Liputan6.com, Islamabad - Pakistan tengah menghadapi krisis sumber daya manusia yang berlangsung senyap namun berdampak luas. Sepanjang 2023, lebih dari 800.000 warga Pakistan meninggalkan negaranya untuk bekerja di luar negeri, dan tren tersebut diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Migrasi tenaga kerja sejatinya bukan hal baru bagi Pakistan. Namun, gelombang terbaru ini dinilai berbeda, baik dari skala maupun komposisinya. Semakin banyak tenaga terampil—termasuk dokter, perawat, insinyur, akademisi, dan profesional teknologi—yang memilih pergi, terutama ke negara-negara OECD dan kawasan Teluk.
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terkait hilangnya modal manusia yang krusial bagi keberlangsungan layanan publik dan kapasitas institusi negara, dikutip dari laman Pakistan Today, Sabtu (17/1/2026).
Advertisement
Data resmi pemerintah selama ini mengelompokkan seluruh emigran dalam satu kategori, sehingga menutupi dampak spesifik dari kepergian tenaga profesional.
Meski jumlah mereka diperkirakan kurang dari 10 persen dari total migran, kontribusi kelompok ini terhadap sistem kesehatan, pendidikan, penelitian, dan tata kelola negara sangat besar. Kehilangan sebagian kecil tenaga terampil berdampak tidak proporsional terhadap institusi yang sejak awal sudah rapuh.
Di sektor kesehatan, dampaknya paling terasa. Pakistan hanya memiliki sekitar satu dokter per 1.000 penduduk, sementara rasio perawat bahkan berada di bawah rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Migrasi dokter dan perawat senior tidak hanya mengurangi jumlah tenaga medis, tetapi juga melemahkan rumah sakit pendidikan, mempersempit pelatihan spesialis, serta menurunkan kualitas pembinaan tenaga junior. Kondisi serupa terjadi di perguruan tinggi, ketika akademisi senior pergi dan meninggalkan kekosongan dalam pengajaran, riset, dan bimbingan ilmiah.
Dampak Jangka Panjang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5329267/original/002700700_1756280494-Untitled.jpg)
Fenomena ini memicu lingkaran setan. Melemahnya institusi mendorong lebih banyak profesional hengkang, yang pada gilirannya semakin menggerus kapasitas negara untuk mencetak talenta baru. Dalam jangka panjang, Pakistan terancam kehilangan kemampuan untuk mendidik, merawat, dan mengelola pembangunan secara berkelanjutan.
Faktor pendorong eksodus ini tidak semata-mata inflasi, pengangguran, atau ketidakstabilan politik. Masalah struktural yang lebih dalam turut berperan, terutama runtuhnya kepastian karier. Banyak profesional menilai jalur promosi di sektor publik dan akademik tidak jelas, sering tertunda, dan kerap dipengaruhi faktor non-prestasi. Sebaliknya, sistem di luar negeri menawarkan jenjang karier yang transparan, terukur, dan dapat diprediksi.
Selain itu, minimnya investasi jangka panjang di lembaga-lembaga pengetahuan memperburuk situasi. Anggaran pendidikan tinggi stagnan, alokasi Program Pembangunan Sektor Publik (PSDP) berulang kali dipangkas, dan pendanaan riset semakin terbatas. Bagi peneliti muda, kondisi ini menjadi sinyal bahwa ambisi profesional sulit berkembang di dalam negeri.
Di sektor teknologi, krisis mengambil bentuk lain. Banyak tenaga ahli tidak lagi perlu bermigrasi secara fisik. Kerja jarak jauh, kontrak internasional, dan pendirian perusahaan di luar negeri memungkinkan mereka tetap tinggal di Pakistan, namun terlepas secara ekonomi dan kelembagaan. Fenomena yang kerap disebut sebagai “brain drain virtual” ini menggerus basis pajak, mengurangi investasi domestik, dan memisahkan inovasi dari pembangunan nasional.
Advertisement
Masalah Tata Kelola
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5201334/original/072137400_1745817101-india.jpg)
Meski remitansi dari pekerja migran tetap menjadi penopang ekonomi, para pengamat menilai hal itu tidak cukup untuk menggantikan hilangnya kapasitas institusional. Remitansi tidak dapat menjalankan rumah sakit, mengajar mahasiswa, atau merancang kebijakan publik. Negara-negara seperti India dan China dinilai berhasil memanfaatkan migrasi karena dibarengi investasi besar dan konsisten pada institusi domestik—sesuatu yang belum dilakukan Pakistan.
Para analis menegaskan bahwa persoalan ini bukan soal loyalitas atau patriotisme, melainkan krisis tata kelola dan visi pembangunan. Tanpa strategi nasional yang serius untuk mempertahankan dan mengembangkan talenta—melalui pendanaan stabil, jalur karier transparan, serta konsistensi kebijakan—arus kepergian tenaga terampil diperkirakan akan terus berlanjut.
Pertanyaannya kini bukan lagi mengapa warga Pakistan pergi, melainkan berapa lama negara itu dapat bertahan jika eksodus sumber daya manusianya terus berlanjut.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2892802/original/045596000_1566805482-20190826-Jokowi-sebut-kaltim-jadi-ibu-kota-baru-ANGGA-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1238139/original/082014900_1521205275-pp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4484314/original/037048700_1687928396-Suasana_Mudik_di_Pakistan_saat_Idul_Adha__Sampai_Naik_ke_Atap_Bus-AFP__4_.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8480622/original/006833100_1782392396-AFSEL.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8650687/original/066270800_1782664551-South_Korea_head_coach_Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8229349/original/096793100_1781089763-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258052/original/073135800_1781307011-cyle_larin_selebrasi_kanada_bosnia_ap_sam_balkansky.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260736/original/098764200_1781652814-norwe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263772/original/067560900_1782010379-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452423/original/071248000_1782349365-neymar_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621093/original/089503900_1782612244-063_2283639746.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262483/original/075097700_1781805987-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257797/original/022434900_1781257127-South_Africa_s_Themba_Zwane__11__receives_a_red_card.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262509/original/033331100_1781827688-063_2282269735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8474318/original/030628400_1782384034-arBqcXAl4S06GV2iP1BncAeqifHEkt2QLfz1C2K5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264134/original/071602700_1782095311-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3545301/original/017030700_1629368526-pakistan-895319_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263898/original/073803900_1782029937-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263763/original/050665400_1782007986-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261822/original/039917500_1781759212-IMG_0024.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259893/original/008090100_1781518456-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1500474/original/061755100_1486515597-Iran_Hand.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4760375/original/028771000_1709476441-Untitled.jpg)