AS Klaim Selamatkan Kru Jet Tempur F-15 Kedua dari Pegunungan Iran, Begini Kronologinya

Klaim sebaliknya datang dari Iran. Simak kronologinya berikut ini.

Diterbitkan 06 April 2026, 10:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Amerika Serikat (AS) melancarkan operasi militer besar-besaran untuk menyelamatkan seorang awak jet tempur F-15E Strike Eagle yang hilang setelah pesawatnya ditembak jatuh di wilayah terpencil Iran. 

"Kami telah menyelamatkan awak F-15—seorang perwira yang terluka parah namun sangat berani—dari jauh di dalam pegunungan Iran," ungkap Presiden Donald Trump pada Minggu (5/4/2026) via media sosial Truth Social.

Peristiwa bermula pada Jumat (3/4), ketika sebuah jet tempur F-15E yang membawa dua personel militer—seorang pilot dan seorang perwira sistem senjata—dilaporkan ditembak jatuh di wilayah selatan Iran. Laporan BBC menyebutkan bahwa ini menjadi insiden pertama dalam lebih dari 20 tahun di mana jet tempur AS ditembak jatuh oleh musuh.

Kedua awak berhasil melontarkan diri dari pesawat. Pilot berhasil diselamatkan pada hari yang sama, sementara satu awak lainnya dinyatakan hilang.

Iran kemudian menawarkan hadiah sebesar USD 66.000 atau sekitar Rp1 miliar untuk menangkap awak yang masih hilang. 

Saat berada di darat, awak tersebut hanya dibekali pistol sebagai alat pertahanan diri. Menurut pejabat AS, ia menjalani pelatihan khusus untuk situasi seperti ini, termasuk mengaktifkan sinyal pelacak, mencari tempat tinggi, bersembunyi, dan menjaga komunikasi.

Laporan media AS menyebutkan bahwa ia bersembunyi di celah pegunungan dan membatasi penggunaan sinyal pelacak karena khawatir terdeteksi pihak Iran. Ia kemudian menunggu tim penyelamat datang.

Peran penting dimainkan oleh CIA yang berhasil melacak lokasi tepat sang awak dan menyampaikan informasinya kepada Pentagon. Presiden Trump menyebut lokasi awak tersebut dipantau selama 24 jam penuh, sementara pasukan AS merencanakan operasi penyelamatan.

"Perwira tersebut sedang diburu oleh musuh kami, yang semakin mendekat dari jam ke jam," tambah Trump. 

Pada saat yang sama, CIA dilaporkan menjalankan operasi tipu daya dengan menyebarkan informasi bahwa awak tersebut telah ditemukan.

 

Klaim Iran

Operasi penyelamatan disebut melibatkan puluhan pasukan khusus, pesawat tempur, helikopter, serta dukungan dari badan intelijen AS.

"Militer AS mengerahkan puluhan pesawat bersenjata paling mematikan di dunia untuk menjemputnya," tutur Trump dalam unggahan di Truth Social.

Serangan bom dan tembakan digunakan untuk menjauhkan pasukan Iran dari lokasi penyelamatan.

Namun, operasi ini dilaporkan tidak berjalan tanpa hambatan. Dua pesawat transportasi yang hendak digunakan untuk mengevakuasi tim penyelamat dilaporkan gagal lepas landas dari pangkalan terpencil di Iran dan kemudian dihancurkan agar tidak jatuh ke tangan musuh. Pasukan khusus akhirnya menggunakan tiga pesawat tambahan untuk mengevakuasi personel.

Rekaman dan foto yang diverifikasi menunjukkan puing-puing pesawat terbakar di daerah pegunungan sekitar 50 km tenggara kota Isfahan. Sementara itu, militer Iran mengklaim telah menghancurkan dua pesawat C-130 dan dua helikopter Black Hawk milik AS, serta menggagalkan operasi tersebut.

Media pemerintah Iran menyebut pula pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) berhasil menembak jatuh sebuah drone AS yang digunakan dalam pencarian awak yang hilang. Namun, klaim dari kedua pihak terkait kejadian di sekitar Isfahan belum dapat diverifikasi secara independen.

Sebelum tengah malam waktu AS, sejumlah pejabat AS menyatakan bahwa operasi penyelamatan telah selesai dan awak tersebut diterbangkan ke Kuwait untuk mendapatkan perawatan medis. Trump mengatakan bahwa perwira itu terluka parah, namun ia akan baik-baik saja. 

Seorang mantan pejabat militer AS, Laksamana William Fallon, mengatakan bahwa waktu malam kemungkinan memberikan keuntungan dalam operasi tersebut karena pasukan AS terbiasa beroperasi dalam kondisi gelap.

Ia menambahkan bahwa setiap pilot yang terbang di wilayah musuh harus siap menghadapi kemungkinan ditembak jatuh.

Sesaat sebelum pukul 00.00 waktu AS bagian timur pada Minggu, media AS memberitakan bahwa awak kedua telah ditemukan.

Trump kemudian menulis di media sosial bahwa AS "TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN SEORANG PUN PRAJURITNYA!"

Di sisi lain, Iran bersikeras bahwa operasi tersebut gagal. Juru bicara komando utama militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, dalam pernyataan via video mengatakan bahwa sejumlah pesawat militer AS terpaksa melakukan pendaratan darurat.

"Presiden yang bodoh itu, yang terjebak dalam rawa perang dan agresi yang ia mulai sendiri... kini sepenuhnya menyadari bahwa setiap bentuk agresi, operasi darat, atau infiltrasi... akan menghadapi kekalahan yang tegas dan memalukan," ujarnya.

Beberapa analis AS menilai jatuhnya F-15E di wilayah Iran serta hilangnya sejumlah aset dalam operasi tersebut menunjukkan keterbatasan kekuatan udara AS.

Namun, mantan komandan Komando Pusat AS, Jenderal Frank McKenzie, menyatakan bahwa kehilangan beberapa pesawat dalam misi seperti ini adalah risiko yang dapat diterima.

"Membutuhkan satu tahun untuk membuat sebuah pesawat—tetapi membutuhkan 200 tahun untuk membangun tradisi militer di mana tidak ada satu pun prajurit yang ditinggalkan," ujarnya kepada program Face The Nation di CBS.Â