Polisi Pakistan Bongkar Sindikat Perdagangan Organ Ilegal, Rumah Mewah Jadi Lokasi Operasi Gelap

Bagaimana sindikat perdagangan organ ilegal ini bisa terkuak?

Diperbarui 26 Agustus 2025, 19:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Islamabad - Pemandangan mengejutkan tersaji di sebuah rumah mewah di kawasan elit Bahria Town, Rawalpindi. Seorang pemuda ditemukan terikat di tandu, nyaris menjadi korban operasi pengangkatan ginjal ilegal. Insiden ini menjadi bukti nyata bahwa pada 2025, praktik perdagangan organ di Pakistan masih marak, bahkan dilakukan secara terang-terangan.

Penggerebekan tersebut adalah yang kedua dalam sepekan terakhir, memperlihatkan betapa luas dan berani jaringan perdagangan organ beroperasi di negara itu, dikutip dari laman Islamkhabar, Selasa (26/7/2025).

Ironisnya, semua ini terjadi meski Pakistan telah memiliki Undang-Undang Transplantasi Organ dan Jaringan Manusia (THOTA) sejak 15 tahun lalu—aturan yang semestinya melindungi masyarakat miskin dari eksploitasi dan mengatur praktik transplantasi secara ketat.

Di atas kertas, THOTA melarang jual beli organ dan mengharuskan setiap transplantasi dilakukan secara sukarela dengan pengawasan resmi. Namun kenyataannya, hukum ini seakan tidak bertaji. Jaringan perdagangan organ beroperasi di balik tembok rumah-rumah mewah, lengkap dengan ruang operasi, perlengkapan anestesi, hingga tenaga medis berlisensi.

Keterlibatan para profesional kesehatan—dokter, perawat, hingga ahli anestesi—menjadi aspek paling mengejutkan. Mereka yang seharusnya menyelamatkan nyawa justru menjadi bagian dari bisnis gelap ini. Fenomena ini menunjukkan lemahnya pengawasan otoritas kesehatan dan regulator, baik di tingkat provinsi maupun federal.

Pengawasan Lemah, Polisi Hanya Reaktif

Secara teori, Otoritas Transplantasi Organ Manusia (HOTA) bertugas mengawasi, menyelidiki, dan mencegah praktik ilegal ini. Namun kinerjanya kerap dipertanyakan. Inspeksi hanya formalitas, investigasi jarang dilakukan, dan pencegahan hampir tak pernah terjadi.

Polisi pun tampak lebih sering bereaksi setelah kejadian ketimbang mencegah. Kasus Bahria Town, misalnya, baru terungkap saat korban sudah hampir menjalani operasi, bukan karena intelijen atau investigasi yang matang. Situasi ini memberi ruang bagi para pelaku untuk merasa aman dan semakin berani.

 

Eksploitasi Kaum Rentan

Di balik industri gelap ini, korban utamanya adalah masyarakat miskin dan putus asa. Banyak dari mereka dijebak dengan iming-iming uang atau ditekan untuk menyerahkan organ. Begitu terjerat, mereka tak punya kuasa menghadapi jaringan kriminal yang didukung oleh tenaga medis dan dilindungi oleh lemahnya hukum.

Lebih ironis lagi, tempat kejadian seperti Bahria Town—simbol kemewahan dan keamanan—justru dipakai sebagai markas operasi gelap. Fakta bahwa rumah mewah bisa disulap menjadi ruang operasi ilegal menunjukkan betapa seriusnya kelalaian aparat dan regulator.

 

Kian Terjadi

Perdagangan organ ilegal bukan sekadar tindak kriminal, melainkan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. Setiap korban kehilangan otonomi atas tubuhnya, martabatnya, bahkan nyawanya.

Dua penggerebekan di Rawalpindi dalam waktu seminggu cukup untuk membuktikan bahwa ini bukan kasus terisolasi, melainkan gejala masalah struktural: korupsi, lemahnya penegakan hukum, dan ketidakpedulian sistemik.

Hukum ada, tetapi hanya di atas kertas. Regulator ada, tetapi lumpuh. Penegak hukum bertindak, tapi hanya setelah kebetulan menemukan kasus. Dan tenaga medis yang seharusnya melindungi kehidupan malah memperdagangkannya.

Pada akhirnya, maraknya industri perdagangan organ di Pakistan menjadi dakwaan keras atas kegagalan institusi negara. Di tahun 2025, yang seharusnya tak terbayangkan justru telah menjadi rutinitas.