Liputan6.com, Ramallah - Musim panen zaitun telah dimulai di Tepi Barat yang diduduki Israel — namun bersamanya datang pula gelombang serangan yang terus-menerus dari para pemukim Israel terhadap warga Palestina dan pohon-pohon mereka.
Menurut Kantor HAM PBB, sepanjang paruh pertama tahun 2025 tercatat 757 serangan oleh pemukim yang menyebabkan korban luka atau kerusakan properti. Warga Palestina menjadi sasaran, kebun zaitun dihancurkan, dan hasil panen dirusak — memicu kecaman dari para pejabat HAM PBB serta kutukan internasional.
Sementara itu di Gaza, yang dahulu memiliki industri zaitun sendiri, hampir seluruh lahan pertanian hancur akibat serangan militer Israel selama dua tahun terakhir yang menewaskan lebih dari 68.000 warga Palestina.
Advertisement
Makna Zaitun bagi Palestina
Budidaya tanaman zaitun, yang merupakan bentuk pertanian paling luas di Palestina, telah berlangsung selama ribuan tahun sejak masa peradaban kuno di sekitar Laut Tengah. Bagi bangsa Yunani kuno, cabang zaitun melambangkan perdamaian.
Selama berabad-abad, zaitun di Palestina dimanfaatkan untuk makanan, kosmetik, sabun, obat, hingga bahan bakar, sementara kayunya digunakan untuk membangun rumah dan perabot.
Pada masa kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah selama empat abad hingga 1917, produksi zaitun meningkat pesat dan menjadi komoditas ekspor utama.
Kini, sekitar setengah dari seluruh lahan pertanian di wilayah Palestina yang diduduki digunakan untuk menanam zaitun. Dalam tahun-tahun baik, ekspor zaitun menyumbang hampir USD 200 juta bagi perekonomian Palestina. , Menurut data PBB, sekitar 100.000 keluarga di Tepi Barat bergantung pada penghasilan dari panen ini, termasuk 15 persen perempuan pekerja.
Namun, bagi banyak orang Palestina, makna pohon zaitun melampaui nilai ekonomi semata.
"Ini bukan sekadar pohon. Ini warisan leluhur kami, dan wasiat mereka adalah agar kami melindunginya," tutur Mohammed Abu al-Rabb, petani zaitun dari Desa Jablun dekat Jenin seperti dikutip Middle East Eye.
Pohon zaitun juga melambangkan sumud, konsep keteguhan dan ketahanan rakyat Palestina dalam menghadapi penindasan — semangat yang bahkan memberi nama pada armada bantuan menuju Gaza baru-baru ini.
Apa yang Terjadi pada Petani di Tepi Barat?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4620997/original/007597600_1698057802-20231023-Panen_Buah_Zaitun-AFP_4.jpg)
Pertanian Palestina, termasuk kebun-kebun zaitun, telah lama menjadi sasaran serangan kelompok pemukim Zionis sejak masa Mandat Inggris — periode kekuasaan Britania Raya atas Palestina sebelum berdirinya Israel.
Kini, sekitar 700.000 pemukim Israel tinggal di 150 pemukiman dan 200 pos ilegal di Tepi Barat. Semua bentuk permukiman itu melanggar hukum internasional, sementara permukiman liar yang bahkan ilegal menurut hukum Israel, tetapi tetap dibiarkan beroperasi dengan impunitas.
Sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, kekerasan terhadap petani Palestina sudah meningkat. Pada 2020, hampir 40 persen petani zaitun Palestina melaporkan tanaman mereka dicuri atau dirusak oleh pemukim. Banyak juga yang diintimidasi atau diserang selama musim panen.
Militer Israel, yang menguasai keamanan di Tepi Barat, sering tidak bertindak untuk melindungi para petani.
Setelah 7 Oktober, kekerasan melonjak tajam. Laporan menunjukkan puluhan kasus pembakaran tanaman dan serangan fisik terhadap petani Palestina. Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), dalam setidaknya 38 insiden, saksi mata melaporkan militer Israel ikut membantu para penyerang.
Pada Agustus 2025, militer Israel menghancurkan 10.000 pohon zaitun di desa Al Mughayyir selama pengepungan tiga hari, sebagai "pembalasan" atas dugaan serangan terhadap seorang pemukim. Beberapa pohon yang dicabut berusia lebih dari seratus tahun.
Mayor Jenderal Avi Bluth menyatakan bahwa tindakan itu dimaksudkan sebagai "peringatan".
"Setiap desa harus tahu bahwa jika mereka menyerang, mereka akan membayar mahal," ujarnya.
Selain kekerasan langsung, Israel juga membatasi akses warga Palestina ke lahan mereka, sering kali hanya memberi waktu beberapa hari untuk memanen lahan yang seharusnya membutuhkan berminggu-minggu. Akibatnya, menurut Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB, sekitar 20 persen hasil panen zaitun terbuang pada 2023, dengan kerugian mencapai USD 10 juta.
Pada 2024, jumlah serangan pemukim meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, termasuk tragedi ditembak matinya Hanan Abu Salami, seorang perempuan Palestina berusia 59 tahun di Jenin. Penyelidikan Dewan HAM PBB memastikan bahwa ia tidak menimbulkan ancaman apa pun dan ditembak tanpa peringatan.
Advertisement
Mengapa Pemukim Yahudi Menyerang Pohon Zaitun?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4620995/original/040664000_1698057800-20231023-Panen_Buah_Zaitun-AFP_2.jpg)
Serangan terhadap pohon zaitun merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk menghancurkan kehidupan Palestina di Tepi Barat.
Tujuannya adalah memiskinkan warga Palestina dan mengusir mereka dari tanahnya melalui intimidasi dan kekerasan. Tindakan lain termasuk menutup sumur air, membunuh ternak, serta menghancurkan rumah-rumah.
Pemerintahan sayap kanan Benjamin Netanyahu terus memperluas permukiman dan secara terbuka menyatakan niat untuk menganeksasi Tepi Barat, dengan rancangan undang-undang awal yang telah disetujui pada Oktober 2025.
Kondisi Pohon Zaitun di Gaza
Di Gaza, perang telah menghancurkan 1,1 juta pohon zaitun. Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada Agustus 2025 menemukan bahwa 98,5 persen lahan pertanian rusak atau tidak dapat diakses akibat serangan udara Israel.
Laporan sistem pemantau kelaparan global IPC menunjukkan bahwa lebih dari setengah juta orang di Gaza kini menghadapi kelaparan. Sebagian besar pohon zaitun yang tersisa tidak pernah lagi diairi atau dipupuk sejak awal perang, sementara FAO melaporkan bahwa 86 persen sumur pertanian Gaza telah hancur.
Lembaga HAM Al Mezan menuduh Israel melakukan "ekosida" — penghancuran sistematis lingkungan — dan memperingatkan bahwa Gaza berisiko menjadi tidak layak huni sepenuhnya.
"Zat beracun bisa meresap ke tanah dan air, mencemari rantai makanan serta membahayakan kesehatan manusia,” tulis laporan mereka.
Selain kebun, pabrik dan alat pemeras minyak zaitun di Gaza juga dihancurkan. Blokade yang telah berlangsung selama puluhan tahun membuat ekspor zaitun terhenti total dalam dua tahun terakhir.
Tahun 2025 menjadi musim panen ketiga yang terlewatkan di Gaza. Banyak warga kini menebang pohon zaitun mati untuk dijadikan kayu bakar, di tengah kekurangan bahan bakar berkepanjangan.
Reaksi Internasional
Organisasi HAM dunia dan lembaga PBB terus memperingatkan bahaya terhadap petani Palestina.
Amnesty International pada Mei 2025 mengecam penghancuran wilayah Khuza’a di Khan Younis, Gaza, yang mencakup lahan pertanian paling subur.
"Penghancuran lahan yang menjadi sumber pangan harus dilihat sebagai bagian dari penggunaan kelaparan sebagai senjata perang oleh Israel," tegas Amnesty.
Ajith Sunghay, kepala Kantor HAM PBB di Palestina, juga memperingatkan meningkatnya ancaman terhadap petani Tepi Barat pada musim panen tahun ini dengan mengatakan, "Dalam dua minggu pertama musim panen, kami sudah menyaksikan serangan berat oleh pemukim bersenjata terhadap laki-laki, perempuan, anak-anak, dan relawan asing."
Ia menegaskan bahwa kekerasan ini terjadi dengan restu dan bahkan partisipasi pasukan Israel, serta selalu tanpa hukuman.
Sunghay menutup pernyataannya dengan menegaskan makna mendalam zaitun bagi rakyat Palestina — sebagai lambang penghidupan, garis keturunan, ketahanan, dan ekonomi.
"Serangan terhadap musim panen zaitun hanyalah salah satu dari sekian banyak agresi yang bertujuan memutus hubungan rakyat dengan tanahnya, menganeksasi wilayah, dan menggusur warga Palestina," sebut Sunghay.
"Dan ya," tambahnya, "semuanya berawal dari zaitun."
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5566966/original/026954400_1777262107-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-27T105347.703.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4012159/original/035865800_1651313935-20220430-_Gerbang_Tol_Cikampek-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2932335/original/052468300_1570429212-20191006-Musim-Panen-Zaitun-di-Palestina-AFP-11.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4368162/original/067214800_1679529277-230321-bezalel-smotrich-jm-1137-ebcd75.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316057/original/026602800_1785911235-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1679084/original/064714700_1502716829-20170814-Retno-Marsudi-CMS-GM5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6999442/original/008573700_1779769933-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6503692/original/080823200_1779360658-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7754435/original/022027800_1780563225-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311791/original/038100100_1785460791-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307819/original/072063400_1785109384-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303647/original/089361500_1784684038-Untitled.jpg)