Lewat Perjuangan Buruh, Begini Sejarah Budaya Jam Kerja 9-5

Ini sejarah awal ditetapkannya budaya jam kerja untuk buruh dari pukul 09.00 - 17.00.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Sistem kerja pukul 09.00 hingga 17.00 yang kini menjadi standar di banyak negara ternyata lahir dari perjuangan panjang para pekerja di Amerika Serikat. Selama lebih dari satu abad, buruh harus bekerja hingga 12 jam sehari sebelum berbagai gerakan pekerja dan kebijakan pemerintah secara bertahap memangkas jam kerja.

Dikutip dari Mental Floss, Selasa (7/7/2026), pada awal revolusi industri, pekerja pabrik di Amerika umumnya bekerja 12 jam per hari atau sekitar 74 jam per pekan selama enam hari kerja. Kondisi tersebut dinilai sangat memberatkan, terutama bagi pekerja yang mengandalkan tenaga fisik. Pada 1840, Presiden Martin Van Buren mengeluarkan perintah eksekutif yang membatasi jam kerja menjadi 10 jam per hari bagi pekerja di sektor tertentu.

Memasuki akhir abad ke-19, gerakan buruh semakin menguat. Federasi Buruh Amerika (American Federation of Labor) mengampanyekan pembatasan jam kerja melalui slogan, "Delapan jam untuk bekerja, delapan jam untuk beristirahat, dan delapan jam untuk melakukan apa pun yang kita inginkan." Sejumlah negara bagian mulai menerapkan aturan pembatasan jam kerja, meski saat itu hanya berlaku bagi perempuan dan anak-anak.

Perubahan besar terjadi setelah Amerika Serikat dilanda Depresi Besar. Pada 1938, Presiden Franklin D. Roosevelt menandatangani Fair Labor Standards Act yang menetapkan jam kerja maksimal 44 jam per minggu serta mewajibkan pembayaran upah lembur bagi pekerja yang melebihi batas tersebut. Dua tahun kemudian, aturan itu direvisi sehingga batas jam kerja menjadi 40 jam per minggu, yang kemudian berkembang menjadi standar kerja modern.

Jauh sebelum aturan federal tersebut berlaku, pendiri Ford Motor Company, Henry Ford, telah lebih dulu menerapkan kebijakan delapan jam kerja per hari pada 1914. Ia juga menggandakan upah pekerja menjadi USD 5 per hari, dengan keyakinan bahwa karyawan yang sejahtera akan bekerja lebih produktif. Namun, kebijakan itu disertai sejumlah syarat, seperti menjaga perilaku, tidak mengonsumsi alkohol, serta memiliki kebiasaan menabung.

Ford kembali memperkenalkan sistem lima hari kerja dalam sepekan pada 1926. Kebijakan tersebut kemudian diadopsi oleh banyak perusahaan dan menjadi cikal bakal konsep akhir pekan yang hingga kini diterapkan di berbagai negara. Menurut Ford, waktu luang bukanlah pemborosan, melainkan bagian penting dari kesejahteraan para pekerja.