OpenAI Ditinggal Pemimpin Etika di Tengah Krisis Keamanan

Di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap keamanan AI, Chloé Bakalar, Kepala Etika AI OpenAI, dilaporkan telah mengunduran diri.

Diterbitkan 13 Agustus 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - OpenAI kembali dihantam gelombang pengunduran diri petinggi pentingnya. Di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap keamanan kecerdasan buatan (AI), Chloé Bakalar, Kepala Etika AI OpenAI, dilaporkan telah mengunduran diri.

Bakalar hengkang dari jabatannya sejak Juli 2026, kurang dari satu tahun setelah ia bergabung, tanpa ada pengumuman resmi dari perusahaan. Demkian sebagaimana dikutip dari Futurism, Kamis (13/8/2026).

Menariknya, berdasarkan pantauan di profil LinkedIn pribadinya, Bakalar masih tercatat aktif bekerja di OpenAI. Menurut laporan Financial Times (FT), OpenAI hingga saat ini belum menyiapkan pengganti Bakalar.

Sumber FT menyebut bahwa Bakalar merupakan satu-satunya ahli etika (ethicist) yang tersisa di perusahaan pencipta ChatGPT tersebut.

Langkah ini memicu spekulasi luas mengenai pergeseran prioritas OpenAI, yang kini dinilai lebih mengejar keuntungan bisnis dibanding keselamatan pengembangan teknologi.

 

Momentum Terburuk untuk OpenAI

Kepergian Bakalar terjadi pada momentum yang sangat kritis. Perusahaan yang dipimpin Sam Altman tersebut baru saja diterpa kontroversi besar setelah sekelompok model AI milik mereka dilaporkan menembus sistem keamanan  dan meretas platform AI open-source ternama, Hugging Face.

Insiden ini menjadi alarm keras bagi industri teknologi. Para pakar menilai potensi model AI garis depan yang hilang kendali dapat menjadi "mimpi buruk siber" (cybersecurity nightmare) yang nyata.

Imbas dari potensi bahaya ini, OpenAI terpaksa menunda peluncuran model AI terbarunya, Astra. Perusahaan mengonfirmasi keputusan ini setelah evaluasi internal menunjukkan adanya risiko keamanan yang belum bisa diminimalisasi.

"Kami tidak dapat mengabaikan potensi kapabilitas siber yang kritis pada model ini," tulis OpenAI dalam pernyataan resminya.

Semasa menjabat, Bakalar bertanggung jawab merumuskan pendekatan etis dalam pengembangan model AI serta mempelajari interaksi antara AI dan manusia. Dalam sebuah konferensi AI baru-baru ini, Bakalar sempat menegaskan pentingnya tanggung jawab kolektif.

"Etika sebenarnya adalah tanggung jawab semua orang. Anda tidak boleh hanya mengandalkan orang-orang seperti saya. Jangan pernah ada satu orang saja yang menjadi 'pusat moral' dari pengembang AI," ujar Bakalar seperti dikutip dari Financial Times

Komitmen Etika Industri AI Mulai Luntur

Pengunduran diri Bakalar menjadi simbol makin jauhnya OpenAI dari akar pendiriannya. Didirikan sebagai organisasi nirlaba yang berfokus pada etika, OpenAI kini telah bertransisi menjadi bisnis komersial demi mengeruk keuntungan.

Rencana perusahaan untuk melaut di bursa saham (Initial Public Offering/IPO) diprediksi makin mengikis komitmen etika yang tersisa.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada OpenAI. Pesaing utamanya, Anthropic yang selama ini mencitrakan diri sebagai alternatif AI yang lebih aman, juga mulai melonggarkan standar keselamatan mereka.

Awal tahun ini, Anthropic diam-diam memangkas sejumlah komitmen keselamatan utamanya, meski mereka masih mempertahankan tim alignment untuk memandu prinsip moral pada chatbot Claude.

Kondisi ini memicu kekhawatiran global. Saat industri AI terus menyedot konsumsi energi yang merusak lingkungan, memicu penyebaran disinformasi secara masif, hingga mendorong pengguna ke dalam ilusi yang berbahaya, komitmen etika dari para raksasa teknologi kini benar-benar dipertanyakan.