Trump Targetkan AS Kembali ke Bulan Paling Lambat 2028 lewat Program Angkasa Luar Artemis

Apa alasan Trump memprioritaskan misi ke Bulan dibanding ke Mars?

Diterbitkan 19 Desember 2025, 15:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

 

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (18/12/2025) menegaskan kembali keinginannya untuk mengirim astronaut AS ke Bulan secepat mungkin melalui sebuah perintah eksekutif terkait kebijakan antariksa.

Dalam perintahnya, Trump menyatakan bahwa AS menargetkan pendaratan manusia di Bulan paling lambat pada 2028 melalui program Artemis milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA), yang pertama kali diluncurkan pada masa jabatan pertamanya di Gedung Putih.

"Pendaratan di Bulan tersebut akan menegaskan kepemimpinan AS di bidang antariksa, meletakkan fondasi bagi pengembangan ekonomi di Bulan, mempersiapkan perjalanan menuju Mars, serta menginspirasi generasi baru penjelajah Amerika," demikian bunyi perintah itu, seperti dikutip CNA.

Perintah eksekutif Trump menyebutkan pula bahwa NASA diharapkan mulai membangun elemen awal dari sebuah pos permanen di Bulan pada 2030. Selain itu, pemerintah AS menegaskan rencana untuk menempatkan reaktor nuklir di Bulan dan di orbit guna mendukung misi jangka panjang.

Saat ini, AS dijadwalkan kembali ke permukaan Bulan pada pertengahan 2027 melalui misi Artemis 3. Namun, jadwal tersebut telah berulang kali mengalami penundaan.

Sejumlah pakar industri menilai jadwal itu kemungkinan kembali mundur, mengingat wahana pendarat Bulan yang tengah dikembangkan oleh SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, hingga kini belum sepenuhnya siap.

Perintah eksekutif Trump ini dinilai meningkatkan tekanan terhadap NASA serta sektor antariksa swasta untuk memenuhi target ambisius yang ditetapkan pemerintahannya.

Langkah tersebut juga dipandang sebagai upaya AS untuk menyalip China, yang berencana mengirim awak ke Bulan pada 2030 dan membangun pangkalan permanen di sana.

 

 

Perubahan Kebijakan

Penetapan misi Bulan sebagai prioritas utama menandai perubahan arah kebijakan dibandingkan pernyataan Trump sebelumnya pada awal tahun ini. Saat kembali ke Gedung Putih pada Januari, presiden dari Partai Republik itu sempat menyatakan keinginannya untuk menancapkan bendera AS di Mars sebelum akhir masa jabatan empat tahunnya, tanpa menyebutkan rencana terkait Bulan.

Pernyataan tersebut sebelumnya memicu keraguan mengenai arah kebijakan antariksa pemerintahannya, serta menimbulkan kekhawatiran bahwa NASA akan melewati Bulan sepenuhnya dalam agenda eksplorasi angkasa luar.

Meski AS telah lama menyatakan ambisinya untuk menjadi negara pertama yang mengirim manusia ke Mars, realisasi misi tersebut dinilai masih jauh. Perselisihan pada Juni lalu antara Trump dan Musk—yang dikenal sangat mendorong eksplorasi Mars—serta berbagai kepentingan geopolitik mendesak lainnya, dinilai turut memengaruhi perubahan arah ambisi antariksa Trump.