Liputan6.com, Jakarta - Jerawat yang muncul di sepanjang rahang, dagu, serta pipi bagian bawah sering kali bukan sekadar masalah kulit biasa. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda jerawat hormonal, yaitu jenis jerawat yang dipicu perubahan hormon dan kerap muncul berulang.
Meski identik dengan masa remaja, jerawat hormonal juga banyak dialami orang dewasa dan dapat bertahan dalam waktu lama jika tidak ditangani secara tepat. Jerawat hormonal umumnya muncul dalam bentuk benjolan meradang, jerawat kistik, komedo hitam, maupun komedo putih di area rahang.
Lesi yang terbentuk biasanya terasa nyeri, tampak kemerahan, dan lebih sulit hilang dibandingkan jerawat biasa. Penanganan yang tepat perlu diawali dengan mengenali penyebabnya, kemudian dilanjutkan dengan kombinasi perawatan kulit, terapi medis, dan perubahan gaya hidup.
Advertisement
Founder sekaligus Medical Director Health & Aesthetics, Dr. Rekha Tailor, mengatakan jerawat hormonal memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh dibandingkan jerawat biasa.
"Tujuan perawatan bukan hanya mengatasi jerawat yang sedang aktif, tapi juga membantu kulit menjadi lebih sehat dalam jangka panjang serta mengurangi risiko kekambuhan," kata dia melansir laman Health & Aesthetics, Senin, 3 Agustus 2026.
Perubahan hormon menjadi penyebab utama munculnya jerawat hormonal. Fluktuasi hormon saat pubertas, menstruasi, kehamilan, serta menopause dapat meningkatkan produksi sebum. Produksi minyak yang berlebihan kemudian bercampur dengan sel kulit mati sehingga menyumbat pori-pori dan memicu peradangan.
Kondisi medis tertentu juga dapat meningkatkan risiko jerawat hormonal. Sindrom ovarium polikistik (PCOS), gangguan tiroid, serta penggunaan obat, seperti steroid, terapi testosteron, dan beberapa jenis kontrasepsi dapat memengaruhi keseimbangan hormon.
Â
Penyebab Jerawat Hormonal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4275989/original/041636300_1672291016-WhatsApp_Image_2022-12-29_at_12.09.48.jpeg)
Faktor genetik turut berperan karena sebagian orang memiliki kecenderungan menghasilkan minyak lebih banyak atau memiliki pori-pori yang lebih mudah tersumbat. Kebiasaan merawat kulit yang kurang tepat dapat memperburuk kondisi tersebut.
Penggunaan produk yang bersifat komedogenik, membersihkan wajah secara tidak maksimal, atau membiarkan sisa makeup dan tabir surya menempel di kulit berpotensi menyumbat pori-pori. Stres berkepanjangan dan kurang tidur juga dapat meningkatkan kadar kortisol yang mengganggu keseimbangan hormon sehingga jerawat lebih mudah muncul.
Peran hormon androgen menjadi salah satu faktor penting dalam jerawat hormonal. Hormon yang dimiliki laki-laki maupun perempuan ini mampu merangsang kelenjar minyak bekerja lebih aktif. Area rahang, dagu, dan pipi bawah diketahui lebih sensitif terhadap pengaruh androgen sehingga lebih rentan mengalami jerawat hormonal dibandingkan area wajah lainnya.
Â
Advertisement
Rutinitas Perawatan Kulit
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5115770/original/042466300_1738322499-pexels-greta-hoffman-9475732.jpg)
Rutinitas perawatan kulit yang konsisten dapat membantu mengendalikan jerawat hormonal. Langkah pertama dimulai dengan membersihkan wajah menggunakan pembersih yang mengandung asam salisilat untuk mengangkat minyak berlebih dan sel kulit mati.
Proses eksfoliasi juga dapat dilakukan menggunakan produk yang mengandung kombinasi asam salisilat dan asam laktat agar penyumbatan pori berkurang. Tahap berikutnya adalah menggunakan toner yang membantu mengangkat sisa minyak dan kotoran sekaligus menjaga pori-pori tetap bersih.
Setelah itu, kulit memerlukan serum yang mengandung niacinamide, asam salisilat, atau glycolic acid untuk membantu mengurangi peradangan sekaligus mempercepat regenerasi kulit. Penggunaan produk yang mendukung fungsi skin barrier juga penting agar kulit tidak semakin sensitif selama proses perawatan.
Perlindungan terhadap sinar matahari tidak boleh diabaikan. Tabir surya dengan perlindungan spektrum luas membantu mengurangi risiko hiperpigmentasi atau noda kehitaman yang sering muncul setelah jerawat meradang. Perlindungan terhadap paparan cahaya biru berenergi tinggi juga dinilai dapat membantu menjaga kesehatan kulit.
Â
Tak Hanya Skincare
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5324392/original/087760700_1755848721-pexels-anna-nekrashevich-6475981.jpg)
Dr. Tailor mengatakan jerawat hormonal tidak selalu dapat diatasi hanya dengan skincare. "Pada kasus tertentu, pasien membutuhkan terapi medis yang disesuaikan dengan penyebab jerawat agar hasil perawatan lebih efektif dan risiko bekas jerawat dapat ditekan," ujarnya.
Penanganan di klinik dapat dilakukan jika jerawat terus berulang atau tergolong berat. Dokter dapat meresepkan obat seperti isotretinoin, spironolactone, atau kontrasepsi oral sesuai indikasi medis untuk membantu mengontrol produksi minyak dan pengaruh hormon.
Pilihan tindakan lain meliputi chemical peeling berbahan asam salisilat serta Hydrafacial yang menggabungkan pembersihan, eksfoliasi, ekstraksi komedo, pemberian antioksidan, dan terapi LED untuk meredakan peradangan.
Dr. Tailor juga mengingatkan agar tidak memencet jerawat karena dapat meningkatkan risiko bekas luka. Menurutnya, konsultasi dengan dokter diperlukan bila jerawat di area rahang tidak kunjung membaik atau terasa nyeri agar pasien memperoleh kombinasi perawatan yang sesuai dengan kondisi kulitnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521382/original/090333100_1772688718-gempa_besar-_klaim_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5458366/original/038352700_1767077924-IMG_20251230_123004_818.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300009/original/089493000_1784283677-Untitled_design.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329801/original/040098200_1787296595-HOAX__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3002515/original/042052200_1576919689-acne-1606765_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344539/original/028876300_1788949127-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_15.29.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343987/original/026376000_1788929980-toraja_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343928/original/029365100_1788925942-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_09.14.10.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340277/original/096438600_1788499326-ChatGPT_Image_4_Sep_2026__12.19.35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343054/original/075440100_1788842362-WhatsApp_Image_2026-09-08_at_11.15.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342609/original/043600500_1788780135-1.jpg)