Rusia Gempur Jembatan Kyiv di Tengah Kunjungan Kanselir Jerman

Serangan drone Rusia menghantam jembatan utama Kyiv, Northern Bridge, melukai dua orang di tengah kunjungan Kanselir Jerman Friedrich Merz.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kyiv - Rusia kembali menyerang salah satu jembatan utama di Kyiv ketika Kanselir Jerman Friedrich Merz tiba di ibu kota Ukraina dalam kunjungan yang menunjukkan dukungan Berlin terhadap Kyiv.

Dikutip dari The Guardian, Senin (5/10/2026), sebuah drone Rusia menghantam Northern Bridge, jembatan penting yang melintasi Sungai Dnipro. Serangan tersebut menjadi hari keempat berturut-turut Rusia menargetkan jembatan yang digunakan puluhan ribu warga untuk bepergian antara kedua sisi kota.

Rekaman video menunjukkan sejumlah mobil masih melintas ketika drone menghantam badan jalan dan meledak disertai kobaran api. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengatakan dua orang terluka dalam serangan tersebut.

Serangan terjadi tak lama setelah Merz tiba di Kyiv dalam kunjungan yang sebelumnya tidak diumumkan. Kunjungan itu dimaksudkan untuk menegaskan dukungan Jerman kepada Ukraina, ketika negara tersebut memasuki salah satu periode paling genting sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh pada 2022.

Jerman telah menjadi pemasok bantuan militer terbesar bagi Ukraina sejak Merz menjabat sebagai kanselir pada Mei 2025. Posisi tersebut menggeser Amerika Serikat, seiring menurunnya dukungan Washington.

Dalam beberapa pekan terakhir, Kyiv hampir terus-menerus menjadi sasaran serangan drone Rusia bertenaga jet. Intensifikasi serangan tersebut semakin mengganggu kehidupan sehari-hari di ibu kota dan mengancam membuat Kyiv kekurangan listrik pada musim dingin.

Dalam kunjungannya, Merz mengumumkan Jerman akan mendanai produksi bersama drone yang dirancang untuk mencegat drone Rusia bertenaga jet. Menurutnya, "terobosan teknis yang signifikan" dalam beberapa pekan terakhir telah mempercepat proses produksi.

"Ini akan dengan cepat dan nyata memperkuat pertahanan udara Ukraina," kata Merz. "Dan penguatan ini sangat dibutuhkan."

Pemimpin Jerman itu juga merasakan langsung kondisi kehidupan sehari-hari di Kyiv. Sirene serangan udara berulang kali terdengar selama kunjungannya, termasuk ketika Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menunjukkan kepadanya gedung Akademi Sains Nasional yang rusak parah akibat serangan drone Rusia yang menewaskan dua orang pekan lalu.

Zelenskyy mengatakan kepada Merz bahwa warga Kyiv mengalami "malam dan hari yang mengerikan" akibat serangan tanpa henti. Dia juga menyebut Rusia sebagai "orang-orang barbar".

"Kita bisa melihat seluruh kesia-siaan perang ini di tempat ini," kata Merz. Setibanya di Kyiv, dia menegaskan Ukraina "membutuhkan seluruh dukungan kita dalam beberapa pekan mendatang".

"Jika Rusia tidak dihentikan, mesin perangnya cepat atau lambat akan berbalik melawan kita," ujarnya.

Rusia sebelumnya telah merusak Northern Bridge dan berulang kali menyerang Southern Bridge. Meskipun kedua jembatan tersebut masih berdiri, serangan berulang dan ancaman serangan lanjutan membuat otoritas Kyiv membatasi atau menghentikan lalu lintas di lima dari enam jembatan jalan yang melintasi Dnipro.

Kondisi tersebut menyebabkan penutupan sementara dan kemacetan panjang.

Jika Moskow berhasil merusak parah jembatan-jembatan Kyiv, hal itu dapat menciptakan masalah logistik besar bagi kota berpenduduk sekitar 3 juta orang tersebut. Jembatan-jembatan yang menghubungkan kedua sisi Dnipro di Kyiv terakhir kali dihancurkan dalam skala besar ketika pasukan Jerman Nazi mundur pada 1943.

Lebih dari sepertiga warga Kyiv tinggal di tepi kiri Dnipro, sementara sebagian besar lapangan kerja dan infrastruktur kota terkonsentrasi di tepi kanan.

Serangkaian serangan terhadap jembatan tersebut merupakan bagian dari kampanye Rusia yang lebih luas terhadap infrastruktur sipil dan industri di Ukraina. Dalam beberapa pekan terakhir, serangan juga menghantam pusat logistik, jalur kereta api, pusat data, fasilitas penyimpanan medis, dan pabrik baja.

Serangan terhadap sistem energi Ukraina juga terus berlangsung dan diperkirakan meningkat selama musim dingin.

"Dia (Putin) mengandalkan eskalasi terus-menerus. Dia sangat menginginkan hal itu," kata Zelenskyy dalam konferensi pers bersama Merz.

"Ini adalah jawaban bagi semua orang—bagi mereka yang percaya bahwa yang perlu dilakukan hanyalah meminta Putin dan dia akan benar-benar mengakhiri perang. Itu tidak akan terjadi, begitu saja," lanjutnya.

 

 

Lawatan Kedua Merz ke Ukraina

Di Moskow, sejumlah komentator pro-perang menyambut dengan gembira serangan Rusia yang terus berlangsung meski Merz telah tiba di Kyiv.

"Rusia dulu menghentikan serangan ke Kyiv selama kunjungan politisi Eropa. Tidak lagi sekarang," tulis Sergei Markov, komentator pro-perang yang dikenal luas.

Kunjungan tersebut merupakan lawatan kedua Merz ke Ukraina sejak menjadi kanselir.

Dia termasuk salah satu pendukung Kyiv yang paling vokal di Eropa dan menjadi salah satu suara utama yang memperingatkan mengenai kampanye hibrida Rusia terhadap negara-negara lain.

Bulan lalu, Jerman secara resmi menuduh Moskow berada di balik dugaan rencana yang menargetkan Bandara Leipzig/Halle, salah satu pusat logistik utama untuk bantuan militer Barat kepada Ukraina.

Namun, dukungan Merz terhadap Ukraina juga menghadapi ketidakpuasan yang semakin besar di dalam negeri seiring menurunnya tingkat kepuasannya.

Kelompok kiri dan kanan ekstrem di Jerman skeptis terhadap dukungan untuk Ukraina dan menginginkan Berlin mengurangi bantuan. Tekanan tersebut meningkat setelah partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) meraih peningkatan suara dalam sejumlah pemilu.

Alice Weidel, salah satu ketua AfD, menulis di media sosial bahwa Merz melakukan perjalanan ke Ukraina pada hari libur nasional Jerman dan menjanjikan tambahan miliaran euro dari uang pembayar pajak Jerman, yang menurutnya justru dibutuhkan untuk dana pensiun dan asuransi kesehatan, ketika Jerman sedang menghadapi krisis energi terburuk.