6 April 1994: Pesawat Presiden Rwanda Ditembak Jatuh, Picu Krisis Besar di Afrika Tengah

6 April 1994 menjadi titik awal krisis besar setelah pesawat yang membawa presiden Rwanda jatuh akibat serangan.

Diterbitkan 06 April 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kigali - Peristiwa 6 April 1994 menjadi titik balik kelam di Afrika Tengah setelah pesawat yang membawa Presiden Rwanda dan Burundi jatuh di dekat Kigali, ibu kota Rwanda. Seluruh penumpang yang berjumlah sekitar 10 orang dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.

Dua kepala negara yang menjadi korban adalah Juvénal Habyarimana dan Cyprien Ntaryamira. Sejumlah laporan menyebut pesawat mereka kemungkinan ditembak jatuh menggunakan roket saat hendak mendarat.

Dilansir dari BBC, Senin (6/4/2026), kedua presiden sebelumnya menghadiri pertemuan para pemimpin Afrika Timur dan Tengah di Tanzania. Agenda utama pertemuan tersebut adalah mencari solusi atas konflik etnis berkepanjangan di Rwanda dan Burundi.

Ketegangan antara mayoritas Hutu dan minoritas Tutsi telah lama menjadi sumber kekerasan di kedua negara. Di Burundi, konflik bahkan telah menewaskan hingga 100.000 orang sejak terbunuhnya presiden pertama terpilih dari etnis Hutu pada Oktober sebelumnya.

Sementara di Rwanda, pemerintah yang dipimpin Habyarimana telah menandatangani kesepakatan damai pada Agustus 1993 dengan kelompok pemberontak Rwandan Patriotic Front, yang mayoritas beranggotakan etnis Tutsi. Namun, kesepakatan tersebut gagal diimplementasikan sepenuhnya, terutama terkait pembentukan pemerintahan transisi.

Kematian dua presiden yang sama-sama berasal dari etnis Hutu itu langsung memicu eskalasi situasi keamanan. Pertempuran dilaporkan terjadi di sekitar istana presiden di Kigali, disertai ledakan yang mengguncang kota. Hingga saat itu, belum jelas pihak mana yang terlibat dalam bentrokan.

Duta Besar Rwanda untuk PBB saat itu, Jean Damascene Bizimana, menyebut insiden tersebut sebagai sebuah “pembunuhan”.

Dewan Keamanan PBB merespons dengan mengheningkan cipta selama satu menit untuk para korban, serta menyerukan semua pihak menahan diri sambil menunggu hasil penyelidikan.

Latar belakang konflik di kawasan ini tidak lepas dari sejarah kolonial. Rwanda dan Burundi sebelumnya merupakan satu wilayah bernama Ruanda-Urundi, yang berada di bawah kekuasaan Jerman dan kemudian Belgia hingga 1962. Kebijakan kolonial yang mendukung dominasi minoritas Tutsi atas mayoritas Hutu memperdalam ketegangan sosial yang dampaknya masih terasa hingga kini.

Insiden jatuhnya pesawat ini kemudian dikenal sebagai pemicu salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di akhir abad ke-20.