Gelombang Serangan Iran Masuk Bulan Kedua, Negara Teluk Perkuat Pertahanan Udara

Sejumlah negara Teluk melakukan penguatan wilayah udara mereka terhadap serangan Iran.

Diterbitkan 29 Maret 2026, 13:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Abu Dhabi - Pasukan pertahanan di Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait menyatakan tengah secara aktif merespons gelombang baru serangan rudal dan drone yang diluncurkan dari Iran pada Minggu pagi. Serangan ini terjadi saat konflik yang dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran memasuki bulan kedua tanpa tanda-tanda mereda.

Kementerian pertahanan kedua negara menenangkan warga melalui pernyataan di media sosial, menjelaskan bahwa suara ledakan yang terdengar merupakan hasil intersepsi sistem pertahanan udara terhadap proyektil yang masuk.

Staf Umum Angkatan Darat Kuwait dalam pernyataan terpisah mengimbau masyarakat untuk tetap mematuhi instruksi keselamatan dari otoritas setempat, dikutip dari laman Arab News, Minggu (29/3/2026).

Sementara itu, Qatar dan Bahrain melaporkan situasi yang relatif lebih tenang. Meski demikian, Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan sistem pertahanannya berhasil mencegat dan menetralisir seluruh drone yang datang dari Iran pada Sabtu dini hari.

Di Arab Saudi, otoritas pertahanan melaporkan hanya lima serangan drone pada Sabtu—salah satu jumlah terendah sejak konflik dimulai—dan seluruhnya berhasil dicegat tanpa rincian lokasi target.

Kementerian Pertahanan UEA mengungkapkan bahwa pada 28 Maret saja, sistemnya berhasil mencegat 20 rudal balistik dan 37 drone. Secara kumulatif sejak konflik dimulai, UEA mengklaim telah mencegat 398 rudal balistik, 15 rudal jelajah, dan 1.872 drone.

Serangan-serangan tersebut telah menewaskan dua personel militer UEA serta seorang warga sipil asal Maroko yang bekerja untuk militer. Selain itu, delapan pekerja migran dari berbagai negara—termasuk Pakistan, Nepal, Bangladesh, Palestina, dan India—juga dilaporkan tewas. Sebanyak 178 orang lainnya mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

Arab Saudi melaporkan total intersepsi mencapai 745 drone, 54 rudal balistik, dan tujuh rudal jelajah sejak konflik meningkat. Sementara itu, Angkatan Pertahanan Bahrain menyatakan telah mencegat 385 drone dan 174 rudal sejak 28 Februari.

 

Fasilitas Aluminium Bahrain Jadi Sasaran

Di tengah eskalasi konflik, perusahaan aluminium Aluminium Bahrain (Alba) mengonfirmasi bahwa fasilitasnya menjadi target serangan Iran pada Sabtu. Dua orang dilaporkan mengalami luka ringan, sementara perusahaan masih menilai tingkat kerusakan.

Serangan ini disebut sebagai respons dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atas serangan terhadap dua pabrik baja di Iran. IRGC mengklaim—tanpa merinci—bahwa Alba dan perusahaan Emirates Global Aluminium memiliki keterkaitan dengan sektor militer dan penerbangan AS.

Alba sebelumnya telah menghentikan operasi tiga jalur peleburan aluminium pada awal Maret, yang menyumbang sekitar 19 persen kapasitas produksi, guna menjaga kelangsungan bisnis di tengah gangguan di Selat Hormuz. Perusahaan juga telah mengumumkan keadaan kahar pada 4 Maret karena tidak dapat mengirimkan produk ke pelanggan akibat penutupan jalur strategis tersebut.

Dampak konflik juga dirasakan oleh sektor industri lain. Perusahaan induk Foulath Holding, yang menaungi Bahrain Steel, mengumumkan keadaan kahar pada Sabtu akibat gangguan keamanan dan logistik di kawasan.

Perusahaan menyatakan situasi regional telah menciptakan kondisi di luar kendali yang berdampak signifikan terhadap operasional dan rantai pasok, meskipun tidak merinci skala gangguan tersebut.

Konflik yang terus berlanjut ini kian menekan sektor industri di Timur Tengah, yang selama ini menyumbang sekitar 9 persen pasokan aluminium global.