Presiden Brasil Terguncang oleh Operasi Anti Narkoba Mematikan di Rio de Janeiro, 132 Orang Tewas

Presiden Brasil dan gubernur Rio de Janeiro berasal dari dua kubu politik berbeda. Lula berasal dari sayap kiri, sementara Castro di spektrum politik kanan.

Diterbitkan 30 Oktober 2025, 12:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Brasilia - Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva disebut ngeri atas banyaknya korban jiwa dalam penggerebekan terhadap jaringan narkoba Red Command dalam operasi gabungan polisi dan tentara di Kota Rio de Janeiro pada Selasa (28/10/2025).

Operasi berlangsung di kawasan kumuh Alemao dan Penha, di wilayah utara kota, dan menjadi salah satu yang paling mematikan dalam sejarah Rio de Janeiro.

Menurut pernyataan menteri kehakiman Brasil, Presiden Lula juga merasa terkejut karena pemerintah federal tidak diberi tahu sebelumnya mengenai operasi besar itu. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap tingginya angka kematian dan meminta klarifikasi resmi dari pihak berwenang di tingkat negara bagian.

Jumlah korban tewas dalam penggerebekan itu meningkat tajam setelah Kantor Pembela Umum, lembaga yang memberikan bantuan hukum bagi warga miskin, mengumumkan bahwa 132 orang tewas. Angka ini lebih dari dua kali lipat dari laporan awal yang menyebutkan 64 korban jiwa. Pengumuman tersebut disampaikan pada Rabu (29/10) pagi, setelah warga yang berduka membawa puluhan jenazah ke sebuah alun-alun di Penha dan meletakkannya berjajar sebagai bentuk protes atas skala kekerasan yang terjadi.

Menanggapi data baru itu, Gubernur Negara Bagian Rio de Janeiro Claudio Castro mengatakan bahwa proses forensik masih berlangsung dan angka resmi yang diterimanya tetap 58 korban, meskipun pasti akan berubah.

"Sejujurnya, konflik itu tidak terjadi di area permukiman, semuanya terjadi di hutan. Jadi saya tidak percaya ada orang yang hanya berjalan-jalan di hutan pada hari ketika terjadi bentrokan. Karena itu, kami bisa dengan mudah mengklasifikasikan mereka demikian," ujar Castro seperti dikutip dari BBC.

Menurut laporan media Brasil, banyak dari jenazah ditemukan di lereng bukit tempat bentrokan paling sengit terjadi. Warga menggambarkan suasana pada hari itu seperti sedang berada di medan perang, dengan baku tembak antara pasukan keamanan dan kelompok bersenjata, serta bus yang dibakar untuk membentuk barikade.  Polisi menyatakan bahwa anggota geng menggunakan drone untuk menjatuhkan bahan peledak ke arah petugas yang bergerak menyisir kawasan tersebut.

 

 

Hari Bersejarah

Gubernur Castro menjelaskan bahwa operasi itu telah direncanakan selama dua bulan dan didasarkan pada hasil penyelidikan terhadap aktivitas kelompok Red Command, jaringan narkoba besar yang menguasai wilayah itu. Dalam operasi tersebut, empat polisi tewas, dan di antara para tersangka yang ditangkap terdapat seorang bandar narkoba yang disebut sebagai pemimpin kelompok itu.

Castro menyebut hari penggerebekan itu sebagai hari bersejarah bagi aparat keamanan yang, menurutnya, telah menghadapi kejahatan terorganisir.

Sementara itu, bahkan sebelum jumlah korban diumumkan meningkat, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) telah menyatakan kengerian atas operasi yang menimbulkan begitu banyak korban jiwa.

Menurut Rafael Soares, jurnalis kriminal Brasil, kelompok Red Command dalam beberapa tahun terakhir kembali memperluas wilayah kekuasaannya setelah sebelumnya kehilangan pengaruh terhadap kelompok saingannya, First Capital Command (PCC). Ia menilai bahwa operasi ini merupakan bagian dari upaya Gubernur Castro untuk meninggalkan jejak politik dan menunjukkan ketegasan dalam memberantas kejahatan menjelang pemilihan tahun depan.

Operasi besar itu terjadi hanya beberapa hari sebelum Rio de Janeiro menjadi tuan rumah C40 World Mayors Summit, pertemuan hampir 100 wali kota dari berbagai kota besar dunia, serta Earthshot Prize, penghargaan lingkungan yang akan diserahkan oleh Pangeran William pada 5 November mendatang.

Kepala Keamanan Publik Rio de Janeiro Victor Santos mengatakan bahwa sekitar 280.000 orang tinggal di kawasan yang menjadi lokasi operasi. Ia menyebut, "Ini adalah perang yang sedang kita saksikan di Rio de Janeiro. Puluhan tahun tanpa tindakan nyata dari semua lembaga — kota, negara bagian, dan federal — telah memungkinkan kejahatan berkembang di wilayah kita."

Meskipun penggerebekan berskala besar bukan hal langka di Rio de Janeiro, jumlah korban jiwa dalam operasi pada Selasa dinilai luar biasa. Soares menjelaskan bahwa operasi kepolisian yang menewaskan lebih dari 20 orang sangat jarang terjadi di Brasil dan ketika hal itu terjadi, sebagian besarnya memang berlangsung di Rio de Janeiro.