8 Kali Lolos Hukuman Mati, Napi Tertua di AS Meninggal

Francis Clifford Smith, narapidana tertua di AS, meninggal di usia 101 tahun setelah 8 kali lolos hukuman mati.

Diterbitkan 21 Agustus 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington - Francis Clifford Smith menjalani lebih dari tujuh dekade hidupnya di balik jeruji besi. Delapan kali ia sempat mendapat makanan terakhir sebelum eksekusi, tetapi setiap kali pula hukuman mati terhadapnya batal dilaksanakan.

Dikutip dari BBC, Kamis (21/8/2026), Smith akhirnya meninggal dunia pada Juni lalu dalam usia 101 tahun. Ia kemudian dikenal sebagai salah satu narapidana dengan masa hukuman terlama di Amerika Serikat.

Smith divonis bersalah atas pembunuhan pada 1950 ketika usianya baru 25 tahun. Namun, sepanjang hidupnya, ia tetap mempertahankan bahwa dirinya tidak bersalah, menurut orang-orang yang mengenalnya.

Kasus yang menjerat Smith bermula pada 1949 ketika ia dituduh membunuh Grover Hart, seorang penjaga malam di sebuah klub kapal pesiar di Connecticut. Smith merupakan satu dari dua pria yang ditangkap terkait kasus tersebut.

Pria lainnya kemudian menerima kesepakatan dengan jaksa dan memberikan kesaksian yang memberatkan Smith. Smith akhirnya dinyatakan bersalah atas pembunuhan tingkat pertama.

Namun, seiring berjalannya waktu, kesalahan vonis dan bukti yang digunakan untuk menghukumnya mulai dipertanyakan. Sejumlah saksi menarik kembali kesaksian mereka, sementara seorang narapidana lain kemudian mengaku sebagai pelaku pembunuhan tersebut.

Salah seorang polisi yang pernah menginterogasi Smith setelah penangkapannya bahkan kemudian bersaksi bahwa ia meyakini Smith tidak bersalah.

"Saya bahkan tidak yakin dia berada di tempat kejadian pembunuhan," kata Mayor Leo Carroll kepada Board of Pardons, seperti dikutip Boston Globe.

Dijuluki "Birdman of Osborn"

Selama berada di penjara Osborn, Smith memiliki kebiasaan yang membuatnya dikenal oleh para petugas dan sesama narapidana.

Ia sering memberi makan burung yang berada di sekitar penjara. Andrius Banevicius, pejabat informasi publik Departemen Pemasyarakatan Connecticut, mengatakan Smith bahkan menyembunyikan roti di pakaiannya untuk diberikan kepada burung.

"Dia akan memasukkan roti sebanyak yang dia bisa ... ke dalam pakaiannya," kata Banevicius kepada BBC.

Para petugas, menurut Banevicius, cenderung membiarkan kebiasaan tersebut.

"Semua orang seolah menutup mata karena mereka tahu dia hanya memberi makan burung," ujarnya.

Kebiasaan itu membuat Smith mendapat julukan "The Birdman of Osborn".

 

Lebih dari 70 Tahun di Balik Jeruji

Smith menghabiskan lebih dari 70 tahun di penjara, meski sempat menikmati kebebasan dalam tiga periode singkat.

Pada 1967, ia melarikan diri dari penjara dan berhasil ditangkap kembali 12 hari kemudian.

Pada 1974, Smith pulang pada malam Natal dan kembali ke penjara keesokan harinya, menurut Banevicius.

Setahun kemudian, ia mendapat pembebasan bersyarat dan berada di luar penjara selama sekitar 10 bulan. Namun, ia kembali ditangkap karena pencurian ringan dan kepemilikan senjata, yang merupakan pelanggaran terhadap pembebasan bersyaratnya, menurut Boston Globe.

Richard Sparaco, mantan direktur eksekutif lembaga yang kini bernama Board of Pardons and Paroles, mengatakan kepada Hartford Courant bahwa Smith kemudian menolak beberapa upaya untuk kembali mendapatkan pembebasan bersyarat.

Baru pada 2020, Smith akhirnya mendapat pembebasan bersyarat dengan pengawasan dan dipindahkan ke sebuah fasilitas perawatan bagi warga lanjut usia dalam sistem peradilan.

Gambaran Krisis Narapidana Lansia di AS

Kisah Smith juga mencerminkan persoalan yang lebih luas di sistem pemasyarakatan Amerika Serikat, yakni semakin banyaknya narapidana yang menua di dalam penjara.

Dr Stephanie Prost, peneliti mengenai lansia dan lingkungan penjara di University of Louisville, Kentucky, mengatakan kepada BBC bahwa banyak sistem penjara memiliki narapidana seperti Smith.

"Ini bukan hanya masalah yang dihadapi satu yurisdiksi terkait krisis akibat penuaan, karena persoalan serupa juga muncul di Australia dan Inggris," katanya.

Menurut studi yang diterbitkan pada 2025, jumlah narapidana berusia 55 tahun ke atas meningkat hampir 400 persen antara 1991 dan 2021.

Biro Sensus Amerika Serikat memperkirakan setidaknya sepertiga populasi narapidana akan berusia lebih dari 50 tahun pada 2030.

Prost dan para peneliti lainnya mendorong penerapan kebijakan yang disebut "smart de-carceration". Salah satu bentuknya adalah pembebasan dengan pertimbangan kemanusiaan serta pembebasan bersyarat bagi lansia atau narapidana dengan kebutuhan medis.

Kebijakan tersebut mempertimbangkan usia dan kebutuhan perawatan, mengingat narapidana lansia lebih rentan mengalami berbagai persoalan kesehatan yang membutuhkan biaya besar dan dapat menyulitkan mereka menjalani kehidupan dalam lingkungan penjara yang sangat teratur.

Risikonya antara lain jatuh, inkontinensia, hingga gangguan pendengaran.

Namun, para ahli mengatakan hanya sedikit fasilitas yang bersedia menerima narapidana yang telah menjalani hukuman.

Smith termasuk salah satu penghuni awal yang mendapat perawatan melalui MissionCare Health, sebuah skema yang secara khusus memberikan layanan perawatan kepada individu yang masih berada dalam sistem pemasyarakatan. Saat ini, skema tersebut memiliki tiga fasilitas di wilayah timur laut Amerika Serikat.

 

Menghabiskan Tahun-Tahun Terakhir dengan Perawatan

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Smith tinggal di fasilitas 60 West.

David Skoczulek, juru bicara fasilitas tersebut, mengatakan kepada BBC bahwa Smith meninggal dalam tidurnya pada Juni lalu. Jenazahnya kemudian dikremasi.

"Pada dasarnya, dia meninggal karena usia tua," kata Skoczulek.

Ia mengatakan keterlibatan keluarga Smith pada saat-saat terakhir hidupnya sangat terbatas. Namun, pihak fasilitas memastikan proses perawatan dan pemakamannya berlangsung sesuai keinginan Smith dan tetap bermartabat.

Peran 60 West, kata Skoczulek, adalah memberikan layanan keperawatan terampil serta perawatan jangka panjang yang dibutuhkan Smith.

Penelitian menunjukkan bahwa kehidupan di penjara dapat menyebabkan "penuaan yang dipercepat". Kondisi seperti demensia juga dapat muncul jauh lebih dini dibandingkan pada orang yang tidak pernah menjalani hukuman penjara.

"Kami sering mengatakan bahwa seseorang yang menjalani masa panjang di penjara bisa berusia 60 tahun, tetapi memiliki kondisi kesehatan seperti orang berusia 90 tahun," ujar Skoczulek.

Smith dilaporkan mengalami demensia menjelang akhir hidupnya. Banevicius tidak mengonfirmasi hal tersebut kepada BBC, tetapi mengatakan Smith menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan usia lanjut.

"Dia berusia 101 setengah tahun," kata Banevicius. "Dia cukup baik dalam hal umur panjang."