Komandan Sayap Bersenjata Hamas Brigade Izz ad-Din al-Haddad Tewas dalam Operasi Militer Israel

Apa respons PM Israel Benjamin Netanyahu atas kematian komandan Hamas?

Diterbitkan 18 Mei 2026, 14:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Kelompok Hamas mengonfirmasi bahwa Izz ad-Din al-Haddad, salah satu komandan sayap bersenjata Hamas, tewas dalam serangan udara Israel di Kota Gaza pada Jumat waktu setempat.

Pemerintah Israel menyebut Haddad sebagai tokoh penting di balik serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang di Gaza. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan Haddad bertanggung jawab atas “pembunuhan, penculikan, dan cedera ribuan warga sipil Israel dan tentara IDF”.

Israel juga menyebut Haddad sebagai “salah satu arsitek pembantaian 7 Oktober”, dikutip dari BBC, Senin (18/5/2026).

Serangan udara tersebut menyasar sebuah blok apartemen di pusat Kota Gaza dan memicu kebakaran besar. Tiga saksi mata mengatakan kepada BBC bahwa gedung tempat tinggal bernama Al-Mu’taz dihantam tiga rudal yang diluncurkan hampir bersamaan dari dua arah berbeda.

Tim penyelamat dilaporkan mengalami kesulitan mengevakuasi korban akibat besarnya kerusakan bangunan. Seorang saksi menyebut satu jenazah dan sejumlah korban luka berhasil dievakuasi dari lokasi.

Tak lama setelah serangan pertama, Israel kembali melancarkan serangan udara kedua yang menyasar sebuah mobil yang meninggalkan lokasi kejadian. Menurut sumber lokal dan saksi mata, tiga orang tewas dalam serangan tersebut.

Sumber setempat menduga kendaraan itu membawa Haddad yang mengalami luka parah akibat serangan pertama. Sejumlah anggota Hamas bersenjata yang mengenakan pakaian sipil disebut sempat mengevakuasi seseorang yang terluka melalui pintu samping gedung sebelum kendaraan itu diserang sekitar 1,5 kilometer dari lokasi awal.

Seorang pejabat keamanan senior Israel mengatakan indikasi awal menunjukkan Haddad berhasil menjadi target operasi.

Serangan itu terjadi di tengah gencatan senjata yang mulai berlaku di Gaza sejak 10 Oktober lalu. Meski demikian, Israel masih terus melancarkan serangan di sejumlah wilayah Gaza dengan alasan menargetkan anggota Hamas.

 

Tuduhan Hamas ke Israel

Hamas menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dan menyerang warga sipil. Sebaliknya, Israel menyatakan operasi militernya tetap diperbolehkan terhadap target yang dianggap terkait Hamas.

Di tengah situasi tersebut, upaya perdamaian yang dimediasi Amerika Serikat juga dilaporkan mengalami kebuntuan. Salah satu poin yang masih diperdebatkan adalah tuntutan perlucutan senjata Hamas sebagai bagian dari fase lanjutan perjanjian.

Netanyahu dan Katz menegaskan Israel akan terus melanjutkan operasi militernya terhadap pihak yang terlibat dalam serangan 7 Oktober.

“Kami akan terus bertindak tegas dan menentukan terhadap siapa pun yang ikut serta dalam pembantaian 7 Oktober,” kata keduanya dalam pernyataan bersama.

Perang Gaza pecah setelah serangan Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. Sebagai balasan, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza.

Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas menyebut lebih dari 72 ribu orang tewas sejak perang dimulai, termasuk ratusan korban setelah gencatan senjata diberlakukan.