Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Pasukan Perdamaian PBB Asal Indonesia

Kematian tiga pasukan perdamaian PBB asal Indonesia ini terjadi dalam dua peristiwa terpisah.

Diterbitkan 01 April 2026, 20:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, New York - Israel menyatakan bahwa kelompok Hizbullah bertanggung jawab atas kematian tiga penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon selatan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon seperti dikutip dari Euro News.

Ia merujuk pada dua kejadian, yakni ledakan pada Senin (30/3/2026) di dekat Bani Ayan serta serangan artileri terhadap posisi penjaga perdamaian pada Minggu (29/3).

Namun, Danon tidak memberikan bukti atas tuduhan tersebut. Sementara itu, juru bicara PBB menyatakan bahwa penyelidikan atas insiden tersebut masih berlangsung.

Ketiga penjaga perdamaian yang tewas merupakan personel asal Indonesia yang bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Mereka gugur di tengah pertempuran yang berlangsung antara Israel dan Hizbullah.

Pada Selasa malam, militer Israel menyatakan bahwa pasukannya tidak berada di lokasi di Lebanon selatan tempat ledakan yang menewaskan dua penjaga perdamaian terjadi pada Senin. Israel menegaskan pula bahwa tentaranya tidak menempatkan bahan peledak di area tersebut.

Menurut keterangan UNIFIL, penjaga perdamaian asal Indonesia tewas pada Minggu malam ketika sebuah proyektil dengan asal tidak diketahui meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit al Qusayr.

Sumber keamanan PBB yang tidak disebutkan namanya itu menyatakan bahwa hasil penyelidikan menunjukkan tembakan berasal dari tank Israel. Ia menambahkan bahwa puing-puing dari peluru tank telah ditemukan di lokasi kejadian.

Sementara itu, dalam peristiwa pada Senin, UNIFIL melaporkan ledakan yang tidak diketahui asalnya menghancurkan sebuah kendaraan penjaga perdamaian dan menewaskan dua personel Indonesia lainnya. Penyelidikan juga telah diluncurkan untuk mengungkap penyebab insiden tersebut.

Sumber keamanan PBB menyebutkan bahwa ledakan kedua kemungkinan berasal dari ranjau, meskipun penyelidikan masih terus berlangsung untuk memastikan penyebab pastinya.Â