27 Maret 1977: 583 Nyawa Melayang di Spanyol, Rekor Kelam Sejarah Penerbangan Sipil

Apa yang terjadi pada 27 Maret 1977? Berikut today in history selengkapnya,

Diterbitkan 27 Maret 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Madrid - Pada 27 Maret 1977, dunia dikejutkan oleh tragedi penerbangan paling mematikan dalam sejarah. Dua pesawat jumbo jet Boeing 747 milik KLM dan Pan American World Airways bertabrakan di landasan Bandara Los Rodeos, Tenerife, Kepulauan Canary, Spanyol, menewaskan 583 orang.

Menurut laporan resmi keselamatan penerbangan, insiden ini menjadi titik balik penting dalam standar keselamatan global karena melibatkan kombinasi fatal antara kesalahan manusia, komunikasi yang tidak jelas, dan kondisi cuaca ekstrem.

Peristiwa ini dipicu oleh serangkaian kejadian tak terduga. Sebuah ledakan bom di Bandara Gran Canaria—tujuan awal kedua pesawat—memaksa pengalihan banyak penerbangan ke Tenerife.

Bandara Los Rodeos yang kecil dan tidak dirancang untuk menangani lalu lintas besar tiba-tiba menjadi sangat padat. Akibatnya, pesawat harus menggunakan landasan utama sebagai jalur taxi.

Menurut Federal Aviation Administration (FAA), kondisi operasional yang tidak biasa ini menciptakan situasi kompleks yang meningkatkan risiko kesalahan koordinasi di darat.

Detik-Detik Kritis di Tengah Kabut

Kabut tebal mulai menyelimuti bandara, menurunkan visibilitas secara drastis.

Saat itu, KLM Flight 4805 berada di posisi lepas landas, sementara Pan Am Flight 1736 masih bergerak di landasan yang sama untuk keluar menuju taxiway.

Dalam kondisi komunikasi radio yang ambigu, kapten KLM mulai melakukan akselerasi, meskipun izin lepas landas belum diberikan secara jelas.

Menurut analisis Encyclopaedia Britannica, tabrakan terjadi hanya beberapa detik setelah kru kedua pesawat menyadari posisi masing-masing—terlambat untuk menghindar.

Benturan hebat memicu ledakan dan kebakaran besar. Seluruh penumpang KLM tewas, sementara sebagian kecil penumpang Pan Am berhasil selamat dari bagian depan pesawat.

 

Tidak Dipicu Faktor Tunggal

Investigasi mendalam menunjukkan bahwa tragedi ini bukan disebabkan satu faktor tunggal.

Laporan dari National Transportation Safety Board (NTSB) dan analisis keselamatan lainnya menyoroti beberapa faktor utama:

  • Kesalahan interpretasi komunikasi radio
  • Frasa yang ambigu antara pilot dan menara kontrol
  • Tekanan operasional akibat keterlambatan dan kepadatan bandara
  • Kabut tebal yang menghilangkan visibilitas visual

Program dokumenter NOVA dari PBS juga menekankan bahwa budaya hierarki dalam kokpit saat itu membuat kru lain ragu mempertanyakan keputusan kapten—faktor penting dalam tragedi ini.

Dampak Global: Mengubah Dunia Penerbangan

Meski tragis, insiden ini membawa perubahan besar dalam keselamatan penerbangan modern.

Setelah tragedi Tenerife, industri penerbangan global mulai menerapkan:

  • Standarisasi frasa komunikasi radio internasional
  • Pelatihan Crew Resource Management (CRM) untuk meningkatkan komunikasi tim
  • Penekanan pada pengambilan keputusan kolektif di kokpit

Menurut FAA, perubahan ini secara signifikan mengurangi risiko kecelakaan akibat kesalahan manusia dalam dekade-dekade berikutnya.