Serangan Udara Militer Myanmar di Kedai Teh Tewaskan 18 Orang yang Sedang Nonton Sepak Bola

Pihak militer Myanmar belum mengumumkan adanya serangan di wilayah itu.

Diterbitkan 09 Desember 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Naypyidaw - Serangan udara yang dilakukan militer Myanmar pekan lalu menghantam sebuah kedai teh di wilayah Sagaing. Menurut keterangan seorang penduduk setempat dan laporan media daring independen Myanmar pada Senin (8/12/2025), serangan ini menewaskan sedikitnya 18 warga sipil dan melukai 20 lainnya.

Serangan tersebut menjadi bagian terbaru dari rangkaian serangan udara yang kerap terjadi dan sering kali mematikan. Target utamanya adalah kelompok pro-demokrasi bersenjata, sementara negara sedang bersiap menghadapi pemilu yang dijadwalkan berlangsung akhir bulan ini. Banyak dari serangan tersebut juga memakan korban jiwa dari kalangan sipil.

Sejak militer menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021, Myanmar berada dalam situasi kacau. Kudeta memicu penentangan luas dari masyarakat. Ketika aksi protes damai dibubarkan dengan kekerasan mematikan, banyak warga kemudian mengangkat senjata, sehingga konflik menjalar ke banyak wilayah negara.

Serangan terbaru ini terjadi pada 5 Desember, tidak lama setelah pukul 20.00, di Desa Mayakan yang berada di Tabayin. Desa tersebut berjarak sekitar 120 kilometer di barat laut Mandalay—kota terbesar kedua di Myanmar—dan lebih dikenal dengan nama lamanya, Depayin.

Seorang warga yang bergegas ke lokasi untuk membantu para korban mengatakan kepada The Associated Press bahwa seorang anak berusia lima tahun dan dua guru sekolah termasuk di antara korban tewas. Saat itu, puluhan orang sedang berkumpul di kedai teh tersebut untuk menonton turnamen sepak bola Myanmar vs Filipina di televisi.

Di Myanmar, kedai teh memiliki fungsi sosial serupa dengan kedai kopi di negara-negara Barat: tempat orang berkumpul, berbincang, menikmati teh manis, makan, dan tetap terhubung dengan kehidupan komunitas.

Warga tersebut, yang meminta anonim karena takut ditangkap militer, menjelaskan bahwa dua bom yang dijatuhkan jet tempur meledak tak lama setelah sirene peringatan serangan udara berbunyi. Banyak orang di dalam kedai tak sempat mencari perlindungan. Lebih dari 20 rumah di sekitar lokasi juga mengalami kerusakan.

Ia menambahkan bahwa tidak ada pertempuran baru-baru ini di kawasan tersebut, meskipun Sagaing dikenal sebagai daerah kuat perlawanan terhadap rezim militer. Menjelang pemilu 28 Desember, pemerintah militer semakin meningkatkan serangan udara terhadap Pasukan Pertahanan Rakyat pro-demokrasi serta milisi etnis, berupaya merebut kembali wilayah. Pasukan perlawanan tidak memiliki pertahanan menghadapi serangan dari udara.

Setelah pemakaman para korban pada hari Sabtu (6/12), sebagian penduduk memutuskan melarikan diri dari desa. Sementara itu, warga yang tetap tinggal mulai menggali tempat perlindungan bom.

Media daring independen—termasuk Myanmar Now—merilis foto dan video yang diklaim menunjukkan puing-puing dari lokasi serangan udara tersebut.