Filipina Tuduh Nelayan China Gunakan Sianida di Laut China Selatan

Apa respons China usai dituduh oleh Filipina?

Diterbitkan 15 April 2026, 12:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Manila - Pemerintah Filipina menuduh nelayan China menggunakan sianida di wilayah sengketa Laut China Selatan, tepatnya di sekitar Second Thomas Shoal, dalam upaya yang disebut sebagai sabotase terhadap kepentingan Manila. Tuduhan tersebut langsung dibantah oleh pemerintah China.

Dalam konferensi pers di Manila, pejabat keamanan Filipina menyatakan telah menemukan botol berisi sianida di kapal-kapal China yang beroperasi di sekitar atol yang oleh Filipina disebut Ayungin Shoal.

Asisten Direktur Dewan Keamanan Nasional Filipina, Cornelio Valencia Jr., mengatakan hasil uji laboratorium mengonfirmasi keberadaan zat beracun tersebut dalam botol yang disita Angkatan Laut Filipina, dikutip dari laman The Diplomat, Kamis (16/4/2026).

“Sianida adalah bahan kimia beracun yang dapat merusak manusia dan ekosistem laut secara serius,” ujarnya.

Filipina menilai penggunaan sianida di wilayah tersebut tidak sekadar praktik penangkapan ikan ilegal, tetapi juga diduga sebagai upaya untuk merusak sumber daya laut. Valencia menyebut tindakan itu berpotensi mengancam terumbu karang serta pasokan makanan bagi personel militer Filipina yang ditempatkan di BRP Sierra Madre.

Kapal tersebut merupakan pos terdepan Filipina di kawasan sengketa dan dihuni oleh sejumlah marinir yang bergantung pada pasokan logistik serta hasil tangkapan ikan lokal.

Pihak militer Filipina mencatat sedikitnya empat insiden sejak Februari 2025 hingga Maret 2026, di mana botol plastik berisi sianida ditemukan atau diamati di sekitar lokasi. Botol tersebut diduga dibawa oleh kapal kecil yang terkait dengan milisi maritim China.

 

Dampak Kesehatan

Juru bicara Angkatan Laut Filipina, Roy Vincent Trinidad, mengatakan tidak ada dampak kesehatan yang dilaporkan pada personel. Namun, ia menilai pola kejadian menunjukkan upaya sistematis untuk merusak lingkungan sekaligus mengganggu pasokan pangan.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China membantah keras tuduhan tersebut. Juru bicara Guo Jiakun menyebut klaim Filipina “tidak berdasar” dan tidak memiliki kredibilitas.

Menurut Beijing, Filipina justru dituduh mengganggu aktivitas nelayan China dan merekayasa isu penggunaan sianida.

Ketegangan di kawasan tersebut telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait aktivitas pasokan ke BRP Sierra Madre yang kerap dihadang oleh Penjaga Pantai China. Meski kedua negara sempat mencapai kesepakatan sementara pada 2024, insiden di wilayah sengketa terus berlanjut.

Perselisihan ini menjadi bagian dari konflik yang lebih luas di Laut China Selatan, yang melibatkan sejumlah negara dan menyangkut klaim wilayah, sumber daya alam, serta jalur perdagangan strategis.