hidup.

Shrestha termasuk di antara para ibu dan anak-anak yang mulai kembali ke sekolah pada Minggu untuk mencari barang-barang milik para siswa dan melihat apa yang masih bisa diselamatkan. Menurut keluarga para siswa, sejauh yang mereka ketahui, sebagian besar anak di sekolah tersebut selamat dari banjir.

 

Kopila Mizar, ibu dari siswa lainnya, tidak berhasil menemukan tas ransel putranya. Meski demikian, ia tetap bersyukur karena anaknya selamat.

"Anak saya masih hidup. Itu kebahagiaan terbesar bagi saya," tuturnya.

Menurut organisasi nirlaba Save the Children, sedikitnya 69 sekolah di wilayah Nepal yang dilanda banjir telah hancur atau rusak, sehingga pendidikan hampir 19.000 anak terancam terganggu.

Jumlah tersebut kemungkinan masih akan bertambah seiring tim penyelamat menjangkau lebih banyak wilayah.

Meskipun instruksi penutupan tiga hari dari pemerintah pusat sudah berakhir pada hari Minggu/Senin, memasuki Selasa (1/9), sebagian besar sekolah di wilayah terdampak parah (seperti Lembah Kathmandu dan wilayah perbatasan) masih tetap meliburkan diri.

Peringatan banjir masih terus dikeluarkan dan warga diminta berpindah ke tempat yang lebih tinggi dan aman. Karena itu, belum jelas kapan kegiatan belajar mengajar dapat kembali dimulai.

Hingga saat ini, total korban tewas akibat bencana banjir bandang lintas batas ini telah menembus 955 orang, sementara 4.471 lainnya masih dinyatakan hilang. Otoritas penanggulangan bencana Nepal mengonfirmasi jumlah korban tewas di wilayahnya telah melonjak menjadi 939 orang, dengan 3.925 orang hilang. Sementara itu, pihak berwenang China melaporkan 16 orang tewas dan 546 lainnya hilang di wilayah Tibet yang berada di sisi lain perbatasan.

Di antara mereka yang hilang terdapat ratusan warga negara asing dari lebih dari selusin negara. Mereka berada di kawasan tersebut untuk bekerja, mengunjungi jalur pendakian pegunungan, atau berziarah ke Gunung Kailash, sebuah gunung suci di wilayah Himalaya.

Pemerintah Nepal mencatat sedikitnya 592 warga negara asing hilang di wilayah mereka. Di saat yang sama, media pemerintah China melaporkan 261 warga negara asing masih belum ditemukan di wilayah Tibet, termasuk lebih dari 100 warga negara Nepal serta puluhan warga dari negara lain, seperti Amerika Serikat.

Proses pencarian saat ini juga difokuskan pada 639 pekerja infrastruktur yang dilaporkan hilang akibat tertimbun lumpur di area proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Distrik Rasuwa dan Nuwakot di bagian utara Nepal.