Presiden Pezeshkian: Iran Terlibat Perang Skala Penuh dengan AS

Dalam pernyataannya, presiden Iran tidak hanya menyoroti tekanan ekonomi, namun juga koordinasi antarlembaga dan tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakat.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Presiden Republik Islam Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya tengah terlibat dalam perang skala penuh dengan Amerika Serikat (AS). Menurut dia, medan pertempuran utama kini berada pada sektor ekonomi dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam rapat bersama jajaran pimpinan lembaga kehakiman Iran, Pezeshkian mengatakan perang yang dihadapi Iran tidak terbatas pada serangan rudal.

Seperti dilaporkan kantor berita Iran, IRNA, ia mengatakan pihak-pihak yang memusuhi Iran telah menyadari bahwa serangan militer saja tidak mampu memaksa negara itu menyerah. Karena itu, mereka kini mengarahkan tekanan terhadap perekonomian dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pezeshkian memperingatkan bahwa tekanan ekonomi yang memicu ketidakpuasan publik dapat mengikis dukungan masyarakat yang selama ini dibangun pemerintahannya.

Ia menyerukan persatuan, pengambilan keputusan bersama, dan koordinasi di antara seluruh cabang pemerintahan untuk menghadapi krisis tersebut.

Menurut dia, setiap keputusan harus mendapat dukungan dari seluruh unsur pemerintahan agar tidak melemahkan pemerintah maupun tatanan negara.

Pezeshkian menegaskan bahwa keadilan merupakan pilar paling mendasar dalam setiap sistem pemerintahan. Penegakan hukum dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat, kata dia, menjadi syarat penting bagi keberlangsungan sebuah pemerintahan.

Ia juga menekankan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab, baik secara agama maupun kenegaraan, untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan kesulitan hidup masyarakat.

Menurut Pezeshkian, para pejabat tidak boleh bersikap acuh terhadap kesulitan yang dihadapi masyarakat.

Pezeshkian mengakui adanya kenaikan harga. Namun, ia mengatakan kondisi itu dipicu oleh situasi ekonomi dan pembatasan yang diberlakukan dari luar, bukan akibat kelalaian pemerintah.

Ia menambahkan bahwa pemerintah berhasil mencegah kelangkaan barang-barang kebutuhan pokok meski situasi perang bertepatan dengan perayaan Nowruz dan bulan suci Ramadan.

Pezeshkian mengatakan Iran tetap mempertahankan kepentingan nasionalnya dalam perundingan terbaru tanpa mengorbankan prinsip maupun nilai-nilai negara tersebut. Menurut dia, tidak satu pun dari 14 poin dalam nota kesepahaman dengan AS memuat konsesi yang merugikan Iran. Ia bahkan menilai sebagian besar ketentuan dalam kesepakatan itu menguntungkan Iran.

 

Koordinasi Antarlembaga Jadi Sorotan Pezeshkian

Pezeshkian menuturkan pula bahwa Iran akan terus mempertahankan kepentingan nasionalnya meski harus menanggung berbagai konsekuensi.

Ia mengutip ayat Al-Quran tentang ujian berupa rasa takut, kelaparan, dan kehilangan untuk menegaskan bahwa kesulitan merupakan bagian dari ujian Tuhan, sementara mereka yang bersabar akan mendapat ganjaran.

Pezeshkian menekankan Iran harus siap menanggung konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil. Ia mengakui bahwa kondisi perang membuat koordinasi antarlembaga pemerintahan menjadi lebih rumit dibandingkan sebelumnya.

Merujuk pernyataan Kepala Lembaga Kehakiman Iran Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, Pezeshkian mengatakan Iran membutuhkan pejabat yang mampu mengambil keputusan tepat waktu tanpa khawatir kelak dikenai sanksi karena mengesampingkan prosedur administratif rutin.

Ia menggarisbawahi bahwa sistem pemerintahan Iran membutuhkan otoritas penentu akhir dalam pengambilan keputusan. Menurut Pezeshkian, kewenangan tersebut berada di tangan Pemimpin Revolusi Islam.

Pezeshkian memuji koordinasi di antara tiga cabang kekuasaan Iran yang disebutnya telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ia berterima kasih kepada Mohseni-Ejei dan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Ghalibaf atas kerja sama mereka dengan pemerintah.

Pezeshkian menegaskan bahwa pemerintahannya tidak pernah dijalankan berdasarkan kepentingan faksi maupun partai politik.

Ia menuturkan bahwa Ghalibaf dan Wali Kota Teheran Alireza Zakani, yang sebelumnya menjadi rivalnya dalam pemilihan presiden, sama-sama mendukung kerja pemerintah sejak pemilihan tersebut berakhir.

Pezeshkian memastikan pembenahan ketimpangan struktural di sektor listrik, air, gas, serta sistem penggajian pegawai negeri tetap menjadi prioritas pemerintah.

Namun, ia mengakui bahwa reformasi secara menyeluruh membutuhkan waktu di tengah tekanan eksternal yang terus berlanjut serta agresi AS dan rezim Israel.

Pezeshkian menutup pernyataannya dengan menyampaikan terima kasih kepada para pejabat kehakiman atas pekerjaan mereka.

Ia menyebut penegakan keadilan sebagai salah satu tanggung jawab terberat dalam sistem pemerintahan Republik Islam Iran.