Pemanfaatan Hutan Berkelanjutan di Kaltim Hasilkan Nilai Ekonomi

Hutan berkelanjutan Kaltim menghasilkan nilai ekonomi Rp 8,1 miliar melalui perhutanan sosial, agroforestri, dan usaha ramah lingkungan.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 02:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Warga hutan Kaltim raih Rp8,1 M dari usaha lestari Januari-Mei 2026.
  • Usaha kehutanan berbasis masyarakat berkontribusi besar pada ekonomi daerah.
  • Inovasi produk dan diversifikasi usaha kunci keberlanjutan ekonomi masyarakat.

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat sekeliling daerah hutan Provinsi Kalimantan Timur berhasil mendapatkan nilai transaksi ekonomi capai Rp 8,1 miliar selama periode Januari-Mei 2026 dari berbagai usaha yang mengutamakan kelestarian dan keberlanjutan lingkungan alam.

"Capaian ini menunjukkan bahwa kegiatan usaha kehutanan berbasis masyarakat telah memberikan kontribusi ekonomi yang nyata bagi anggota kelompok sekaligus mendukung pembangunan ekonomi wilayah sekitar kawasan hutan," ujar Kepala Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM (P2SDM) Wilayah V Elpa Rifadi di Samarinda, melansir Antara, Rabu (1/7/2026).

Dia menjelaskan, nilai transaksi finansial tersebut berhasil dihimpun dari kegiatan produktif kelompok tani hutan di area Kabupaten Berau, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, dan Kota Balikpapan.

Menurut Elpa, sebaran kontribusi perekonomian terbesar disumbangkan oleh Kabupaten Berau yang membukukan perputaran ekonomi mencapai lebih dari Rp 7,87 miliar berkat adanya pengelolaan hasil bumi lokal yang memiliki akses pasar luas.

"Keberhasilan KTH Sei Baruk Lestari dalam menghasilkan miliaran rupiah dari komoditas gubal gaharu membuktikan bahwa pengelolaan hasil hutan bukan kayu tertentu masih menjadi penggerak utama ekonomi kehutanan kita," kata Elpa.

Inovasi Produk Hutan Tingkatkan Nilai Tambah Ekonomi Masyarakat

Selain mengaandalkan komoditas getah dan kulit kayu mentah, masyarakat sekitar rimba kini mulai berinovasi menciptakan nilai tambah tinggi melalui pengembangan produk olahan biomassa, budidaya madu kelulut, hingga sistem pertanian agroforestri kopi.

Menurut Elpa, beberapa kelompok tani hutan di wilayah daerah perkotaan juga dinilai berhasil mengubah paradigma dengan menyulap kawasan konservasi menjadi destinasi jasa wisata alam bernilai finansial yang sangat menguntungkan kas.

"Melihat masih adanya potensi besar yang belum optimal, peningkatan kapasitas usaha dan perluasan kemitraan bisnis akan terus kami dorong supaya pertumbuhan ekonomi kerakyatan menjadi lebih inklusif," tutur dia.

Elpa mengatakan, nilai ekonomi dari perhutanan sosial ini tidak terlepas dari peran aktif para tenaga penyuluh yang mendampingi petani dalam mengakses jejaring pemasaran serta menata sistem pencatatan administrasi.

Peningkatan berbagai aktivitas komersial tersebut kini turut menumbuhkan rasa percaya diri pada keanggotaan guna memperkuat partisipasi masyarakat kolektif demi menjaga keseimbangan ekosistem alam hayati.

"Sebagai langkah antisipasi ke depannya, strategi diversifikasi usaha tetap dijadikan landasan penting agar masyarakat pedalaman terhindar dari ketergantungan fatal terhadap satu jenis produk komoditas unggulan," jelas Elpa.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6