Hujan dan Musim Dingin Memperburuk Krisis Kemanusiaan di Gaza, Seorang Bayi Meninggal Karena Hipotermia

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan awal pekan ini bahwa hampir 850.000 orang berlindung di 761 lokasi pengungsian di Gaza yang sangat rentan terhadap banjir.

Diterbitkan 12 Desember 2025, 14:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Hujan lebat dan cuaca dingin di seluruh Jalur Gaza telah menyebabkan banjir dan memperumit situasi kemanusiaan yang sudah sulit bagi warga Palestina, yang sebagian besar kini tinggal di tenda dan tempat penampungan sementara lainnya setelah dua tahun perang.

Di Khan Younis, Gaza Selatan, keluarga Abu Jazar terbangun pada Kamis (11/12/2025) pagi dan mendapati bayi mereka yang berusia 8 bulan, Rahaf, meninggal karena hipotermia akibat cuaca dingin yang parah.

Sambil menangis dan membelai Rahaf yang tak lagi bernyawa dalam pelukannya, ibu sang bayi, Hejar Abu Jazar, terus meratap dalam keputusasaan. 

"Dia benar-benar baik-baik saja. Saya menyusuinya tadi malam. Lalu tiba-tiba, saya mendapati dia membeku dan menggigil. Anak saya sehat ... sayangku," ratapnya seperti dikutip dari CNN.

Otoritas Kota Gaza memperingatkan penduduk pada Rabu (10/12) untuk menghindari area rendah, dengan mengatakan bahwa hujan dapat kembali membuat ribuan keluarga di tempat penampungan sementara kehilangan tempat tinggal tanpa ada alternatif yang layak.

Mereka juga memperbarui seruannya kepada komunitas internasional serta organisasi kemanusiaan dan bantuan untuk segera turun tangan.

"Banyak area tempat para pengungsi internal berada berada lebih rendah dari permukaan jalan, sehingga air hujan menggenangi area di sekitar maupun di dalam tenda keluarga," kata Haytham Herzallah dari Medical Aid for Palestinians pada Rabu.

Haytham menambahkan, "Situasinya diperburuk oleh luapan limbah, membuat warga terpapar air hujan sekaligus air limbah, sementara mereka tinggal di tempat penampungan yang hampir tidak memberikan perlindungan dari dingin atau air."

"Tidak ada bahan apa pun yang masuk ke Gaza sejak gencatan senjata untuk memperbaiki kondisi hidup. Bahkan beberapa tenda yang sangat sedikit jumlahnya dan telah tiba pun dirancang untuk kondisi gurun — tenda-tenda itu tidak melindungi dari hujan atau memberikan kehangatan."

 

 

 

Tragedi Keempat

Otoritas kesehatan Gaza menggambarkan badai tersebut sebagai tragedi keempat yang menimpa penduduk Gaza, selain pembunuhan, pengungsian, dan terusir tanpa masa depan.

"Setiap badai musim dingin yang melanda Gaza membuat penderitaan warganya semakin parah—bukan hanya karena cuacanya, tetapi karena mereka hidup di rumah yang hancur dan tenda yang robek, tanpa dinding maupun pemanas," kata Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza Muneer al-Bursh. "Dingin dan hujan menjadi ancaman kesehatan langsung di tengah kepadatan penduduk dan kekurangan parah makanan serta obat-obatan."

Hujan terus turun pada Kamis dan Pertahanan Sipil Gaza mencatat seluruh kamp dari utara hingga selatan terendam.

Rekaman CNN dari salah satu kamp di Deir al-Balah, Gaza tengah, menunjukkan puluhan tenda rapuh berdiri di air berlumpur dan di atas tanah yang becek.

Di tenda Um Ibrahim Ubeid yang basah kuyup, ia menggambarkan malam yang berat bagi dirinya dan anak-anaknya.

"Tadi malam sangat sulit," katanya kepada CNN. "Saya menidurkan anak-anak, lalu air mulai menggenangi tenda kami. Kalian bisa merasakan kasurnya—betapa basahnya dan berapa banyak air yang merembes ke dalamnya. Anak-anak lainnya terjaga sepanjang malam, berusaha mengeluarkan air itu."

"Tidak ada kehidupan sama sekali," tambahnya. "Kami tidak punya kehidupan."

Dengan tenda kebanjiran, barang-barang para penghuninya pun ikut terendam. Mahmoud Abu Salah meratapi bahwa sedikit makanan dan tepung yang ia miliki rusak terkena hujan.

"Di mana mereka yang bertanggung jawab atas kami? Mereka tidur nyenyak! Kami hanya punya Tuhan," kata dia.