[VIDEO] SPBU Dibuka, Korban Topan Haiyan Filipina Berebut Bensin

Perjuangan warga Filipina pasca badai Haiyan belum berakhir. Kini, SPBU yang baru buka diserbu warga agar segera meninggal kota.

Diterbitkan 16 November 2013, 07:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Sepekan pasca-hantaman Topan Haiyan, warga Filipina yang selamat masih harus berjuang di tengah-tengah minimnya makanan dan air bersih. Sementara, bantuan terus berdatangan dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pascabencana topan super yang melanda pekan lalu, hampir seluruh bangunan di Kota Tacloban, Provinsi Leyte, Filipina rata dengan tanah. Jasad korban tewas bergelimpangan di sekitar kota.

Tayangan Liputan 6 Pagi SCTV, Sabtu (16/11/2013), korban selamat kini dihadapkan dengan masalah seperti kurangnya bahan makanan dan ketersediaan air bersih. Mereka juga rentan terkena wabah penyakit, seperti Tetanus dan Diare. Di samping itu, mereka pun harus hidup tanpa aliran listrik dan tempat yang layak.

Jumat, 15 November 2013, sebuah SPBU di Tacloban kembali beroperasi. Ini merupakan pertama kalinya SPBU beroperasi pascabencana Badai Haiyan yang memporak-porandakan kota. Warga langsung menyerbu SPBU untuk mengisi bahan bakar kendaraan agar bisa meninggalkan kota. Bahkan, sebagian dari mereka menggunakan busa untuk menghisap tetesan bensin yang masih tersisa.

Hingga kini bantuan dari berbagai negara kian berdatangan. Tak terkecuali Indonesia. Indonesia memberikan bantuan sebesar 2 juta USD atau sekitar Rp 23 miliar yang terdiri dari uang tunai dan barang-barang logistik, seperti bahan makanan, obat-obatan, suplemen, selimut dan genset.

Ironisnya, Pemerintah Filipina sendiri justru lamban dalam menangani korban bencana. Presiden Filipina Benigno Aquino baru dapat meninjau lokasi pusat bantuan logistik sepekan pascabencana.

Sementara itu, aparat kepolisian masih melakukan prosesi pemakaman massal para korban tewas. Ratusan jasad dikebumikan secara bersamaan. Menurut PBB, korban tewas mencapai 4.500 jiwa. Sebelumnya otoritas setempat menyatakan korban tewas mencapai 10 ribu orang sebelum akhirnya direvisi. (Don/Mut)