CPEC Mandek, Kerja Sama China-Pakistan Jadi Sorotan

Apa penyebab mandeknya program CPEC?

Diterbitkan 11 September 2026, 09:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Islamabad - China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) yang sebelumnya dipromosikan sebagai proyek penggerak ekonomi dan pengubah peta geopolitik kini menghadapi berbagai persoalan. Satu dekade setelah diluncurkan, proyek ambisius tersebut justru dinilai menjadi beban finansial bagi Pakistan dan sumber kekhawatiran bagi China.

Islamabad mulai frustrasi terhadap lambannya implementasi proyek serta meningkatnya kewajiban keuangan. Sementara Beijing menghadapi persoalan keamanan, keterlambatan proyek, dan rendahnya tingkat pengembalian dari investasi besar yang telah ditanamkan.

CPEC merupakan proyek unggulan dalam kerangka Belt and Road Initiative (BRI) China. Rencana awal proyek tersebut bernilai sekitar USD 46 miliar atau sekitar Rp 700 triliun berdasarkan nilai tukar saat itu.

Namun, nilai aktual keseluruhan proyek saat ini sulit diketahui secara pasti. Kerahasiaan sejumlah kesepakatan antara Pakistan dan China membuat informasi mengenai nilai investasi dan kewajiban finansial CPEC tidak sepenuhnya terbuka kepada publik.

Kondisi tersebut memicu kritik di Pakistan. Mantan Ketua Federal Board of Revenue (FBR) Shabar Zaidi bahkan menyatakan dirinya telah memperingatkan mengenai CPEC sejak awal, dikutip dari laman European Times.

“Saya adalah orang pertama di Pakistan yang menentang CPEC. Saya mengatakan 25 tahun lalu bahwa ini adalah drama dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Anda telah membohongi masyarakat. Ini membawa bencana,” kata Zaidi.

Pernyataan tersebut kemudian mendapat dukungan dari sejumlah warga Pakistan di media sosial yang mempertanyakan manfaat ekonomi CPEC bagi negara mereka.

Beban Utang Proyek Energi

Salah satu persoalan utama CPEC adalah proyek pembangkit listrik yang belum mampu menyelesaikan krisis energi Pakistan.

Kewajiban Pakistan yang berasal dari proyek pembangkit listrik di bawah CPEC bahkan telah mencapai lebih dari 543 miliar rupee Pakistan pada Maret 2026.

Pemerintah Pakistan berulang kali meminta China melakukan penyesuaian terhadap skema pembayaran untuk meringankan beban keuangan negara.

Namun, Beijing sejauh ini belum menunjukkan kesediaan besar untuk mengurangi kewajiban finansial tersebut.

Menteri Energi Pakistan Sardar Awais Khan Leghari bahkan mengakui bahwa hasil yang diharapkan dari kerja sama tersebut belum tercapai.

“Belum ada hasil yang memadai,” ujar Leghari.

Situasi tersebut menjadi ironi karena salah satu tujuan utama CPEC adalah memperkuat infrastruktur energi Pakistan sekaligus membantu mengatasi krisis listrik yang selama bertahun-tahun membebani perekonomian.

Namun, setelah satu dekade, Pakistan masih menghadapi persoalan listrik mahal, tekanan fiskal, lemahnya ekspor, serta tingginya beban utang.

 

 

Gwadar Jadi Simbol Persoalan CPEC

Persoalan serupa terlihat pada proyek Pelabuhan Gwadar di Provinsi Balochistan.

Gwadar sebelumnya diproyeksikan menjadi salah satu proyek paling penting dalam CPEC sekaligus pusat perdagangan dan logistik yang menghubungkan China dengan Laut Arab.

Namun, perkembangan pelabuhan tersebut masih menghadapi berbagai kendala, termasuk keterbatasan fasilitas dasar, persoalan keamanan, serta lambannya pembangunan infrastruktur pendukung.

Kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena keberhasilan Gwadar sangat berkaitan dengan tujuan strategis China dalam membangun konektivitas perdagangan melalui Pakistan.

CPEC tidak hanya ditujukan untuk membangun jalan, pelabuhan, dan pembangkit listrik. China juga berharap proyek tersebut menciptakan pusat manufaktur, meningkatkan ekspor Pakistan, menghasilkan devisa, serta menghubungkan negara tersebut dengan rantai pasok global.

Namun, tujuan tersebut belum sepenuhnya tercapai.

Sejumlah proyek transportasi juga menghadapi hambatan berupa birokrasi, perbedaan kepentingan antarprovinsi, kebuntuan kebijakan, persoalan pengelolaan keuangan, hingga aksi protes masyarakat.

 

 

China Mulai Menghadapi Risiko Investasi

Persoalan CPEC tidak hanya menjadi masalah bagi Pakistan.

China juga menghadapi risiko dari investasi besar yang telah digelontorkan melalui proyek tersebut.

Keterlambatan pembangunan dan operasional proyek membuat pendapatan yang dihasilkan tidak sesuai harapan. Pada saat yang sama, kemampuan pemerintah Pakistan untuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman semakin tertekan.

China juga menghadapi persoalan keamanan terhadap warga dan perusahaan asal negaranya yang terlibat dalam proyek CPEC.

Kelompok militan di Pakistan, khususnya di Balochistan, telah menjadi salah satu tantangan bagi proyek-proyek China. Kondisi tersebut meningkatkan biaya keamanan dan menghambat aktivitas pembangunan.

Padahal, CPEC memiliki arti strategis bagi Beijing.

China berharap koridor tersebut dapat memberikan akses yang lebih besar menuju Timur Tengah dan memperkuat kehadirannya di kawasan Samudra Hindia bagian barat.

Pelabuhan Gwadar menjadi bagian penting dari strategi tersebut karena lokasinya memungkinkan China memiliki jalur menuju Laut Arab.

Karena itu, keterlambatan pembangunan Gwadar menjadi persoalan strategis bagi Beijing, bukan sekadar persoalan ekonomi bagi Pakistan.

 

 

Masa Depan Proyek Unggulan BRI

Keberhasilan CPEC sangat bergantung pada kemampuan Pakistan dan China mengatasi persoalan Gwadar, keamanan, pembiayaan, serta lambannya pembangunan berbagai proyek pendukung.

Jika Gwadar gagal berkembang menjadi pusat ekonomi dan logistik seperti yang direncanakan, tujuan strategis CPEC bagi China juga akan semakin sulit tercapai.

Persoalan ini juga dapat memengaruhi citra BRI secara lebih luas.

CPEC merupakan salah satu proyek unggulan BRI dan sejak awal menjadi simbol ambisi China membangun jaringan infrastruktur serta konektivitas global.

Ketika proyek tersebut diumumkan sekitar satu dekade lalu, banyak masyarakat Pakistan berharap CPEC dapat mengatasi berbagai persoalan ekonomi dan membawa kemakmuran baru.

Namun, kondisi ekonomi Pakistan saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tingginya biaya listrik, lemahnya ekspor, tekanan fiskal, masalah keamanan, hingga keterlambatan sejumlah proyek.

Kondisi tersebut membuat manfaat ekonomi CPEC semakin dipertanyakan.

Alih-alih menjadi mesin pertumbuhan seperti yang dijanjikan, proyek tersebut kini menghadapi kritik karena besarnya investasi yang belum menghasilkan manfaat ekonomi sesuai harapan.

Dengan berbagai persoalan tersebut, masa depan CPEC akan sangat bergantung pada kemampuan kedua negara memperbaiki tata kelola proyek, menyelesaikan persoalan keamanan, meningkatkan produktivitas investasi, serta memastikan proyek-proyek yang telah dibangun mampu menghasilkan keuntungan ekonomi yang berkelanjutan.