Prancis Tak Gentar Dibidik Tarif Usai Menolak Ambisi Trump atas Greenland

Bagaimana reaksi presiden Prancis setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif mulai berlaku pada 1 Februari.

Diterbitkan 19 Januari 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Paris - Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Sabtu (17/1/2026) mengecam ancaman tarif Amerika Serikat (AS) terkait Greenland sebagai tindakan yang tidak dapat diterima. Ia menegaskan bahwa Eropa akan merespons secara bersatu dan terkoordinasi jika ancaman tersebut diberlakukan. 

Pernyataan itu disampaikan Macron melalui akun media sosial X miliknya. Dalam unggahan itu, ia menekankan komitmen Prancis terhadap kedaulatan dan kemerdekaan setiap negara. Atas dasar prinsip tersebut, Macron menyatakan bahwa Prancis telah memutuskan untuk berpartisipasi dalam latihan militer yang diselenggarakan oleh Denmark di wilayah Greenland.

"Tidak ada intimidasi atau ancaman yang akan memengaruhi kami," tegas Macron dalam pernyataannya.

Komentar Macron muncul sebagai respons atas pengumuman Presiden AS Donald Trump pada hari yang sama. Trump menyatakan bahwa AS akan memberlakukan tarif sebesar 10 persen mulai 1 Februari terhadap barang-barang asal Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia menyusul penentangan negara-negara tersebut atas ambisinya menguasai Greenland.

Trump juga mengatakan bahwa tarif akan dinaikkan menjadi 25 persen mulai awal Juni apabila tidak tercapai kesepakatan yang memungkinkan AS membeli Greenland.

Greenland, pulau terbesar di dunia, merupakan wilayah yang memiliki pemerintahan sendiri di dalam Kerajaan Denmark. Meskipun demikian, pemerintah di Kopenhagen tetap memegang kendali atas urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri wilayah tersebut.

AS sendiri memiliki sebuah pangkalan militer di Greenland.

Sejak kembali menjabat pada tahun 2025, Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk memperoleh Greenland, yang kembali memicu ketegangan diplomatik antara AS dan negara-negara Eropa.

 

Apa Alasan Trump Ingin Menguasai Greenland?

Trump menyatakan bahwa AS membutuhkan Greenland demi kepentingan keamanan nasional. Greenland, yang terletak di timur laut Kanada, merupakan wilayah semi-otonom milik Denmark dan telah berada di bawah kedaulatan negara tersebut selama ratusan tahun. Namun, Trump mengklaim bahwa AS harus memilikinya.

Pulau tersebut membentang di Lingkar Arktik di antara AS, Rusia, dan Eropa. Meski hanya berpenduduk sekitar 57.000 jiwa, Greenland memiliki posisi geopolitik yang strategis dan telah menjadi perhatian AS karena lokasinya menjadikannya titik penting bagi sistem pertahanan rudal balistik AS. 

Gagasan untuk mengambil alih Greenland bukan hal baru bagi Trump. Ia pertama kali mengemukakan kemungkinan tersebut pada masa jabatan pertamanya, ketika menyatakan ketertarikannya untuk membeli wilayah itu. Sejak saat itu, Trump kembali menegaskan manfaat Greenland bagi keamanan nasional AS dan meningkatkan nada retorikanya.

"Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional dan itu mencakup Eropa," kata Trump. "Kami membutuhkannya sekarang juga untuk keamanan nasional,"

Ia mengatakan tidak memiliki jadwal tertentu untuk mengambil tindakan, namun menegaskan bahwa dirinya sangat serius dengan niat tersebut. 

Pada akhir Desember, Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland. Trump mengatakan Landry akan memimpin langkah dalam mengadvokasi agar wilayah tersebut menjadi bagian dari AS.

Sebelumnya, Trump mengejek upaya pihak setempat dalam mempertahankan pulau tersebut. Ia mengatakan bahwa mereka hanya menambahkan satu kereta luncur anjing lagi, yang menurutnya tidak akan mampu menandingi kapal-kapal Rusia dan China yang ia klaim berada di mana-mana di sekitar wilayah itu. 

Benarkah Ada Ancaman Keamanan Nasional di Greenland?

Pakar pertahanan Peter Viggo Jakobsen, profesor madya di Royal Danish Defence College, termasuk di antara para ahli yang menepis klaim Trump mengenai ancaman dari kapal Rusia dan China di sekitar Greenland.

"Tidak ada masalah mendesak yang perlu diselesaikan. Kapal-kapal China dan Rusia yang terus ia bicarakan hanyalah khayalan," kata Jakobsen kepada Sky News.

Ia menegaskan bahwa tidak ada ancaman keamanan terhadap Greenland. Menurutnya, China tidak mengoperasikan kapal perang maupun kapal selam di kawasan Arktik. Sementara Rusia, katanya, mungkin sesekali mengoperasikan satu atau dua kapal selam di dekat Greenland, namun hanya sebatas itu.

Bahkan, Jakobsen menyatakan bahwa saat ini tidak ada ancaman eksternal terhadap Greenland, kecuali dari AS.

Ia menjelaskan bahwa militer AS pada praktiknya telah memiliki kendali militer atas Greenland sejak Perang Dunia II.

Perjanjian pangkalan militer yang ada antara Greenland, Denmark, dan AS memberikan izin kepada AS untuk memperluas kehadiran militernya di Greenland dan mendirikan pangkalan baru apabila dianggap perlu. Menurut Jakobsen, AS hanya perlu berkonsultasi dan memberi tahu Nuuk dan Kopenhagen untuk memperkuat militernya di wilayah tersebut, namun hal itu belum dilakukan.

Jakobsen menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tujuan Trump untuk mencaplok Greenland tidak berkaitan dengan isu keamanan nasional.

Kaya Sumber Daya Alam

Selain lokasinya yang strategis, Greenland faktanya memiliki cadangan sumber daya alam yang melimpah. Pulau tersebut menyimpan berbagai sumber daya alam bernilai tinggi, termasuk mineral tanah jarang yang dibutuhkan untuk industri telekomunikasi, uranium, miliaran barel minyak yang belum tergarap, serta cadangan gas alam dalam jumlah besar yang sebelumnya sulit diakses namun kini semakin memungkinkan untuk dieksploitasi. 

Sebagian besar mineral tersebut saat ini dipasok oleh China, sehingga negara-negara lain, termasuk AS, tertarik untuk mengakses sumber daya yang lebih dekat dengan wilayah mereka sendiri.

Jakobsen mengatakan bahwa Trump menginginkan kendali penuh atas sumber daya Greenland dan hal inilah yang menjadi tujuan di balik ambisi pencaplokan wilayah tersebut.

Menurutnya, terdapat "paralel yang jelas" antara ambisi Trump atas Greenland dan kebijakan pemerintahannya terhadap Venezuela, saat AS menargetkan ibu kota negara tersebut dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. 

Trump sebelumnya secara terbuka menyatakan bahwa cadangan minyak besar Venezuela menjadi salah satu motivasi di balik upaya penggulingan Maduro.

"Jika Venezuela tidak sekaya itu akan minyak, Trump kemungkinan tidak akan melancarkan serangan," kata Jakobsen.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump membantah bahwa sumber daya alam menjadi faktor dalam ambisinya menguasai Greenland. Ia menegaskan bahwa satu-satunya kepeduliannya adalah keamanan nasional.