10 Biji Kopi Terbaik di Asia Versi TasteAtlas, 3 Berasal Dari Indonesia

TasteAtlas merilis daftar 10 biji kopi terbaik di Asia. Temukan varietas unik dari India, Thailand, Indonesia, hingga Laos dengan profil rasa khas.

Diterbitkan 12 Juli 2026, 11:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kopi menjadi salah satu minuman yang paling banyak dinikmati di dunia, dan Asia berperan besar sebagai penghasil biji kopi berkualitas dari berbagai negara. Bagi yang ingin tahu produk mana saja yang paling diunggulkan, daftar biji kopi terbaik di Asia versi TasteAtlas bisa menjadi rujukan.

Benua Asia menyimpan ribuan kebun kopi dan roastery, mulai dari dataran tinggi Thailand dan Laos, perbukitan India, sampai pulau-pulau di Indonesia. Setiap wilayah memiliki cara pengolahan dan cita rasa masing-masing, dibentuk oleh ketinggian tanah, iklim, serta tradisi turun-temurun para petani dan pengolah kopi setempat.

Berikut sepuluh biji kopi teratas dalam daftar biji kopi terbaik di Asia versi TasteAtlas yang Liputan6.com lansir dari berbagai sumber, Minggu (12/7/2026). Simak ulasannya sebagai panduan sebelum memilih biji kopi Asia yang paling sesuai dengan selera dan kebutuhan Anda sehari-hari.

1. Doi Chaang Coffee (Thailand)

Di puncak daftar, Doi Chaang Coffee dari Chiang Rai, Thailand, memegang rating 4,9. Nama besar ini lahir dari perjalanan komunitas Akha yang mengalihkan lahan mereka dari opium menjadi kebun Arabica sejak 1990, langkah yang kemudian membentuk koperasi petani kopi setempat.

Kopi single origin ini tumbuh di ketinggian 1.000 sampai 1.700 meter di pegunungan Doi Chaang, dipetik dan disortir dengan tangan agar karakter aslinya terjaga. Doi Chaang Coffee mengelola seluruh rantai produksi sendiri, mengantongi status Indikasi Geografis, dan kini produknya sampai ke banyak negara.

2. Sinouk Coffee (Laos)

Beralih ke Laos, Sinouk Coffee menempati posisi kedua dengan rating 4,8. Berdiri sejak 1994 di dataran tinggi Bolaven yang berlimpah tanah vulkanik, produsen ini dikenal sebagai perintis kopi modern Laos yang mengendalikan sendiri seluruh tahap, dari perkebunan sampai pengolahan akhir.

Biji kopi dipetik dengan tangan lalu diolah lewat metode basah maupun kering, disangrai dalam batch kecil demi rasa yang konsisten. Lini produknya mencakup Arabica tunggal, campuran Arabica-Robusta, kapsul, hingga drip bag, sementara jaringan Café Sinouk menjadi ruang edukasi dan wisata kopi bagi pengunjung.

3. Cohoma Coffee (India)

Dari Ghaziabad, India, Cohoma Coffee menempati posisi ketiga dengan rating 4,8. Roastery ini merancang produknya agar mudah diseduh siapa saja tanpa peralatan rumit, dengan biji pilihan yang disangrai dalam jumlah kecil supaya rasa dan aromanya tetap segar sampai ke tangan pembeli.

Lini produknya cukup lengkap, mulai dari kopi sangrai segar, kapsul, kantong celup untuk seduh cepat, sampai cold brew siap minum kapan saja. Cohoma Coffee menyasar penikmat kopi rumahan yang ingin menikmati rasa berkualitas tanpa perlu mesin espresso mahal di dapur mereka sendiri.

4. Akasa Coffee (Indonesia)

Wakil Indonesia pertama muncul di posisi keempat lewat Akasa Coffee dari Kintamani, Bali, dengan rating 4,8. Roastery ini memegang filosofi Farm to Cup, yang berarti keterlibatan penuh mulai dari pemilihan benih, penanaman, fermentasi, pengeringan, sampai proses sangrai akhir di setiap tahap produksinya.

Varian Honey menjadi andalan yang membawa karakter asli kopi Kintamani ke setiap cangkir yang diseduh. Akasa Coffee menjaga konsistensi rasa lewat kontrol ketat di tiap tahap produksi, sehingga hasil akhirnya memenuhi standar internasional dan dikenal luas di pasar domestik maupun mancanegara.

5. Expat. Roasters (Indonesia)

Masih dari Bali, Expat. Roasters asal Kuta menempati posisi kelima dengan rating 4,8. Roastery ini hanya mengolah biji Arabica pilihan dan bermitra langsung dengan lebih dari lima puluh petani kecil dalam radius sekitar empat puluh kilometer, sehingga jejak asal setiap biji kopi dapat ditelusuri.

Produknya mencakup kopi single origin dari Bali, Jawa, Aceh, hingga campuran racikan sendiri yang disangrai presisi, dilengkapi drip bag dan kapsul kompatibel Nespresso. Expat. Roasters juga membuka program pelatihan seduh dan latte art, sembari mendorong daur ulang limbah kopi serta kemasan ramah lingkungan.

6. Bloom Coffee Roasters (India)

Bloom Coffee Roasters dari Panchkula, India, menempati posisi keenam dengan rating 4,8. Didirikan oleh tiga penggemar kopi yang memandang kopi sebagai karya, roastery ini bersumber dari perkebunan kecil di India Selatan dan memberi perhatian khusus pada bagaimana tanah membentuk rasa akhirnya.

Setiap batch disangrai dalam jumlah kecil dengan kontrol suhu dan waktu yang cermat agar aroma alami bijinya tetap terjaga. Lewat metode washed, honey, dan natural, Bloom menghasilkan rasa jeruk, cokelat, sampai buah, sekaligus aktif melatih barista di berbagai kedai kopi India.

7. Sarnies Bangkok (Thailand)

Sarnies Bangkok, dengan rating 4,8, membawa cerita lintas negara ke posisi ketujuh. Bermula dari Singapura pada 2017, jaringan ini membuka cabang pertama di Bangkok setahun kemudian, menempati bekas bengkel reparasi kapal berusia lebih dari seratus lima puluh tahun di kawasan bersejarah Bang Rak.

Konsepnya memadukan kopi spesial, roti buatan sendiri, dan menu brunch dengan bahan pilihan, disangrai di roastery sendiri dari biji berbagai penjuru dunia. Menu makanannya menggabungkan cita rasa internasional dengan bahan lokal Thailand, dan varian Tiramisu Coffee Bean menjadi favorit pelanggan.

8. Third Wave Coffee (India)

Third Wave Coffee dari Bengaluru, India, menempati posisi kedelapan dengan rating 4,7. Merek ini berkomitmen pada kopi Arabica segar seratus persen dengan sumber bahan yang etis, disangrai dalam batch kecil memakai mesin modern demi profil rasa yang optimal di setiap biji.

Kopi khas Chikmagalur menjadi produk andalan yang mengangkat nama daerah penghasil kopi ternama di India. Kini Third Wave Coffee sudah mengoperasikan puluhan kedai di berbagai kota besar seperti Bengaluru, New Delhi, dan Mumbai, memperluas akses kopi berkualitas ke lebih banyak konsumen.

9. Bombay Island (India)

Bombay Island dari Mumbai, India, berada di posisi kesembilan dengan rating 4,7. Roastery yang bernaung di bawah Rigmor Coffee Roasters ini mengambil biji dari perkebunan pilihan di Chikmagalur, Karnataka, wilayah yang sudah lama dikenal sebagai penghasil kopi unggulan di India.

Seluruh produknya memakai Arabica murni dengan kepahitan lembut, aroma kuat, dan rasa yang seimbang. Varian Mysore Nuggets Extra Bold menjadi yang paling menonjol, membawa sentuhan cokelat gelap, rempah, dan kacang hasil sangrai dalam jumlah terbatas untuk menjaga kualitas tiap batch.

10. Wahana Estate (Indonesia)

Daftar ini ditutup Wahana Estate dari Sidikalang, Sumatra Utara, dengan rating 4,7. Perkebunan seluas sekitar lima ratus hektare ini berdiri sejak 2005 di ketinggian 1.300 sampai 1.500 meter, dengan sebagian besar lahan dikhususkan untuk budi daya kopi dan sisanya pembibitan varietas baru.

Pengolahan dilakukan langsung di perkebunan lewat metode giling basah khas Sumatra, dipadukan proses natural dan kering. Hasilnya beragam, dari cokelat, badam, buah kering, rempah, sampai aroma melati dan teh hitam, menjadikan Wahana Estate representasi kopi spesial asal Sumatra yang kompleks dan autentik.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Biji Kopi Terbaik di Asia Versi TasteAtlas

Negara mana saja yang mendominasi daftar biji kopi terbaik di Asia versi TasteAtlas?

Thailand, Laos, India, dan Indonesia menjadi penyumbang terbanyak dalam daftar ini. Keempat negara tersebut memiliki dataran tinggi bertanah vulkanik yang mendukung pertumbuhan kopi Arabica berkualitas tinggi.

Apa biji kopi terbaik di Asia versi TasteAtlas saat ini?

Posisi pertama dipegang Doi Chaang Coffee Peaberry Classic dari Chiang Rai, Thailand, dengan rating 4,9. Kopi ini berasal dari kebun komunitas Akha yang tumbuh di ketinggian 1.000 sampai 1.700 meter di pegunungan Doi Chaang.

Produk kopi Indonesia apa saja yang masuk daftar TasteAtlas?

Tiga wakil Indonesia yang masuk sepuluh besar adalah Akasa Coffee dari Kintamani, Expat. Roasters dari Kuta, dan Wahana Estate dari Sidikalang. Ketiganya mengangkat karakter kopi khas daerah asal, mulai dari Bali sampai Sumatra Utara.

Apa perbedaan metode giling basah dengan proses natural pada pengolahan kopi?

Giling basah mengeringkan biji kopi sebagian sebelum kulit tanduknya dikupas, baru kemudian pengeringan dilanjutkan sampai tuntas. Proses natural membiarkan buah kopi kering utuh lebih dulu sebelum kulit dan dagingnya dipisahkan, sehingga cita rasanya cenderung lebih manis dan kompleks.