Liputan6.com, Jakarta Istilah romcom sering muncul dalam obrolan soal film atau drama bertema cinta yang ringan dan menghibur. Banyak penonton menyukainya karena mampu mencairkan suasana sekaligus menghadirkan perasaan hangat.
Lalu, apa itu romcom sebenarnya? Secara sederhana, romcom adalah singkatan dari romantic comedy alias komedi romantis, yakni genre yang memadukan kisah percintaan dengan unsur humor.
Dalam Oxford Dictionary of Literary Terms, komedi romantis dijelaskan sebagai komedi ringan yang berfokus pada kekonyolan serta kesalahpahaman para kekasih muda dan berakhir bahagia. Pemahaman itulah yang menjadi titik awal untuk mengulas apa itu romcom secara lebih menyeluruh di bawah ini.
Advertisement
Apa Itu Romcom? Pengertian dan Definisinya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3597385/original/070689700_1633780183-MV5BMjEyNzAwMDc3NF5BMl5BanBnXkFtZTcwMzU2Mzg3NA__._V1_.jpg)
Secara harfiah, romcom adalah akronim dari kata romantic comedy. Genre ini menyajikan kisah percintaan dua tokoh utama yang dibalut humor ringan, konflik menggemaskan, dan umumnya berujung bahagia. Merujuk FilmDaft, romcom merupakan genre yang memadukan cerita cinta dengan komedi dan biasanya berpusat pada dua karakter yang harus melewati hambatan emosional maupun sosial sebelum akhirnya bersatu.
Pertanyaan tentang apa itu romcom sesungguhnya bisa dijawab dari dua unsur pembentuknya, yaitu roman dan komedi. Porsi humor inilah yang membedakannya dari drama percintaan biasa yang cenderung serius. Cakupannya pun luas, tidak hanya film Barat, tetapi juga drama Korea, hingga manga bergenre romance-comedy dan film China romcom yang belakangan makin populer.
Banyak penonton menganggap dunia dalam romcom terasa lebih indah daripada kenyataan, dan hal itu memang disengaja. Mindy Kaling, aktris sekaligus penulis, dalam bukunya Is Everyone Hanging Out Without Me? menyatakan, "Saya memandang komedi romantis sebagai subgenre fiksi ilmiah, tempat dunia yang diciptakan di dalamnya punya aturan yang berbeda dari dunia manusia biasa saya."
Perlu dicatat bahwa tidak semua cerita cinta bisa disebut romcom. Kuncinya adalah komedi yang tumbuh dari hubungan romantis itu sendiri, bukan sekadar tempelan. Jika humor dihilangkan dan yang tersisa hanya kisah cinta yang mengharukan, cerita tersebut lebih tepat disebut drama romantis; sementara romcom selalu menempatkan tawa sejajar dengan degup asmara.
Advertisement
Sejarah Singkat Perkembangan Genre Romcom
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3435309/original/038473300_1618985185-Katharine_Hepburn.jpg)
Untuk memahami apa itu romcom secara utuh, ada baiknya menengok akar sejarahnya yang panjang. Genre ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan berevolusi dari tradisi komedi Yunani Kuno, roman abad pertengahan, hingga Restoration comedy abad ke-18 sebelum akhirnya matang di Hollywood.
Berdasarkan laporan Psychology Today, film Girl Shy (1924) kerap disebut sebagai komedi romantis pertama dalam sejarah sinema. Sejak itu, wajah romcom terus berubah mengikuti zaman, seperti terlihat pada rangkaian era berikut.
- Era 1930-an: Screwball comedy. Romcom lahir pada awal 1930-an di tengah Depresi Besar, ketika studio menghadirkan tokoh yang menang atas kesulitan hidup, dan saat itu berlakunya Hays Code membuat sindiran verbal serta komedi fisik menggantikan unsur seksual.
- Era 1950-an: Sex comedy. Seiring terbitnya laporan Kinsey, topik seputar hasrat dan seks mulai berani disinggung, melahirkan film seperti Pillow Talk (1959) dengan dialog yang lebih nakal.
- Era 1960-1970-an: Romcom radikal. Film seperti Guess Who's Coming to Dinner (1967) dan Annie Hall (1977) mulai menantang pakem, bahkan berani membuang akhir bahagia demi menyuntikkan realisme.
- Era 1990-an: Masa keemasan. Dimulai dari When Harry Met Sally (1989), lalu Pretty Woman (1990) dan Sleepless in Seattle (1993), genre ini menjadi tambang emas box office dengan bintang seperti Meg Ryan dan Julia Roberts.
- Era 2000-an: Perluasan pasar. Ketika pendapatan menurun, studio berupaya menjangkau penonton pria lewat film seperti Wedding Crashers (2005) dan The 40-Year-Old Virgin (2005) yang menyorot tokoh laki-laki dan sahabatnya.
- Era 2010-2020-an: Kebangkitan streaming. Layanan streaming menghidupkan kembali genre ini lewat judul seperti To All the Boys I've Loved Before (2018) dan Red, White & Royal Blue (2023), sekaligus membuka ruang bagi cerita yang lebih beragam.
Baca juga: 7 rekomendasi film Hollywood romantis terbaik sepanjang masa dan daftar film romantis Barat terbaru 2025.
Ciri-Ciri Utama Film Romcom
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5456900/original/057559900_1766980393-MV5BMWM0MDljNDEtMjAzNi00Nzg2LWJmZDYtNGMwODhhMTU0N2U2XkEyXkFqcGc_._V1_FMjpg_UX1000_.jpg)
Agar lebih mudah mengenali sebuah tontonan tergolong romcom atau bukan, ada sejumlah ciri khas yang hampir selalu hadir. Mengutip No Film School, komedi romantis adalah subgenre komedi yang berfokus pada alur humoris seputar ide-ide romantis seperti kencan, pernikahan, putus cinta, dan cinta sejati. Berikut ciri-ciri utamanya.
- Berpusat pada pencarian cinta. Inti cerita selalu perjalanan dua tokoh menuju hubungan romantis, bukan sekadar subplot pelengkap.
- Nuansa ringan dan menghibur. Suasananya dijaga tetap ceria sehingga penonton bisa menikmati tanpa harus berpikir keras.
- Cenderung berakhir bahagia. Mayoritas romcom menutup cerita dengan akhir bahagia atau happy ending yang memuaskan.
- Konflik dari kesalahpahaman, bukan kejahatan. Ganjalan hubungan biasanya berupa salah paham atau ego, bukan niat jahat, sehingga tetap terasa manis.
- Pasangan utama sebagai poros cerita. Seluruh peristiwa berputar di sekitar dinamika sepasang tokoh sentral.
- Perpaduan tawa dan haru. Romcom yang baik mampu membuat penonton tertawa sekaligus ikut baper dalam waktu berdekatan.
Ciri-ciri inilah yang membuat banyak orang memburu drakor bergenre romance comedy maupun film komedi romantis terbaik untuk menemani waktu santai.
Advertisement
Trope Populer dalam Romcom
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7168034/original/099412600_1779958605-MV5BMzhiNmU3NDEtYjUzOS00N2MzLWE5ZGQtYTUxMTdmNDA1ZDBkXkEyXkFqcGc_._V1_FMjpg_UX1000_.jpg)
Salah satu daya tarik terbesar romcom adalah trope, yaitu pola cerita atau situasi yang berulang dan mudah dikenali. Sebagaimana disampaikan TV Tropes, romcom pada dasarnya adalah genre ketika berkembangnya sebuah hubungan romantis melahirkan situasi-situasi komikal. Berikut sejumlah trope yang paling sering muncul.
- Meet-cute. Pertemuan pertama yang lucu, canggung, atau tak terduga yang langsung menyalakan bunga-bunga cinta.
- Opposites attract. Dua karakter dengan kepribadian atau latar bertolak belakang justru saling tertarik, kerap berkembang jadi tema benci jadi cinta atau enemies to lovers.
- Miskomunikasi. Kesalahpahaman kecil yang sengaja dibiarkan berlarut demi menjaga ketegangan sampai menjelang akhir.
- Forced proximity. Situasi yang memaksa dua tokoh terus berdekatan, mulai dari satu atap sampai satu kantor, seperti dalam kisah office romance.
- Grand romantic gesture. Aksi cinta besar-besaran di akhir cerita, misalnya kejar-kejaran ke bandara atau pernyataan cinta di depan umum.
- Fake dating. Pura-pura berpacaran atau bertunangan demi suatu tujuan, yang lama-lama berubah jadi perasaan sungguhan.
- Second lead dan cinta segitiga. Kehadiran tokoh ketiga yang bikin gemas sekaligus menambah dilema, sangat khas pada drama seperti What's Wrong With Secretary Kim.
Baca juga: 21 rekomendasi drakor komedi romantis sekolah dan romcom kantor Filing For Love.
Alasan Romcom Digemari dan Pengaruhnya Menurut Riset
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3593725/original/031478000_1633489647-244364261_1292556611191147_3447046451626699631_n.jpg)
Di balik alurnya yang kadang mudah ditebak, romcom punya daya pikat yang bertahan lintas generasi. Sebagian penonton menjadikannya pelarian yang menenangkan, sementara sebagian lain menyukai emosi universal yang ditawarkan, mulai dari canggung, penuh harap, hingga patah hati. Tak heran banyak orang rela menonton ulang drakor romantis favorit di Netflix berkali-kali.
Menariknya, budaya populer semacam ini punya pengaruh nyata terhadap cara orang memandang cinta. Julia Lippman, peneliti postdoktoral di Department of Communication Studies University of Michigan, dikutip dari E! Online menyatakan, "Perubahan nyata dalam kehidupan orang akibat pengaruh budaya populer sangat terlihat - cukup pikirkan standar kecantikan yang telah begitu banyak berubah."
Sejumlah penelitian bahkan menemukan efek positif dari kebiasaan menonton romcom. Matthew Grizzard, pemimpin tim peneliti di University at Buffalo, dikutip dari Medical Daily menyatakan, "Paparan berulang terhadap film-film romantis meningkatkan sensitivitas terhadap empat dari lima intuisi moral."
Meski begitu, penonton tetap perlu bersikap kritis karena genre ini memang tidak dirancang untuk mereplikasi realitas. Melanie Maimon, asisten profesor psikologi di Bryant University, dikutip dari Bryant News menyatakan, "Berdasarkan rancangannya, rom-com memang tidak menggambarkan hubungan secara akurat."
Kekhawatiran bahwa tontonan ini menciptakan ekspektasi berlebihan pun tidak sepenuhnya terbukti. Veronica Hefner, asisten profesor studi komunikasi di Chapman University, dikutip dari ScienceDaily menyatakan, "Temuan ini membantah asumsi populer bahwa menonton komedi romantis menjadi sumber utama munculnya ekspektasi hubungan yang tidak realistis di kalangan anak muda."
Bahkan di ranah akademis, romcom dipandang lebih dalam daripada sekadar hiburan ringan. Sebagaimana dikutip dari Literary Hub, filsuf Stanley Cavell dalam bukunya Pursuits of Happiness menyebut komedi pernikahan-ulang sebagai "komedi kesetaraan", yaitu kisah dua orang yang saling menciptakan dan menemukan diri satu sama lain. Karena kualitas itulah, penikmat genre ini terus berburu tontonan baru, dari drakor komedi yang bikin ngakak, drama Korea komedi romantis 2025, sampai film komedi romantis di Netflix.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Romcom
Apa arti romcom dalam bahasa Indonesia?
Romcom adalah singkatan dari romantic comedy yang dalam bahasa Indonesia berarti komedi romantis. Ini merujuk pada film, drama, atau novel yang berpusat pada kisah cinta dua tokoh utama, tetapi dikemas dengan banyak adegan lucu dan ringan serta umumnya berakhir bahagia.
Apa bedanya romcom dengan melodrama atau drama romantis biasa?
Perbedaan utamanya terletak pada porsi humor dan suasana cerita. Romcom menekankan tawa, konflik menggemaskan, dan akhir yang manis, sedangkan melodrama atau drama romantis cenderung lebih serius, emosional, dan tidak jarang berakhir sedih. Jika unsur komedinya dominan, sebuah tontonan lebih tepat disebut romcom.
Apa saja contoh film dan drakor romcom yang populer?
Beberapa film romcom Barat legendaris antara lain When Harry Met Sally, Notting Hill, dan Crazy, Stupid, Love. Untuk versi drama Korea, judul seperti Business Proposal, What's Wrong With Secretary Kim, dan Hometown Cha-Cha-Cha kerap disebut sebagai contoh romcom terbaik yang bikin baper sekaligus ngakak.
Pada akhirnya, romcom adalah genre yang bertahan justru karena kesederhanaannya, yakni memadukan cinta dan tawa dalam satu cerita yang membuat penonton merasa nyaman. Dengan memahami definisi, sejarah, ciri, hingga trope-nya, kamu bisa lebih menikmati setiap tontonan komedi romantis, entah itu film klasik seperti 13 Going on 30, drakor terbaru, maupun film China dengan akhir bahagia favoritmu.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7261845/original/041809000_1780048281-Tugas__22_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5432608/original/039355600_1764817183-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-04T072013.095.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5300825/original/063294400_1753929347-20250721_132106.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542212/original/065975700_1774936641-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321409/original/072008700_1786441280-6QHAsE0NvZiJsz05pt4l4SE5QxnBvzy6XM9L7lEl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321415/original/013260600_1786441287-VsJgf4Vczq7FWgV6nz6lHZIfTzi0GrJi7Wwt2W9w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321410/original/082841900_1786441281-ERki5nuwPjrDRWu1l4BSIFAwUODEmpTct7BzwA2z.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314461/original/061183100_1785747505-7238e32c-ae27-4572-abf5-aed28a988fda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311084/original/044277200_1785387100-YsjuT37QK74ZcBQGgsPF3l83SfHoOpRnEeKEBTVi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309421/original/099477100_1785226847-iL1y16ozkSRCPSAWulT3KWcoX68gJGr1VxepBvqR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324534/original/019611900_1786717571-pexels-rdne-6669802.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2556406/original/044314600_1545825364-Guilherme_Stecanella.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875026/original/062405400_1719373879-bilimbi-7613287_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323870/original/008480300_1786678271-ChatGPT_Image_Aug_14__2026__10_28_23_AM.jpg)