Liputan6.com, Washington, DC - Sekitar 300 warga Korea Selatan (Korsel)Â yang ditahan dalam operasi imigrasi di Amerika Serikat (AS) kemungkinan bisa dipulangkan dengan pesawat carteran pada Rabu (10/9/2025) waktu Washington. Kantor Kepresidenan Korea Selatan menegaskan negosiasi pembebasan mereka telah rampung.
Konsul Jenderal di Kedutaan Besar Korea Selatan di Washington, Cho Ki-joong, menyampaikan hal tersebut dalam jumpa pers di sebuah pusat penahanan di Folkston, Georgia, setelah penggerebekan pada Kamis (4/9) di lokasi pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik yang dioperasikan oleh usaha patungan Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution di Bryan County.
"(Kami) berpikir bahwa sekitar Rabu, (mereka mungkin bisa menaiki pesawat)," kata Cho di Pusat Proses Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) Folkston, seperti dilansir kantor berita Yonhap.
Advertisement
Begitu warga Korea Selatan dibebaskan, mereka diperkirakan akan dipindahkan ke Bandara Internasional Jacksonville di Florida, sekitar 50 menit perjalanan dengan bus dari fasilitas Folkston.
"Dalam diskusi teknis kami mengenai pengoperasian pesawat carteran, bandara terdekat adalah Bandara Internasional Jacksonville," ujar Cho.
Para diplomat dari Konsulat Jenderal Korea Selatan di Atlanta bersama perwakilan misi lainnya telah mengunjungi warga Korea Selatan yang ditahan.
"Saya bertemu mereka di ruang makan tempat mereka berkumpul," beber Cho. "Mereka semua baik-baik saja. Tentu saja, mereka tidak senyaman ketika berada di rumah."
Dia menekankan bahwa pemerintah melakukan upaya terbaik untuk memastikan warga yang ingin pulang bisa kembali ke Korea Selatan secepat mungkin.
Dukungan Trump
Pada Minggu (7/9), Kantor Kepresidenan Korea Selatan juga menyampaikan bahwa segera setelah prosedur administratif dibereskan, sebuah pesawat carteran akan dikirim ke AS untuk membawa warga Korea Selatan pulang.
Dalam penggerebekan tersebut, 475 orang, termasuk sekitar 300 warga Korea Selatan, ditangkap. ICE mengatakan mereka ditemukan bekerja secara ilegal di AS, termasuk mereka yang menggunakan visa jangka pendek atau visa rekreasi yang melarang bekerja.
Pejabat AS menyebut penggerebekan yang berlangsung pekan lalu ini sebagai operasi penegakan hukum terbesar di satu lokasi dalam sejarah Investigasi Keamanan Dalam Negeri (HSI).
Presiden Donald Trump pada Jumat (5/9) menyatakan dukungannya terhadap operasi ICE itu, menyebut orang-orang yang ditahan sebagai imigran ilegal.
ICE merilis cuplikan video singkat penggerebekan di lokasi pabrik, yang memperlihatkan para pekerja Korea Selatan maupun pekerja asing lainnya diperiksa, diborgol dengan tangan dan rantai logam, lalu dibawa menggunakan kendaraan transportasi tahanan.
Tayangan tersebut memicu kemarahan sekaligus kecemasan di Korea Selatan, dengan sejumlah pihak mempertanyakan dampak penggerebekan itu terhadap aktivitas investasi perusahaan Korea Selatan di Negeri Paman Sam.
Advertisement
WNI Ikut Ditangkap
Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) juga ikut ditangkap dalam operasi yang sama. Hal ini dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI).
"Dari ratusan yang ditangkap, terdapat satu WNI atas nama CHT," demikian pernyataan Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Judha Nugraha.
"CHT adalah satu dari tiga pegawai PT. HLI Green Power yang sedang melakukan pertemuan dengan Hyundai. CHT memiliki rencana business trip selama satu bulan di AS dan dilengkapi dengan dokumen paspor, visa, dan undangan dari perusahaan."
Judha menambahkan, "KJRI Houston telah berkomunikasi dengan Folkston ICE Processing Center, GA, tempat CHT ditahan. KJRI juga telah berkomunikasi rekan kerja CHT dan Hyundai Mega Site Battery Plant."
"Belum terdapat info lebih detail dari pihak ICE. KJRI akan memberikan pendampingan kekonsuleran untuk CHT."
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/535776/original/009019900_1469705798-share.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5340888/original/044114700_1757294574-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1384773/original/024567600_1477395058-Donald_Trump.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409526/original/062736400_1479454522-Korea_Selatan.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412168/original/032906400_1479724398-Indonesia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593999/original/023505700_1782562806-ekuador.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776135/original/014006000_1782843284-063_2284049459.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776134/original/059322300_1782843171-000_B8UA24W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3299157/original/094356500_1605660408-AP20322768020969.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8505254/original/095572100_1782426499-063_2283328466.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710453/original/039368100_1782790641-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8378845/original/006458400_1782257129-England_s_Harry_Kane.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4166753/original/096704000_1663802133-Harga_Minyak_Dunia_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2849790/original/043609100_1562754392-20190710-Rupiah-Stagnan-Terhadap-Dolar-AS3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715568/original/030962100_1782809839-IMG_0030.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540889/original/074569200_1774841000-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4721215/original/050847100_1705711212-fotor-ai-2024012073921.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8689478/original/041298400_1782749054-WhatsApp_Image_2026-06-29_at_21.01.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3181744/original/039116300_1594892567-20200716-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5004749/original/093594200_1731553174-20241114-Trump_Bertemu_Biden-AFP_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740420/original/059441100_1707701782-fotor-ai-2024021283456.jpg)